Pintu kamar Alessia tertutup pelan di belakang Drazhan, namun bunyinya terdengar seperti palu yang memukul keputusan terakhir. Cahaya lampu temaram menyapu ruangan, memantul di dinding berwarna gelap, menciptakan bayangan yang bergerak lambat, seolah kamar itu ikut menahan napas.Alessia berdiri di dekat jendela ketika ia masuk. Dia menoleh dan tatapan mereka bertemu. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan. Yang ada hanya arus tegang yang mengalir di antara mereka, berat dan tak terucap.Drazhan melangkah mendekat. Langkahnya terukur, tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini, bukan dingin yang biasa, melainkan panas yang tertahan, seperti api yang takut padam. Tangannya terangkat, berhenti sesaat di udara, seolah ia sendiri ragu pada kekuatan yang dimilikinya. Lalu jemarinya menyentuh pipi Alessia, lebih lama dari biasanya.“Kamu di sini,” katanya rendah. Bukan pernyataan. Sebuah penegasan.Alessia mengangguk pelan. “Aku tidak pergi. Bukan kah begitu? Aku tidak pernah keluar atau pergi
Last Updated : 2025-12-24 Read more