MasukMujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Serayu terpaksa menikah dengan Abra, dokter arogan sekaligus pewaris rumah sakit ternama. Pernikahan yang semula tanpa cinta dan penuh sandiwara itu perlahan berubah, berlayar menuju dermaga cinta. Namun, campur tangan mertua serta hadirnya mantan kekasih Abra menjelma badai yang mengguncang rumah tangga mereka. Bertahan ataupun berpisah, keduanya tetap meninggalkan luka.
Lihat lebih banyak"Mas…," panggil Serayu, nada suaranya terdengar menuntut. "Hm?" Abra menatap istrinya lembut. "Mau bahas apa, Sayang? Jadi ini yang dari tadi ingin kamu obrolin?" "Mas jawab aja." Serayu menarik napas pelan. "Jujur, sampai sekarang saya masih merasa tidak puas soal cerita kejadian yang menimpa Mas waktu itu. Cuma... saya memilih nggak memperpanjangnya." Abra terdiam, memberi kesempatan istrinya melanjutkan. "Lalu kenapa sekarang ditanyain, hmm?" tanyanya lembut. Serayu menggigit bibir bawahnya sesaat. "Jawab aja, Mas. Atau... Mas sedang melindungi si Sarah itu?" Abra langsung menggeleng. "Tidak." "Atau..." Serayu menelan ludah. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang ia benci. "Ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari saya tentang pertemuan kalian waktu itu?" Abra mengusap pelan pipi istrinya. "Sayang–” "Saya cuma ingin dengar semuanya dari Mas." "Saya nggak sedang melindungi siapa pun." "Kalau begitu... ceritakan semuanya." Abra terdiam sejenak, lalu menghembus
Serayu menghabiskan makan siangnya yang tersisa sedikit lagi, lalu merapikan perlengkapan pumping dan menyimpan ASI perahnya di tempat penyimpanan khusus. Semuanya dilakukan dengan sedikit terburu-buru, tetapi ia tak ingin ada satu langkah pun yang terlewat. Hal itu penting baginya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra kecilnya. Setelah memastikan semuanya beres, ia segera menuju kafetaria. "Saya kayaknya pernah beberapa kali lihat perempuan ini datang ke rumah sakit, Dok,” ujar salah seorang rekan dokter yang berjalan di sampingnya. "Tapi saya nggak tahu kepentingannya apa. Biasanya kelihatan keluar dan masuk area administrasi." Serayu hanya mendengarkan. "Tadi saya sempat tanya namanya siapa, tapi dia nggak mau jawab. Maunya ketemu langsung sama Dokter. Saya bilang tunggu di kafetaria saja karena saya tahu Dokter lagi makan. Baru dia mau." Serayu mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok,” balas Serayu. Ia mempercepat langkahnya. "Itu, Dok... yang pakai blazer hita
Setelah Abra kembali bertugas, kini giliran Serayu memulai hari pertamanya bekerja. Pagi tadi, ia menghabiskan waktu cukup lama memeluk Satria sebelum berangkat. Rasanya berat meninggalkan putra kecilnya, meski hanya untuk beberapa jam. Semua perlengkapan pumping pun sudah dipastikan masuk ke dalam tas. "Kenapa diam saja, hmm?" tanya Abra. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Husada. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya, lalu mengecup punggung tangannya. "Udah kangen anaknya masa," rajuk Serayu. Abra tersenyum tipis. "Nanti kangen papanya juga, nggak?" "Mas..." Serayu hanya mendesah pelan. Ia sudah terlalu hafal dengan godaan suaminya itu. Abra terkekeh kecil. "Nanti pulangnya saya sama Satria yang jemput." "Belum tahu selesai jam berapa juga," kata Serayu. "Kalau sudah selesai, kabari saya." Serayu mengangguk. Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Serayu belum juga turun. Tangannya masih melingkar di lengan Abra, seolah enggan melepaskannya.
Sesampainya di rumah, perhatian Serayu langsung tertuju pada Satria. Oleh-oleh terbaik untuk putra kecilnya itu adalah beberapa botol ASI hasil pumping yang menambah memenuhi kulkas khusus penyimpanan ASI. "Pangerannya sudah tidur?" tanya Abra sambil mengulurkan tangan ketika Serayu masuk ke kamar. Serayu menyambut uluran itu, lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sudah. Malam ini anaknya tidur di kamarnya. Tidurnya pulas banget, jadi nggak tega dipindahin. Nanti kalau bangun dan minta susu, biar nanny yang hangatkan ASI," jelas Serayu. Abra mengangguk paham. "Nggak lama lagi kita bakal sama-sama sibuk. Jadwal operasi saya memang masih libur untuk sementara, jadi mungkin sesekali masih bisa kerja dari rumah." Serayu yang semula menyamping berputar menghadap suaminya. Kedua lengannya melingkar di leher Abra. "Sedih … di rumah sakit pasti padat banget. Syukur-syukur masih sempat video call," rajuknya sambil mengerucutkan bibir. Abra tersenyum tipis. "Apa pun kesibukan kita
Malam itu, Abra dan Serayu datang dengan busana senada. Abra mengenakan kemeja hitam, lengan digulung sedikit, memperlihatkan tangan kekarnya. Serayu melangkah di sisinya dengan dress hitam yang jatuh anggun, tidak berlebihan, justru memancarkan aura cantik luar biasa. Keduanya tampak serasi, seolah
Flashback Malam itu, Abra mendengarkan rekaman yang Ryan rekam dengan rahang mengeras. Suara Aileen terdengar jelas lancang mengadu pada seseorang. Dari potongan pembicaraan itu, Ryan yakin Aileen sedang menghubungi ibu Abra, Riani. Mereka membicarakan kehamilan Serayu dan kegugurannya. Setiap kata
Abra segera pulang, tak sabar ingin menikmati makan malam dengan sang istri dan mertuanya.Begitu pintu terbuka, Serayu menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak cerah, ada kilau bahagia yang sulit disembunyikan saat mendekati suaminya.“Mas
Lorong sore itu mulai lengang, Serayu baru saja selesai bertugas, pundaknya terasa pegal tetapi langkahnya ringan menuju ruangan Abra.Namun langkahnya tertahan ketika Ryan muncul.“Koas,” panggilnya singkat.Tatapan Ryan berubah serius, sedikit cemas. Meski larut dalam cerita, Ryan sempat melirik k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak