LOGIN"Panji, daripada lo stress mikir nasib setelah di PHK, mendingan kita main aplikasi kencan saja," usul Bowo, salah satu rekan kerjaku. Kami sama-sama tertekan karena baru saja di PHK, akibat perusahaan mengalami gulung tikar. Awalnya aku tak tertarik dengan ajakan Bowo. Tapi setelah dia menunjukkan foto-foto wanita cantik dan seksi di aplikasi booking online itu, hatiku pun tergiur untuk ikut dengannya. Ah, mau coba sebentar juga tak apa-apa. Lagipula istriku Shira juga tak bisa memuaskan aku. Dia sangat kusam, kucel, dan berantakan. Setiap aku pulang kerja, aku selalu disambut dengan penampilannya yang berdaster kumal, rambut diikat sembarangan, dan wajah yang berminyak ditumbuhi jerawat. Penampilannya itu membuat aku sama sekali tak tertarik padanya lagi. Aku pun tertarik untuk membooking satu wanita. Lumayan untuk menemani aku tidur, karena aku juga butuh service yang memuaskan. Dan aku rasa ini cara yang cocok. Toh aku hanya tinggal membayar dan pergi, tanpa menyisakan apapun pada wanita yang menjajakan diri di aplikasi haram itu. Kumulai dengan menscroll aplikasi hijau itu di layar ponselku. Hingga akhirnya aku tertarik pada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi bernama Dira. Aku memutuskan untuk membooking nya. Namun, mataku menyipit saat kutatap foto itu dengan seksama. Ada rasa aneh yang merayap dalam hatiku ketika melihat foto wanita bernama Dira itu. "Kenapa foto ini sangat mirip dengan Shira?"
View More"Panji, daripada pusing dan stres mikirin nasib kita yang habis kena PHK, mending kita main aplikasi MiChat aja. Wanita di sana cantik-cantik dan seksi-seksi," kata Bowo, rekan kerjaku itu sambil tersenyum miring.
Aku duduk diam di pojokan kafe, menatap cangkir kopi hitam yang sudah setengah dingin. Bowo duduk di seberangku, santai seperti biasanya. Kafe kecil ini biasanya tempat kami melepas penat setelah kerja, tapi hari ini suasananya berbeda. Ada keheningan yang menggantung di udara, seperti beban tak terlihat yang tak terucapkan. PHK massal yang baru saja kami alami masih menghantui pikiranku. Perusahaan tempat kami bekerja selama bertahun-tahun gulung tikar, dan kami serta para karyawan yang lain pun ditinggalkan tanpa harapan. Bowo menyeruput kopinya pelan, tampak tenang meski aku tahu dia sama frustrasinya denganku. Dia menghela napas panjang sebelum berbicara, memecah kesunyian. Aku memandang Bowo, menelusuri wajahnya yang tampak santai, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara yang menurutku sia-sia. Aku menggeleng pelan. "Sorry, bro. Tapi gue nggak berminat," jawabku singkat sambil meletakkan cangkir kopiku yang hampir habis. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku sampai terlibat dalam hal semacam itu, apalagi dengan Shira, istriku, yang selalu menunggu di rumah. Bowo menatapku sejenak, lalu mengangkat bahunya, tak peduli. "Ya udah, terserah lo. Yang penting, gue nggak mau terus-terusan terjebak mikirin nasib buruk ini," ujarnya dengan nada acuh. Dia mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan layar, tenggelam dalam dunianya sendiri. Kini aku hanya bisa menghela napas pelan, merasa bahwa ada jurang yang semakin lebar antara aku dan Bowo. Dia bisa berlarut-larut dalam pelarian yang dangkal, sementara aku tak bisa begitu saja melupakan kenyataan pahit ini. Shira dan masa depan kami terus menghantui pikiranku. Bowo masih bujangan dan bisa bebas menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita. Berbeda denganku yang sudah terikat dalam pernikahan dengan istriku. Aku berdiri, meraih jaket yang kusampirkan di sandaran kursi. "Gue balik dulu, ya. Lo hati-hati di jalan," ucapku. Bowo hanya melambai singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Keluar dari kafe, aku merasakan angin malam yang sejuk menyambutku, tapi tak cukup untuk mendinginkan kekhawatiranku. Jalanan di depan sepi, lampu-lampu jalan menyinari aspal yang basah setelah hujan sore tadi. Kaki-kakiku melangkah lambat, berat oleh beban pikiran yang tak kunjung hilang. Shira... Apa yang akan kukatakan padanya nanti? Aku tahu dia kuat, tapi aku tetap tak ingin mengecewakannya. Aku ingin menjadi suami yang bisa diandalkan, tapi sekarang, tanpa pekerjaan, rasanya masa depan kami begitu suram. Langkahku terhenti sejenak di depan toko kecil yang sudah tutup. Aku merogoh saku, memeriksa ponselku, tapi tak ada pesan dari Shira. Biasanya, dia akan menanyakan kapan aku pulang. Aku menghela napas sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan yang gelap dan sepi seperti cerminan dari suasana hatiku yang gelap, penuh keraguan, dan ketidakpastian. Aku hanya bisa berharap, entah bagaimana, segalanya akan membaik. Kini aku pun cepat-cepat mengendarai motorku menuju ke rumah, dimana aku yakin bahwa saat ini Shira pasti sedang menungguku. --- Saat aku tiba di rumah, Shira menyambutku di depan pintu, seperti biasanya. Dia mengenakan daster usangnya, daster yang sudah berulang kali kulihat dan, sejujurnya, mulai membuatku bosan. Rambutnya diikat asal, wajahnya kusam dan berminyak, dengan beberapa jerawat yang menonjol. Tak ada sedikit pun riasan di wajahnya. Aku berusaha tersenyum, tapi dalam hati, ada rasa kecewa yang tak bisa kutahan. "Mas, capek ya?" tanya Shira lembut, sambil membantuku melepas sepatu dan dasi. Dia selalu seperti ini, perhatian dan melayani. Tapi, di saat seperti ini, aku merasa ada yang kurang. Mungkin karena dulu dia selalu tampil menarik, tapi kini... aku bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia dandan. "Nggak apa-apa kok," jawabku pendek. Aku tidak mau membebani Shira dengan masalahku. Dia sudah cukup baik, tapi perasaan tak nyaman ini terus mengganggu. Shira masuk ke dapur, menyiapkan kopi dan makanan untukku. Aku duduk di ruang tamu, menatap meja dengan pikiran melayang. Dia memang istri yang baik, selalu memanjakanku dengan perhatian yang penuh. Tapi entah kenapa, aku merasa tidak lagi tertarik padanya seperti dulu. Dia datang dengan secangkir kopi hangat, menyodorkannya padaku sambil tersenyum. "Mas, kalau ada yang mau dibicarakan, Shira siap dengerin, kok," ujarnya, mencoba memahami kegelisahan yang mungkin terlihat di wajahku. Aku hanya menggeleng. "Nggak ada apa-apa," kataku sambil meminum kopi. Dalam hatiku, aku tahu aku berbohong. Ada sesuatu yang sangat mengganggu, tapi aku tak ingin Shira tahu. --- Malam itu, rumah terasa sunyi setelah makan malam yang tak lebih dari rutinitas bisu. Shira langsung masuk ke kamar setelah membersihkan meja. Biasanya, ia akan duduk di ruang tamu, menemani sejenak sebelum kami tidur, tetapi malam ini berbeda. Aku tahu, ada yang salah dalam hubungan kami, tetapi aku juga merasa terlalu lelah untuk memikirkan solusinya. Aku duduk di sofa ruang tamu, ponsel di tangan, memainkan layar tanpa tujuan. Pikiran tentang PHK di kantor, ketidakpastian masa depan, dan kehampaan dalam pernikahanku bercampur menjadi satu. Rasanya segalanya mulai membebani. Ting! Layar ponselku bergetar, menandakan pesan masuk. Ternyata dari Bowo. Aku membuka pesan itu tanpa ekspektasi, tetapi yang kulihat membuatku tertegun sejenak. Foto-foto wanita dengan pose sensual terpampang di layarku. Wanita-wanita dengan tubuh yang menawan, senyum menggoda, dan mata penuh pesona. Semua itu dikirimkan Bowo melalui MiChat, aplikasi yang baru-baru ini ia rekomendasikan. "Gila, cakep-cakep amat," gumamku, setengah terkejut dan setengah tertarik. Ada dorongan halus dalam diriku, perasaan yang sudah lama tak kurasakan. Seolah godaan merasukiku perlahan. Wanita-wanita itu berbeda jauh dari Shira-istriku yang semakin hari semakin tampak kusam di mataku. Bukannya Shira tak cantik, tapi sekarang dia lebih sering sibuk dengan rutinitas rumah tangga, membuatnya terlihat letih dan tanpa kilauan yang dulu pernah memikatku. Aku menelan ludah, merasakan denyut kecil di dada yang memicu rasa ingin tahu. "Ah, sekali-kali nggak apa-apa," bisikku, mencoba meyakinkan diri. "Lagipula, Shira udah nggak menarik lagi," gumamku, setengah bersalah. Aku melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, memastikan Shira sudah tertidur. Lalu, tanpa berpikir panjang, jariku menari di layar, mengunduh aplikasi MiChat. Hanya butuh beberapa menit sebelum aku tenggelam dalam profil demi profil wanita cantik yang muncul di aplikasinya. Mereka tampak sempurna, jauh dari sosok Shira yang kini terasa semakin asing bagiku. Setelah beberapa saat, pandanganku tertumbuk pada satu profil yang menarik perhatian. Dira. Wanita ini memiliki kecantikan yang nyaris tak terbayangkan, dengan senyum yang menggoda dan tubuh yang proporsional. Dada besarnya terlihat jelas dari foto-foto yang ia unggah, membuat pikiranku berkelana lebih jauh. Persis seperti yang Bowo katakan, wanita seperti ini tampaknya bisa menawarkan pelarian dari semua masalahku. Aku ragu sejenak, tapi kemudian mengirim pesan padanya. "Hai, apa kabar?" Pesan sederhana, tapi penuh harapan. Tak ada balasan. Namun, aku tak berhenti di sana. Aku terus menelusuri foto-fotonya, memperhatikan setiap detail. Namun, semakin aku melihatnya, semakin ada sesuatu yang terasa aneh. Aku memperbesar salah satu fotonya. Rambut hitam panjang, senyum lebar, dan bentuk wajahnya .... "Tunggu... kenapa wanita ini mirip banget dengan Shira?" bisikku, nyaris tak percaya.Rega mengangkat pistol lebih tinggi. Tangannya sedikit gemetar, tetapi sorot matanya justru semakin tajam. Pandangannya terkunci pada Shira, seolah hanya ada satu target di dunia itu.“Oke, perempuan dulu,” gumamnya dingin, nyaris tanpa emosi.“Aaaa!" Shira menjerit. Tubuhnya refleks mundur selangkah, kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Ketakutan membuat napasnya tercekat. Namun sebelum ia sempat bersembunyi atau berlari, Panji bergerak lebih cepat.Ia melepaskan pelukan Shira dan melangkah ke depan, berdiri tepat di antara moncong pistol dan tubuh istrinya. Tubuhnya tegap, meski wajahnya pucat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya.“Jangan!” teriak Shira sambil menarik lengan Panji dengan panik. “Mas Panji, jangan! Tolong jangan!”Panji menoleh sebentar ke arah Shira. Di tengah kekacauan, matanya justru terlihat tenang. Ada keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Senyumnya tipis, rapuh, tetapi penuh keyakinan.“Aku janji jaga kamu,” katanya lirih, seolah dunia di sekeliling mer
Panji berdiri kaku. Suara Anggara barusan masih berdengung di telinganya, bercampur dengan denyut darah yang memukul-mukul pelipisnya. Udara pagi terasa mendadak berat untuk dihirup. Kehadiran Rega dengan pistol di tangan membuat semua yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.“Apa maksud lo setara?” suara Panji serak, hampir tak terdengar. “Gue nggak ngerti apa yang lo bales.”Rega menatap Panji lama, tanpa berkedip. Tatapannya dingin dan kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kebencian sampai lupa rasanya lega.Perlahan, ia menurunkan pistolnya sedikit, bukan sebagai tanda damai, melainkan sekadar menunda. Tangannya yang lain merogoh ponsel dari saku jaketnya dengan gerakan tenang yang justru membuat Panji semakin takut.“Lo benar-benar nggak ingat?” tanya Rega pelan, nadanya nyaris datar.Ia membuka layar ponsel dan memutar layarnya ke arah Panji, seolah sedang menunjukkan bukti dalam ruang sidang.Sebuah foto muncu
Pagi itu Panji bangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Nafasnya pendek-pendek. Langit-langit kamar tampak buram, matanya perih akibat kurang tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul delapan, tapi tubuhnya terasa tak punya tenaga untuk sekadar berdiri dari ranjang.Ia berguling pelan, duduk dengan bahu merosot. Ingatannya melayang ke malam sebelumnya, ke teror yang belum juga berhenti. Panji meraih ponsel di samping bantal, jemarinya gemetar saat menekan nomor atasannya.“Pak, maaf, hari ini saya izin nggak masuk,” katanya singkat begitu panggilan tersambung. Suaranya serak, nyaris tak bertenaga. “Ada urusan keluarga.”Ia menunggu reaksi di seberang, tapi begitu izin diberikan, Panji langsung menutup telepon. Tak ada penjelasan panjang. Ia tak sanggup merangkai alasan. Kepalanya terlalu penuh untuk berdusta dengan rapi.Setelah itu, Panji duduk lama di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk.
Rega menatap kotak paket itu sekali lagi. Tatapannya turun perlahan, seolah mencoba membaca sesuatu dari benda mati itu. Alisnya berkerut tipis, lalu ia mendongak ke arah Anggara dengan ekspresi yang tampak dibuat-buat, seolah benar-benar heran.“Maksud lo apa, Anggara?” tanyanya ringan. “Gue pulang-pulang disodorin kotak nggak jelas, terus lu langsung nuduh gue macem-macem.”Nada suaranya terdengar santai, tapi Anggara menangkap sesuatu yang lain di baliknya. Ada jeda sepersekian detik sebelum Rega bicara. Terlalu singkat untuk diperhatikan orang lain, tapi tidak bagi Anggara.Ia tak bergeming. Tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Tatapannya tajam, menusuk lurus ke mata kakaknya.“Jangan pura-pura lagi, Kak!”Rega terkekeh kecil, lalu mengangkat kedua tangannya seolah pasrah.“Serius. Ini kotak apa sih?” Ia menendang pelan kotak itu dengan ujung kakinya. “Kayak kotak bekas kiriman online.”Anggara melangkah mendekat. Satu langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Suara Anggara renda












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews