Sabtu pagi itu, rumah Ratih terasa berbeda. Raya mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur, merapikan bantal sofa untuk kesekian kalinya, memastikan tidak ada debu di meja, mengecek kembali tata letak camilan di atas nampan. "Kak, hari ini Pak Ares datang?" tanya Dio yang tiba-tiba muncul dari kamarnya, masih mengenakan kaus bola kesayangan dan celana training. Raya menoleh sambil merapikan taplak meja. "Iya. Udah jalan kesini. Setengah jam yang lalu pesawatnya mendarat." Ratih yang baru keluar dari dapur melirik putrinya sambil menggeleng-geleng kepala. "Udah rapi, gak usah dirapikan lagi." Ratih menatap putrinya dengan alis terangkat. "Dari subuh kamu sudah menyapu, mengepel, memasak, mencuci piring, sampai menyiram tanaman. Berasa mau Lebaran besok." "Biar lebih rapi aja, Bu," jawab Raya sambil menunduk, tersenyum malu. Hampir dua minggu berada di rumah ibunya, Raya kembali beraktivitas seperti sebelum mengenal Ares. Tak ada satu pun pekerjaan rumah yang terlewatkan. Jika ia
Last Updated : 2026-01-03 Read more