Waktu seakan berhenti di mansion itu. Jam dinding berdetak terlalu keras, setiap detiknya seperti palu yang memukul dada mereka satu per satu. Udara terasa berat, seolah penuh oleh doa, ketakutan, dan amarah yang tak menemukan jalan keluar. Di kamar bayi, Alexa duduk di lantai, memeluk boks kosong itu seperti memeluk tubuh James sendiri. Rambutnya kusut, tergerai tanpa dihiraukan. Matanya bengkak, merah, kering oleh air mata yang terlalu lama jatuh. Ia tak mau makan. Tak mau minum. Tak mau tidur. Hanya duduk di sana—di kamar yang masih beraroma bayi, selimut kecil yang masih hangat oleh kenangan. “James…” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Maafin Mama…” Dania duduk di sampingnya sejak berjam-jam lalu. Ia tak pernah pergi. Tangannya mengusap punggung Alexa perlahan, meski dadanya sendiri terasa sesak oleh ketakutan yang sama. “Kita akan menemukannya,” bisik Dania berulang kali, walau suaranya sendiri gemetar. “James kuat… dia anak Arsenio… dia pasti kuat.” Alexa menoleh,
Read more