LOGINDikhianati kekasih depan umum, Naraya merasa kehilangan segalanya, harga diri, kepercayaan, dan hatinya. Pria yang dicintainya selama dua tahun, Kenzie, justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri Alicia. Lebih kejamnya lagi, mereka berciuman tepat di depan mata Naraya, sambil menertawakan dan merendahkannya, dengan alasan Naraya tak bisa memenuhi kebutuhan gairah Kenzie. Sebuah fakta mengejutkan terungkap, Kenzie ternyata anak dari Ares Mahardika, CEO tempat Naraya bekerja sekarang. Seorang duda tampan, dingin, karismatik dan terkenal sebagai playboy berbahaya. Dan Naraya melihat itu sebagai kesempatan membuat Kenzie menyesal dengan cara paling kejam dan berisiko, yaitu Naraya akan menggoda ayah Kenzie. Dengan penampilan baru yang lebih berani dan menggoda, Naraya mulai memainkan perannya. Bahkan memakai strategi "salah kirim" foto tanpa busana pada Ares. Raya berhasil menjerat Ares dalam jaringannya. Dari sanalah segalanya dimulai, hubungan bergairah, tanpa ikatan, tanpa janji. Ares memberinya segalanya, apartemen mewah, mobil, kemewahan yang tak pernah ia bayangkan. Namun di balik hubungan yang seharusnya hanya tentang tubuh, Ares juga memberi sesuatu yang lain, perhatian dan kehangatan. Membuat Naraya menjatuhkan hati pada pria yang tak bisa menjanjikan hubungan. Kenzie sendiri kembali dan bertekad merebut Naraya dari pelukan ayahnya. Apakah Ares benar mencintainya atau Naraya hanya alat pelampiasan di ranjang? Apakah Kenzie akan membongkar rahasia ayahnya demi merebut kembali Naraya?
View MoreRaya menatap layar komputernya dengan mata yang mulai perih. Jam di sudut layar menunjukkan jam makan siang. Namun dirinya masih enggan beranjak dari kursinya.
Datang paling pagi, pulang paling malam. Makan siang di meja kerja sambil menyelesaikan laporan. Lembur hampir setiap hari tanpa keluhan. Ini sudah menjadi rutinitas selama tiga minggu terakhir. Sejak wisuda bulan lalu, ia akhirnya bekerja sebagai sekretaris CEO di Mahardika Group. Dan sejak saat itu juga, pria yang ia cintai menyelingkuhinya. Raya menyukai pekerjaan ini. Tidak. Bukan hanya suka. Tapi ia butuh kesibukan ini. Karena setiap kali ia punya waktu luang, bayangan mantan kekasihnya, Kenzie dan sahabatnya Alicia akan muncul bagai mengejeknya. Ciuman mereka di depan kafe. Tawa mengejek mereka. Kata-kata menyakitkan yang masih terngiang jelas. "Kamu terlalu kuno." "Membosankan." "Kasihan pada anak yatim" "Aku butuh wanita yang bisa memenuhi kebutuhanku." Saat jam makan siang Raya mengernyit saat mendengar percakapan dua karyawan di dekatnya. "Kamu dengar? Anak Mr. Ares akan jadi General Manager di sini!" "Serius? Yang mana? Dia kan punya dua anak." "Yang cowok. Kenzie Mahardika. Katanya baru selesai S2 bisnis." Raya membeku di mejanya. Kenzie Mahardika? Tidak mungkin. Pasti Kenzie yang berbeda. Tapi hatinya tahu segala kemungkinan itu ada. Mantan kekasihnya bernama Kenzie Leonel. Dan nama keluarganya? Raya tidak pernah tahu nama belakang Kenzie. Pria itu selalu menyebut namanya Kenzie Leonel. Tidak pernah menyebut nama keluarga ataupun menceritakan detail tentang keluarganya. Tangan Naraya gemetar saat ia membuka browser dan mencari "Kenzie Mahardika". Hasil pencarian muncul. Foto-foto Kenzie. Artikel tentang anak CEO Mahardika Group. Pewaris tunggal perusahaan. Calon penerus Ares Mahardika. Dan benar. Itu Kenzie-nya. Raya merasakan dunia berputar. Dadanya sesak. Napasnya tersengal. Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa ia harus bekerja di perusahaan yang akan dipimpin oleh mantan kekasihnya? Karyawan berkumpul di lobby, berbisik-bisik dengan antusias. Semua orang ingin melihat pewaris Mahardika Group yang akan menjadi General Manager mereka. Jantung Raya berhenti berdetak sesaat, melihat mantan kekasihnya memasuki ruangan. Pria itu masih sama. Tinggi, tampan, dengan senyum menawan yang dulu membuat hatinya berbunga-bunga. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang. Mengenakan jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Dia terlihat percaya diri dan sempurna. “Selamat pagi semua,” suara Ares menggelegar di lobby. “Seperti yang kalian tahu, ini hari pertama Kenzie Leonel Mahardika, bekerja di perusahaan ini sebagai General Manager.” Tepuk tangan riuh menggema. Kenzie tersenyum lebar, mengangguk pada semua orang dengan ramah. “Terima kasih atas sambutannya. Saya sangat senang bisa bekerja dengan kalian semua. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Raya ingat suara itu. Dulu sering berbisik kata-kata cinta. Suara yang kemudian mengatakan dirinya membosankan. tangannya mengepalkan erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. “Kenzie, kamu akan dibantu selama seminggu ini oleh Naraya,” lanjut Ares—atasannya. Semua mata beralih pada Raya. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lift, mata Kenzie menemukan Raya di antara kerumunan. Ekspresi wajahnya berubah. Terkejut. Lebih tepatnya tidak percaya. Dan kemudian wajahnya berubah mengejek. Raya menarik napas dalam dan melangkah maju, menembus kerumunan dengan kepala tegak, berhenti di samping Ares dengan postur tubuh yang tegap. “Ini Naraya, sekretaris pribadi,” kata Ares sambil menatap Raya sekilas. Kenzie menatap Raya dengan senyum menyebalkan yang membuat perut Raya mual. “Senang bertemu denganmu, Raya,” kata Kenzie sambil mengulurkan tangan. Raya menatap tangan itu sejenak sebelum menjabatnya dengan singkat. Sentuhan itu membuat kulitnya terasa seperti terbakar. “Senang bertemu dengan Anda, Pak Kenzie,” jawab Raya dengan nada datar dan profesional. Mata Kenzie berkilat, menangkap nada formal yang Raya gunakan. Seolah mereka adalah orang asing. “Baiklah, kalian semua kembali bekerja,” perintah Ares. “Naraya, bantu Kenzie berkeliling.” “Baik, Pak,” jawab Raya sambil membungkuk. Ares berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah yang terkontrol. Setiap sel di tubuhnya begitu berwibawa. “Jadi—” kata Kenzie sambil menyilangkan tangannya di dada dengan casual. “Kamu bekerja untuk ayahku?” "Benar," jawab Raya datar. “Sejak kapan?” “Sudah sebulan.” “Tidak perlu sedingin ini, Raya.” Raya akhirnya mendongak, menatap Kenzie dengan tatapan dingin yang ia pelajari dari Ares. “Setiap orang berubah,” jawab Raya singkat. “Sekarang, bisa kita mulai berkeliling?” Kenzie menatapnya lebih lama sebelum akhirnya meluruskan tubuhnya. “Ya... Ayo mulai.” Raya berjalan terlebih dahulu “Silakan ikut saya.” Mereka berjalan beriringan menuju lift. Suasana di antara mereka tegang dan canggung. Di dalam lift yang kosong, Kenzie akhirnya berbicara. “Raya...” “Tolong panggil saya Naraya saja,” potong Raya tanpa menatap Kenzie terdiam. “Apa yang terjadi di antara kita adalah masa lalu. Sekarang kita hanya kolega kerja. Itu saja.” “Kamu masih marah,” kata Kenzie, bukan bertanya, tapi menegaskan. “Aku tidak menyangka kamu akan jadi sekretaris ayahku,” kata Kenzie sambil melipat tangan di dada. “Maksudku... kamu memang pintar di akademik. Tapi sekretaris? Itu cukup... biasa saja, bukan?” Raya merasakan dadanya sesak, tapi ia mempertahankan ekspresi dinginnya. Kenzie tertawa, dan terdengar menyebalkan. “Tapi ayolah, Raya. Kamu bisa melakukan lebih dari ini. Atau hanya ini batas kemampuanmu.” Setiap kata adalah tikaman pada harga diri Raya. “Apa maksud Anda, Pak Kenzie?” tanya Raya, memaksa suaranya tetap tenang. “Maksudku,” Kenzie melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa Raya dengar. “Dulu kamu selalu bilang ingin jadi lebih dari sekadar sekretaris. Kamu punya ambisi besar. Tapi lihat sekarang, kamu cuma jadi asisten ayahku. Melayani kebutuhannya. Mencatat jadwalnya. Membuatkan kopinya.” Kenzie tersenyum sinis. “Aku rasa Alicia benar. Kamu memang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain… yah, kamu tahu lah. Semuanya terlalu standar.” Raya merasakan sesuatu pecah di dadanya—amarah, sakit hati, malu. Tapi ia tak akan membiarkan Kenzie melihat itu. “Pak Kenzie…” ucapnya pelan namun tajam. “Kalau menurut Anda kemampuan saya hanya sebatas ini—” Ia berhenti sejenak, berdeham untuk menetralkan emosinya. “Berarti saya seharusnya mencoba berhubungan dengan pria yang menganggap saya lebih dari sekadar standar.” Kenzie mengangkat alis, terkejut. “Maksudmu?” Raya tersenyum tipis, berjingkit sedikit, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kenzie dan berbisik, “mungkin ayah Anda menilai saya lebih tinggi atau lebih spesial daripada Anda. Benar, tidak?” Ia menegakkan tubuhnya kembali tepat saat denting lift terdengar, menandakan mereka telah tiba di lantai tujuan. Raya melangkah keluar tanpa menunggu Kenzie. Sekilas, ia melihat rahang pria itu mengeras, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.Raya terbangun perlahan, matanya masih berat. Ia mengerjap beberapa kali sebelum sadar bahwa sisi ranjang di sebelahnya kosong. Tidak ada Ares. Hanya sisa hangat di kasur yang menandakan pria itu sempat berbaring di sana. Raya langsung membuka matanya, duduk di tempat tidur sambil mengucek mata. "Ares?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Pagi, Sayang." Raya menoleh ke arah suara itu. Ares berdiri di dekat lemari, sudah berpakaian rapi dengan kaos polo hitam dan celana jeans. Pakaian santai yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya. Ares berjalan mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap rambut Raya yang berantakan dengan lembut. Raya tersenyum, lalu memeluk lengan Ares dengan manja. "Kamu mau ke mana? Kok sudah siap?" Ares menatap Raya dengan senyum misterius. "Ayo." Raya mengerutkan kening. "Ayo kemana?" Ares menyeringai kecil. "Kamu lupa? Kamu mau belajar menyetir mobil lagi, kan?" Mata Raya langsung berbinar. Ia langsung berteriak keg
Ares dan Raya masih berbaring di atas ranjang, tubuh mereka masih saling menempel erat. Udara kamar dipenuhi aroma hangat yang tersisa dari tubuh keduanya. Campuran parfum, keringat, dan jejak percintaan yang belum sepenuhnya hilang. Raya masih terdiam, napasnya perlahan menurun. Pipinya melekat di dada Ares, mendengarkan degup jantung pria itu yang terasa stabil dan menenangkan. Sementara Ares memeluknya, mengusap rambutnya lembut berulang-ulang. "Tidurlah," bisik Ares pelan, mengecup puncak kepala Raya. "Hm…" Raya mengangguk kecil, matanya mulai terasa berat. Raya mengangguk kecil, matanya memang mulai terasa berat. Baru saja kelopak mata Raya hampir tertutup, siap untuk tertidur dalam pelukan hangat Ares. Tapi belum sempat ia benar-benar tertidur, suara getar ponsel memecah keheningan. Ares mengembus napas kesal, meraih ponselnya pelan agar tidak mengagetkan Raya. Namun saat ia melihat nama yang tertera di layar, ia terdiam. Lulu. Nama itu terpampang jelas di layar. Ares te
Kenzie duduk sendirian di pojok bar yang remang-remang. Di depannya sudah berjajar beberapa gelas kosong. Bau alkohol tajam menguar, seolah ikut merayap masuk ke pori-porinya. Tapi ia terus memesan minuman itu lagi. Wajahnya memerah. Matanya sayu. Bahunya turlĺ Ia ingin menenggelamkan rasa sakit itu di dasar gelas terakhir yang tidak pernah benar-benar terakhir. Tangannya gemetar, ia meraih ponselnya. Penglihatan sudah kabur, tapi ia tahu persis nama siapa yang harus ia cari disaat seperti ini. Ia butuh pelepasan dari segala sesak di dalam dadanya. Alicia Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol panggil. Dering pertama. "Halo?" suara Alicia muncul—terkejut—tetapi ada nada gembira. "Kenzie?" "Alicia..." Kenzie mengusap wajahnya kasar. Napasnya berat. Jelas sudah mabuk. "Datang ke sini sekarang..." "Kamu di mana? Kamu mabuk?" "Bar... yang biasa..." gumam Kenzie, suaranya parau. "Aku tunggu." Tidak perlu diminta dua kali, terdengar Alicia seperti tengah bergegas. "Oke, aku dat
Di dalam ruangan Ares, pintu tertutup rapat. Suara klik kecil dari kunci yang diputar Ares terdengar jelas, membuat Raya menelan ludah. Ketegangan yang sejak tadi menempel di tubuhnya belum benar-benar mereda, tetapi begitu pintu itu terkunci, suasananya berubah drastis. Hening. Sunyi. Seperti ruangan itu memisahkan mereka dari dunia luar. Ares menggenggam tangan Raya, menuntunnya perlahan menuju kursi kebesarannya di belakang meja kerja. "Duduk sini," ucap Ares lembut, nada yang jarang ia gunakan pada siapa pun selain Raya. Ia membantu Raya duduk, memastikan wanita itu nyaman, bahkan menyingkirkan helai rambut yang menutupi pipi Raya. Tanpa banyak kata, Ares berlutut di hadapan Raya. Mensejajarkan diri dengan Raya. Pria yang biasanya selalu dominan, kali ini terlihat begitu lembut, melepaskan di depan tunangannya yang masih terlihat tegang. Ares meraih tangan Raya, mengangkatnya, menahan jemarinya di antara jemari besar miliknya. Buku-buku jari Raya terlihat merah menyala, se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore