Aku duduk di kursi rumah sakit itu, dengan jantungku berdetak kencang tak karuan. Selendang merah masih tergenggam di tanganku, seperti bukti kejahatan yang berdenyut di telapak tangan. Dira menatapku ragu, wajahnya pucat, bibirnya bergetar."Dira." Suaraku terdengar rendah, tapi penuh tekanan. "Aku butuh jawaban sekarang. Siapa yang kasih kamu selendang merah ini? Siapa yang bikin semua permainan busuk ini?"Dia menelan ludah, menunduk, seolah sedang menimbang hidup dan mati."Mas Panji, tapi ... Tapi aku takut.""Aku janji akan melindungi kamu. Lagipula kalau kamu terus diem, kamu nggak cuma nyakitin aku, tapi juga diri kamu sendiri. Kamu bilang kamu menyesal dan mau minta maaf, kan? Sekarang saatnya kamu buktiin itu."Dira menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Aku bisa lihat jari-jarinya gemetar saat memegang selimut rumah sakit itu."Semua ini ... aku ... Aku disuruh sama Bowo, temanmu itu," bisiknya akhirnya.Darahku mendidih. Aku tertegun beb
Last Updated : 2025-12-22 Read more