LOGINAce Alexander Newton adalah pria yang punya segalanya — wajah tampan, tubuh atletis, karisma alami, dan latar belakang pewaris perusahaan besar di Singapura. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, terutama wanita. Dengan senyum tipis dan tatapan menggoda, Ace selalu mampu membuat seluruh wanita jatuh dalam pesonanya tanpa perlu berusaha keras. Ia percaya, cinta hanyalah permainan, sampai ia bertemu dengan Felisha Zhao. Felisha bukan tipe wanita yang mudah didekati. Ia tegas, berprinsip, dan tahu betul nilai dirinya. Ia tidak butuh pria seperti Ace — tampan, menawan, tapi suka mempermainkan hati. Di mata Felisha, pria seperti itu hanyalah gangguan. Namun justru sikap dinginnya yang membuat Ace kehilangan kendali. Untuk pertama kalinya, pesona Ace tak berarti apa-apa. Felisha tidak terpikat oleh senyumannya, tidak goyah oleh rayuannya, bahkan tak peduli dengan status dan kekayaannya. Bagi Ace, Felisha adalah tantangan — batu keras yang ingin ia pecahkan, wanita mahal yang ingin ia miliki. Tapi semakin ia mencoba menaklukkannya, semakin ia tenggelam dalam pesona dingin yang justru membakar batinnya. Setiap malam, bayangan Felisha menghantui pikirannya dalam mimpi-mimpi panas yang tak pernah bisa ia kendalikan. Dan ketika batas antara obsesi dan cinta mulai kabur, Ace menyadari satu hal. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar jatuh cinta dan sangat ingin memiliki Felisha.
View More"Kita operasi saja, ya?" bujuknya dengan suara yang hampir memohon. Tangannya yang gemetar menyeka keringat di dahi Felisha."Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini."Felisha menggeleng pelan. Meski wajahnya dipenuhi rasa sakit, genggamannya pada pagar ranjang tetap kuat."Tidak..." lirihnya di sela napas yang memburu. "Aku... ingin melahirkannya... secara normal..."Ace mengernyit. Nada suaranya mulai terdengar putus asa."Tapi kau kesakitan begini, Felisha." Ia menggenggam tangan istrinya erat. "Aku tidak bisa membiarkanmu terus menahan rasa sakit yang semakin hebat."Felisha menggeleng lagi.Air mata terus menggenang di sudut matanya."Tidak apa-apa, Ace... Memang... seperti ini prosesnya."Suaranya hampir tenggelam oleh erangan kesakitan. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan tenaga."Aku mohon..." Matanya menatap Ace dengan penuh harap. "Aku tidak ingin dioperasi."Berkali-kali Ace membujuk Felisha agar menjalani operasi caesar. Berkali-kali pula Felisha memohon agar d
Hukuman bagi Rashed akhirnya ditetapkan.Pria itu dipulangkan ke tanah kelahirannya untuk menjalani hukuman penjara seumur hidup atas seluruh tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Bukan hanya penculikan dan kekerasan seksual terhadap para korbannya, tetapi juga serangkaian pembunuhan yang telah merenggut banyak nyawa, termasuk Yuki, Rosie, dan Daniel.Berita penangkapan Rashed yang dikenal sebagai pengusaha muda ternama asal Arab Saudi pun segera menyita perhatian publik di berbagai negara Asia. Banyak orang terkejut mengetahui sisi gelap pria yang selama ini dikenal berwajah tampan, berkarisma, dan berasal dari keluarga terpandang itu.Namun, Felisha memilih untuk tidak lagi mengikuti kabar apa pun tentang Rashed.Baginya, semua itu telah berakhir.Sesampainya kembali di Singapura, ia menyibukkan diri di studio kecilnya. Karena tidak sempat membeli oleh-oleh saat berbulan madu di Bali akibat insiden yang menimpanya, Felisha memutuskan membuat hadiah dengan tangannya sendiri untu
Matthew tampak sibuk menghubungi pihak kepolisian di Bali melalui kenalan dekatnya di sana untuk mengurus proses hukum Rashed, yang kini telah diamankan di dalam sel tahanan sementara.Kepolisian Singapura juga turut bekerja sama dalam menangani kasus tersebut sejak jasad Rosie dan Daniel ditemukan."Kami akan memproses tersangka setelah menerima seluruh berkas dan laporan dari kepolisian Singapura," ujar seorang petugas melalui sambungan telepon. "Karena tindak penculikan terjadi di wilayah hukum Indonesia, ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum tersangka dipindahkan ke Singapura."Matthew mendengarkan dengan saksama. Namun penjelasan itu tidak cukup menenangkan pikirannya. Sejak mengetahui seluruh tindakan kriminal yang dilakukan Rashed—mulai dari kasus pembunuhan hingga penculikan Felisha—ia tidak bisa benar-benar tenang.Rasa bersalah diam-diam menghantuinya. Bagaimanapun juga, Ace dan Felisha berangkat ke Bali untuk berbulan madu sebagai hadiah dar
Polisi segera bergerak menangkap Rashed beserta anak buahnya di yacht tersebut.Sebelumnya, saat mengetahui Felisha diculik, Ace sempat menghubungi Matthew di Singapura dalam keadaan terdesak dan meminta bantuannya. Berkat koordinasi yang cepat, pihak kepolisian berhasil menemukan lokasi yacht dan mengambil alih penanganan kasus itu.Kini, Ace berada di sebuah rumah sakit.Ia duduk di samping ranjang tempat Felisha berbaring setelah menjalani pemeriksaan medis.Wanita itu sempat pingsan akibat syok, kelelahan, dan tekanan yang dialaminya selama penculikan. Beberapa jam kemudian, ia membuka mata.Pandangan pertamanya langsung bertemu dengan wajah Ace yang terlihat lelah, cemas, sekaligus lega."Syukurlah..." desah pria itu pelan. "Akhirnya kau sadar juga."Felisha tidak langsung menjawab.Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami situasi.Plafon putih. Aroma antiseptik. Tiang infus yang berdiri di samping ranjang.Rumah sakit. Tempat yang membosankan.Sebelum
“Kau tidak apa-apa?” Ace bertanya untuk memastikan. Ia menyentuh dahi Felisha dengan punggung tangannya. Namun suhu tubuh gadis itu terasa normal. "Aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya belum sepenuhnya sadar,” jawab Felisha sambil tersenyum kaku. Tablet milik Ace dipeluknya erat-erat, seolah t
“Katakan padaku, Felisha. Apa kau mencintaiku?”Suara Ace terdengar dalam dan berat, menyimpan luka.Felisha masih diam. Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya sendiri yang saling bertaut di pangkuan. Namun sebelum sempat mengalihkan pandangan, Ace meraih dagunya dengan lembut, memaksa gadis itu
“Wah, lucunya!” seru Felisha spontan, matanya berbinar senang. Seekor kelinci putih mungil melompat cepat ke dalam semak-semak setelah beberapa detik menatapnya. Untung saja Felisha berhasil mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Senyumnya melebar ketika ia menatap hasil fotonya. “Viola! Li
“Apa?” suara Vin meninggi, matanya membesar. “Dia tidak ada?!”Ace membeku sejenak. Urat-urat di pelipisnya menegang, tatapannya segera tajam mengunci pada Viola. Dadanya berdesir keras, instingnya langsung menyimpulkan sesuatu yang buruk. Ia menyapu pandangan ke arah tenda, ke arah kru, memastikan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore