Alessia duduk di ujung meja panjang ruang makan, mengenakan gaun berwarna gelap dengan potongan sederhana. Rambutnya diikat rapi, bekas semalam telah disembunyikan di balik ketenangan wajahnya. Di hadapannya, sarapan tersaji, roti hitam, keju keras, daging asap, dan kopi pahit yang mengepul tipis.Drazhan duduk di seberangnya. Ia tampak seperti pria yang sama seperti kemarin, dingin, berwibawa, dan penuh kontrol, namun Alessia tahu ada sesuatu yang berbeda. Luka di bahunya masih dibalut, tapi matanya tajam seperti biasanya. Ia memegang cangkir kopi tanpa tergesa, gerakannya stabil, seolah pagi ini hanyalah lanjutan dari malam yang panjang, bukan awal hari baru.Beberapa anak buah berdiri berjaga di jarak aman. Tidak ada percakapan ringan. Di meja ini, kata-kata yang keluar selalu punya bobot.“Penjagaan timur?” tanya Drazhan tanpa menoleh.“Diperketat sejak subuh,” jawab salah satu pria. “Tidak ada pergerakan mencurigakan.”Alessia mengangkat cangkir kopinya. Gerakannya langsung berhe
Magbasa pa