Pagi itu Panji bangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Nafasnya pendek-pendek. Langit-langit kamar tampak buram, matanya perih akibat kurang tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul delapan, tapi tubuhnya terasa tak punya tenaga untuk sekadar berdiri dari ranjang.Ia berguling pelan, duduk dengan bahu merosot. Ingatannya melayang ke malam sebelumnya, ke teror yang belum juga berhenti. Panji meraih ponsel di samping bantal, jemarinya gemetar saat menekan nomor atasannya.“Pak, maaf, hari ini saya izin nggak masuk,” katanya singkat begitu panggilan tersambung. Suaranya serak, nyaris tak bertenaga. “Ada urusan keluarga.”Ia menunggu reaksi di seberang, tapi begitu izin diberikan, Panji langsung menutup telepon. Tak ada penjelasan panjang. Ia tak sanggup merangkai alasan. Kepalanya terlalu penuh untuk berdusta dengan rapi.Setelah itu, Panji duduk lama di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk.
Last Updated : 2026-01-12 Read more