Pagi menyingsing. Cahaya matahari menembus lembut melalui celah tirai kamar apartemen Ace, menorehkan garis-garis hangat di lantai marmer. Perlahan, Felisha membuka mata. Sengatan pusing segera menyerang kepalanya, membuat dunia terasa berputar. Namun ia tahu, ia tak bisa berlama-lama terbaring di tempat asing ini. Dengan sisa tenaga, ia memaksa tubuhnya bangkit, meskipun nyaris kehilangan keseimbangan dan jatuh.Gadis itu mendesis pelan, menahan perih akibat mabuk semalam. Kakinya melangkah menuju pintu, membukanya perlahan. Hal pertama yang menyambutnya adalah jam dinding—pukul setengah delapan. Seharusnya, di jam seperti ini, ia sudah bersiap untuk berangkat kerja. Namun hari ini, ia masih terjebak di apartemen Ace.Sementara itu, pria tersebut duduk di minibar, menatap layar ponsel dengan raut serius. Pakaiannya sudah rapi—bukan pakaian yang ia kenakan semalam. Rambutnya tersisir klimis, seakan siap menyapa dunia luar. Felisha menunduk sekilas, merasakan kontras tajam: bangun tidu
Last Updated : 2025-12-01 Read more