MasukAce Alexander Newton adalah pria yang punya segalanya — wajah tampan, tubuh atletis, karisma alami, dan latar belakang pewaris perusahaan besar di Singapura. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, terutama wanita. Dengan senyum tipis dan tatapan menggoda, Ace selalu mampu membuat seluruh wanita jatuh dalam pesonanya tanpa perlu berusaha keras. Ia percaya, cinta hanyalah permainan, sampai ia bertemu dengan Felisha Zhao. Felisha bukan tipe wanita yang mudah didekati. Ia tegas, berprinsip, dan tahu betul nilai dirinya. Ia tidak butuh pria seperti Ace — tampan, menawan, tapi suka mempermainkan hati. Di mata Felisha, pria seperti itu hanyalah gangguan. Namun justru sikap dinginnya yang membuat Ace kehilangan kendali. Untuk pertama kalinya, pesona Ace tak berarti apa-apa. Felisha tidak terpikat oleh senyumannya, tidak goyah oleh rayuannya, bahkan tak peduli dengan status dan kekayaannya. Bagi Ace, Felisha adalah tantangan — batu keras yang ingin ia pecahkan, wanita mahal yang ingin ia miliki. Tapi semakin ia mencoba menaklukkannya, semakin ia tenggelam dalam pesona dingin yang justru membakar batinnya. Setiap malam, bayangan Felisha menghantui pikirannya dalam mimpi-mimpi panas yang tak pernah bisa ia kendalikan. Dan ketika batas antara obsesi dan cinta mulai kabur, Ace menyadari satu hal. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar jatuh cinta dan sangat ingin memiliki Felisha.
Lihat lebih banyakSuara alarm memekik, memecah keheningan pagi di apartemen mungil milik Felisha Zhao. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba meja di samping ranjang, menabrak tumpukan buku, kabel charger, dan botol air sebelum akhirnya berhasil mematikan sumber kebisingan itu.
Ia mendesah pelan, masih setengah tertidur. "Lima menit lagi..." gumamnya, menarik kembali selimut ke atas kepala. Namun baru dua detik berlalu, ia terduduk, menatap kosong ke langit-langit. Realita pagi terlalu keras untuk diabaikan. Dengan enggan, Felisha melangkah ke kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya, seperti tamparan dari dunia nyata. Kantuk menguap, berganti rasa malas yang tak kalah berat. Ia menatap cermin. Rambut awut-awutan, mata sembab, dan kaos tidur longgar yang entah sejak kapan mulai kehilangan bentuknya. “Cantik sekali,” katanya dengan nada sinis, lalu terkekeh kecil. Setelah membersihkan diri, ia membuka kulkas dan mengambil sebutir telur. Menu andalannya saat waktu tidak berpihak adalaah telur ceplok dan roti panggang. Suara televisi mulai mengisi keheningan ruangan, menayangkan acara pagi yang terlalu ceria. Presenter tersenyum selebar dunia, seolah hidup hanya berisi pelangi dan cupcake. Tiba-tiba, ponselnya bergetar kencang di atas meja. Felisha terlonjak, lalu meraihnya. “Felisha! Gawat!” suara panik menyambutnya. “Viola?” Felisha mengucek mata. “Kau tahu kan, ini masih jam tujuh pagi?” “Mia tiba-tiba sakit. Aku sudah hubungi semua orang, cuma kau yang bisa bantu. Kau harus datang sekarang juga. Kalau bos tahu barista utama absen—” Felisha langsung duduk tegak. “Ya ampun… kenapa hari liburku selalu jadi korban?” “Karena kau malaikat tak bersayap. Cepat ya, sebelum aku mati konyol di balik mesin espresso.” Meski kesal, felisha tidak bisa menahan senyum tipis. Viola, rekan kerja sekaligus sahabatnya itu memang pandai memaksa. “Baiklah. Tapi kau traktir makan malam.” “Oke! Sekarang cepat ke sini!" Telepon terputus. Felisha segera bangkit, membuka lemari, dan mengacak-acak isinya. Ia memilih atasan biru dengan renda halus dan celana jeans ketat favoritnya. Pagi masih sejuk, jadi ia menambahkan cardigan abu-abu tipis. Setelah menyemprotkan parfum dengan aroma sederhana, ia berlari menuruni tangga apartemen dengan setengah roti panggang masih menggantung di mulut. Sampai di halte, satu-satunya bus menuju pusat kota baru saja meninggalkan jejak debu di wajahnya. “Tidak! Tunggu!” teriaknya, mengangkat tangan. Sia-sia. Ia mengumpat pelan, menoleh kanan-kiri. Di ujung jalan, sebuah taksi melaju pelan. “Yes!” Felisha melambai-lambaikan tangan sambil menyeberang, perhatiannya tak lepas dari ponselnya yang sedang digunakan untuk membalas pesan Viola. Tapi tiba-tiba sebuah bus besar melintas, menghalangi pandangannya. Ia tidak sadar bahwa taksi itu tidak berhenti. Namun pandangannya langsung menangkap sebuah mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan masuk. “Cepat antar aku ke Kafe Lenorè di pusat kota!” katanya tergesa, jari masih sibuk mengetik pesan balasan pada Viola. Hening. Baru beberapa detik kemudian, suara seorang lelaki terdengar—tenang, berat, dan terdengar geli. “Maaf… kau siapa?” Felisha mengangkat kepala dengan kaget. Yang duduk di balik kemudi bukan sopir taksi berusia paruh baya, melainkan seorang pria muda tampan dengan jas kasual. Rambut hitamnya tertata dengan gaya modis bak artis, mata sipit tajam menatapnya penuh seloroh. “Eh… ini… bukan taksi?” tanyanya gugup. Pria itu menyeringai kecil. “Sayangnya bukan. Tapi kau sudah terlanjur duduk di sana dengan percaya diri. Lalu, apa aku harus pura-pura jadi sopir taksi saja?” Wajah Felisha langsung memanas. Ia buru-buru meraih tas. “Astaga, maaf! Kupikir taksi. Aku keluar saja—” “Terlambat,” ucap pria itu ringan sambil menekan pedal gas. Mobil melaju mulus. “Pegang yang erat, Nona. Sopir edisi terbatas ini tidak suka jalan pelan.” Felisha melongo, tubuhnya menegang. “Hei! Aku bisa terlambat kalau kau bercanda begini!” “Bukankah tujuanmu Kafe Lenorè?” tanya si pria aneh itu sambil melirik spion. Felisha terdiam. “Kau… dengar?” “Ya. Dan kebetulan aku tahu jalannya. Jadi tenanglah. Kau aman di tangan sopir tampan ini.” “Sopir taksi tidak seharusnya narsis," gumam Felisha memutar bola mata. “Benar. Tapi aku kan bukan sopir taksi. Jadi aku boleh narsis, dong.” Felisha tidak menjawab lagi . Ia menempelkan punggung ke kursi, mencoba menutupi rasa malunya dengan raut masam. Lelaki ini jelas bukan tipenya. Terlalu percaya diri. Terlalu lancar berbicara. Sesampainya di depan kafe, Felisha buru-buru keluar, lalu menyodorkan beberapa lembar uang. “Ini ongkosnya.” Tapi pria itu menolak, mendorong tangannya pelan. “Gratis. Tapi kalau kau merasa berutang… traktir aku kopi saja lain kali.” Felisha mendecak. “Aku tidak mau berutang apa pun.” “Kalau begitu, anggap saja aku sudah punya kupon traktir,” jawabnya sambil mengedipkan mata. Seketika Felisha membeku. Pipinya merona. Sebelum ia sempat membalas, mobil itu sudah melaju pergi. “Ya Tuhan…” desisnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan. “Memalukan sekali.” *** Kini Felisha duduk di ruang istirahat kafe, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ya ampun, aku bodoh banget!" gumamnya. Viola duduk di depannya, menyeruput kopi. “Jadi kau membiarkan pria itu mengantarmu ke sini?” “Tidak! Dia sendiri yang memaksa dan berlagak senang menjadi supir taksi!” Viola tertawa terpingkal-pingkal. “Lucu banget! Kau bikin pagi orang itu jadi berwarna!” Felisha mendecak. “Lucu ya, kalau itu bukan aku.” “Tenang, di kota sebesar ini, kau tidak akan bertemu dengannya lagi. Kecuali kalian berjodoh.” “Jangan mulai.” Tepat saat itu, bel pintu kafe berdenting. Felisha yang baru hendak berdiri, menoleh refleks ke arah pintu. Dan di sana, berdiri lah pria itu. Ace Alexander Newton. Si sopir taksi dadakan. Mengenakan jas hitam kasual dan tersenyum seperti bintang iklan parfum mahal, ia masuk bersama seorang wanita tinggi dalam balutan gaun merah selutut yang menyala. Felisha terpaku. “Itu dia...” bisiknya. Viola ikut membeku. “Pria yang tadi itu??” Felisha mengangguk pelan. Jantungnya berdetak kacau. Ace berjalan ke kasir. Tatapannya langsung mengarah pada Felisha. “Selamat datang,” ucap Felisha kaku, mencoba bersikap profesional. Ace menyeringai dan berbisik santai. “Jadi, sudah kau pikirkan soal traktiran kopinya?” Felisha mengangkat alis, sinis. “Pesananmu gratis. Hutangku lunas.” “Gratis itu bukan traktiran. Aku maunya kau yang bayar pakai hati.” “Kalau begitu, cari wanita lain. Hatiku mahal.” “Justru itu yang bikin menarik,” jawab Ace, mengedipkan sebelah mata dengan nakal. Wanita di sebelahnya masih sibuk membaca menu, seolah tak menyadari percakapan mereka. Ace akhirnya memesan dua kopi, lalu duduk di meja dekat jendela. Viola masih melongo dari balik mesin kopi. “Fel, kau tidak bilang kalau dia sangat tampan. Seperti aktor!” Felisha mendengus. “Dia pria penggoda. Datang dengan wanita lain, tapi masih sempat menggodaku. Aku tidak sudi berurusan dengan pria seperti itu.” Viola hanya mengangkat bahu sambil menahan tawa. Dengan kesal, Felisha melepas celemek baristanya. “Gantian, ya. Aku ke belakang sebentar.” “Tapi aku baru—” “Tolong, sebentar saja.” Viola mengalah, mengangguk pasrah. Di ruang staf, Felisha duduk dan menarik napas panjang. Ia membuka ponsel. Satu pesan baru masuk. 'Kita perlu bicara. Ini penting.' Tatapan Felisha berubah kosong. Pikirannya langsung melayang, bukan kepada Ace, melainkan kepada pengirim pesan tersebut. Yaitu seseorang dari masa lalu yang tak ingin ia hadapi lagi. *** Sementara itu, di kantor pusat periklanan dan pemasaran di Singapura—Newton Group— seorang pria paruh baya dengan tubuh besar dan aura dominan duduk di balik meja besar berkayu mahoni. Edward Newton, pemilik perusahaan raksasa itu, sedang mengamuk. “Matthew!” suaranya menggelegar. Seorang pria berwibawa dengan rambut keemasan dan sorot mata tenang masuk ke ruangan dengan langkah hati-hati. “Ya, Ayah?” “Di mana Ace?! Sudah tiga hari dia tidak datang. Aku tidak membangun perusahaan ini untuk diwariskan pada seorang pemalas!” Matthew tetap tenang di bawah tekanan amarah sang ayah yang sekaligus atasannya. “Dia sedang... mencari inspirasi, Ayah.” “Inspirasi? Hah. Yang dia cari itu cuma masalah!” “Dia akan kembali. Aku yakin.” “Aku tidak peduli! Seret dia ke sini kalau perlu! Kalau dia masih ingin punya nama di keluarga ini, dia harus belajar tanggung jawab!” Matthew mengangguk hormat. “Baik. Aku akan mencarinya.” Tapi dalam hati, ia tahu, menemukan Ace mungkin mudah. Membuatnya patuh? Itu seperti mencoba menghentikan badai dengan tangan kosong. Dan badai itu—Ace—baru saja hendak mengusik hidup seorang gadis bernama Felisha.Bonita Han baru saja keluar dari klinik kecantikan dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, sementara langkahnya ringan namun pasti, seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar yang tak perlu ia pedulikan. Manajernya sudah menunggu di mobil, pintu belakang terbuka sebelum Bonita benar-benar berhenti melangkah.Mobil itu kemudian melaju meninggalkan kawasan elite. Di dalam kabin yang sunyi, hanya suara mesin dan pendingin udara yang bekerja stabil. Bonita bersandar malas, menatap lurus ke depan tanpa minat pada apa pun di luar jendela. Ponselnya ada di tangan, tapi bahkan layar yang menyala pun tak cukup menarik perhatiannya. Wajahnya tetap dingin, tak berubah sejak mereka berangkat.Manajernya sesekali melirik lewat kaca spion, memastikan sang artis baik-baik saja. Namun Bonita tak memberi ruang untuk basa-basi. Sejak awal perjalanan, ia tak mengucapkan sepatah kata pun.Mobil berhenti di lampu merah.Bonita mendesah pelan, refleks mengalihkan
Guan tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat pada Yuki, cukup dekat hingga bau alkohol samar dari tubuh pria itu tercium jelas. Matanya menyipit, menimbang-nimbang, seperti pedagang yang sedang menghitung untung rugi."Mulutmu selalu beracun," ucap Guan pelan, nyaris berbisik. "Kau bicara soal manusia, bukan barang."Yuki terkekeh, sama sekali tak tersinggung. Ia justru menyandarkan tubuhnya santai ke sisi van."Di dunia kita, apa bedanya?" sahutnya ringan. "Selama ada yang mau bayar mahal."Guan terdiam. Pandangannya kembali tertuju ke jalanan kosong di depan apartemen. Amarahnya pada Felisha belum surut, tapi tawaran Yuki jelas membuka pintu yang lebih besar-lebih kotor, lebih menguntungkan."Katamu dia cantik seperti ibunya," lanjut Yuki, suaranya direndahkan. "Dan masih muda. Barang seperti itu selalu dicari. Apalagi kalau tak punya siapa-siapa yang benar-benar melindungi."Kata-kata itu menancap dalam benak Guan. Bibirnya mengeras, rahangnya mengatup kuat. Ia membayangkan wa
Felisha refleks menoleh ke Ace. Ada kilat terkejut di matanya, disusul rasa bersalah yang cepat menyelinap. Ia tidak menyangka reaksi Ace akan sekeras itu.“Aku baik-baik saja,” katanya cepat, berusaha meredam ketegangan yang tiba-tiba mengeras di udara. “Waktu itu situasinya mendesak. Aku hanya ingin membantu.”“Itu bukan alasan,” potong Ace, suaranya rendah tapi tegas. Tangannya yang memegang garpu mengencang. “Kau mempertaruhkan dirimu sendiri tanpa berpikir panjang.”Matthew mengamati mereka berdua dalam diam sesaat, sebelum akhirnya angkat bicara dengan nada tenang namun berwibawa.“Ace,” katanya pelan, “aku paham kekhawatiranmu. Tapi Felisha tidak bertindak ceroboh. Dia tenang, cepat berpikir, dan—yang terpenting—dia tidak sendirian. Aku ada di sana.”Ace menoleh tajam. “Tetap saja. Dia bukan orang yang seharusnya berada dalam situasi seperti itu.”“Justru karena itulah aku menghormatinya,” balas Matthew tanpa tersinggung. “Tidak semua orang berani mengambil risiko demi orang la
Felisha merasakan malu yang luar biasa hingga wajahnya kembali memerah. Spontan ia menatap Ace dengan mata membelalak, memberi isyarat agar pria itu berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu—meskipun Matthew berlagak seolah tak mendengar apa pun. Ace yang menangkap teguran diam-diam itu hanya terkekeh kecil. Ia mengangkat sebelah tangannya santai, lalu berkilah di hadapan Matthew, “Dia menggigit tanganku waktu aku mengobati lukanya tadi.” “Apa?” Matthew mendelik kaget. “Nona Felisha terluka? Bagaimana bisa?” Tatapan serius itu membuat Felisha semakin kikuk. “Oh, itu… cuma luka kecil,” ujarnya pelan. “Dia berlari karena dikejar anjing, lalu terjatuh,” timpal Ace enteng sambil meneguk segelas air putih yang telah disediakan di depannya. Ia melirik Felisha yang duduk tegang di sampingnya. Wajah kesal yang berusaha ditahan gadis itu justru terasa menghibur baginya. Diam-diam, Felisha menyenggol kaki Ace di bawah meja—meski ia tahu, peringatan kecil itu nyaris tak berarti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak