Atas saran Abra, Serayu bersujud di atas ranjang sambil berusaha mengatur napasnya. Matanya berkaca-kaca menahan gelombang cinta yang datang tanpa aba-aba, nyeri sekali. “Saya rasanya mau lahiran malam ini, Mas.” Abra mengusap punggung istrinya penuh kasih sayang. Tangannya bergerak perlahan, menenangkan sekaligus menuntun Serayu mengatur ritme napas. “Saya di sini, Sayang.” Malam terus berjalan. Hingga pukul dua dini hari, rasa nyeri itu masih datang dan pergi sesuka hati. Kadang membuat Serayu meringis, kadang menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada. Saat jedanya kali ini terasa lebih panjang, Serayu akhirnya berbaring. Abra langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Pikirannya bercabang ke mana-mana, tetapi ia berusaha tetap tenang demi wanita yang ada di pelukannya. Lambat laun, Serayu tertidur karena kelelahan. “Maafkan saya, Sayang,” gumam Abra pelan. Ia mengecup puncak kepala istrinya yang sudah terlelap. *** Pagi datang bersama suara samar penuh hati-hati, memban
Read more