ログインDikhianati kekasih depan umum, Naraya merasa kehilangan segalanya, harga diri, kepercayaan, dan hatinya. Pria yang dicintainya selama dua tahun, Kenzie, justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri Alicia. Lebih kejamnya lagi, mereka berciuman tepat di depan mata Naraya, sambil menertawakan dan merendahkannya, dengan alasan Naraya tak bisa memenuhi kebutuhan gairah Kenzie. Sebuah fakta mengejutkan terungkap, Kenzie ternyata anak dari Ares Mahardika, CEO tempat Naraya bekerja sekarang. Seorang duda tampan, dingin, karismatik dan terkenal sebagai playboy berbahaya. Dan Naraya melihat itu sebagai kesempatan membuat Kenzie menyesal dengan cara paling kejam dan berisiko, yaitu Naraya akan menggoda ayah Kenzie. Dengan penampilan baru yang lebih berani dan menggoda, Naraya mulai memainkan perannya. Bahkan memakai strategi "salah kirim" foto tanpa busana pada Ares. Raya berhasil menjerat Ares dalam jaringannya. Dari sanalah segalanya dimulai, hubungan bergairah, tanpa ikatan, tanpa janji. Ares memberinya segalanya, apartemen mewah, mobil, kemewahan yang tak pernah ia bayangkan. Namun di balik hubungan yang seharusnya hanya tentang tubuh, Ares juga memberi sesuatu yang lain, perhatian dan kehangatan. Membuat Naraya menjatuhkan hati pada pria yang tak bisa menjanjikan hubungan. Kenzie sendiri kembali dan bertekad merebut Naraya dari pelukan ayahnya. Apakah Ares benar mencintainya atau Naraya hanya alat pelampiasan di ranjang? Apakah Kenzie akan membongkar rahasia ayahnya demi merebut kembali Naraya?
もっと見るKapal pesiar mewah The Majestic Star membelah ombak dengan anggun. Di salah satu dek privat kelas VVIP, Ares Mahardika berdiri dengan setelan kasual linen, menyesap wine merahnya dengan ekspresi paling rileks yang pernah dilihat dunia. Di sampingnya, Raya tampil mempesona dengan dress sabrina putih, membiarkan angin laut mempermainkan rambutnya. "Ares, kamu yakin ini tidak keterlaluan?" Raya bertanya, meskipun tangannya dengan manja melingkar di lengan suaminya. "Kita benar-benar mematikan semua ponsel. Bagaimana kalau Karin menangis atau Kelana berkelahi dengan temannya?" Ares terkekeh, suara baritonnya menyatu dengan deru mesin kapal yang halus. Ia merogoh saku, mengeluarkan dua ponsel yang layarnya gelap gulita. "Biarkan saja, Sayang. Karin sudah SMP, dia harus belajar bahwa dunia tidak selalu berputar di sekitar tangisannya. Kelana sudah SMA, dia calon penerus Mahardika, harus bisa menyelesaikan masalah tanpa mengadu pada Daddynya." Ia menjeda, lalu tertawa licik. "Lagi pula
Di Villa pribadi keluarga Mahardika di Lombok. Ares duduk bersandar di kursi malas. Rambutnya kini telah memutih sempurna, menyisakan gurat-gurat ketampanan maskulin yang bertransformasi menjadi kewibawaan seorang pria senja yang matang. Di sampingnya, Raya sedang sibuk menyesap teh melati hangat. Meski kerutan halus mulai menghiasi sudut matanya, binar di sana tetap sama seperti tiga puluh tahun lalu saat ia masih menjadi sekretaris yang galak bagi Ares. "Ares, lihat itu," tunjuk Raya ke arah bibir pantai. Di sana, Kelana yang sudah menjadi CEO tangguh menggantikan ayahnya, sedang menggendong putra kecilnya. Tak jauh dari mereka, Karin tertawa lepas bersama suaminya, sementara Kenzie—si anak hilang yang akhirnya pulang—sedang asyik memanggang daging bersama David dan istrinya. Kenzie dan David juga sudah menua. "Sebahagia ini ya kita bisa kumpul semuanya," bisik Raya. Ares mengalihkan pandangannya dari anak-cucunya, lalu menatap Raya. Ia meraih tangan istrinya, menggenggam je
Televisi masih menyala, menampilkan serial Netflix yang tadi ditonton Karin dan Gia, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus ke layar.Karin duduk di karpet dengan kaki ditekuk, jemarinya terus memutar-mutar ujung bantal sofa. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu beralih menatap pintu depan yang masih tertutup rapat. Di sofa, Kelana tetap dengan laptopnya, namun jika diperhatikan lebih dekat, kursor di layarnya hanya bergerak berputar-putar tanpa mengetik satu kata pun. Gia, yang menyadari ketegangan itu, hanya diam sambil sesekali mengusap bahu Karin untuk menenangkan."Kak, kok lama banget sih?" gumam Karin, suaranya serak. "Dokter Indri kan biasanya cepat kalau periksa Mami. Jangan-jangan... jangan-jangan beneran ada bayi?"Kelana menghela napas, menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Karin, tenang. Mau ada bayi atau enggak, itu bukan kiamat. Yang paling penting itu kondisi Mami. Usi
Setelah prosedur transvaginal dimulai, resolusi di layar monitor menjadi jauh lebih tajam. Dokter Indri menggerakkan alatnya dengan perlahan, mencari setiap sudut rahim Raya. "Nah, ini dia sumber kegelisahan kalian," ujar Dokter Indri pelan. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdebar hingga ke telinga. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas sprei rumah sakit. "Dokter... katakan saja. Ada janin di sana? Apa saya benar-benar hamil di usia empat puluh lima tahun?" Sementara Ares mencondongkan tubuhnya, wajahnya hampir menempel pada monitor. "Itu dia kan, Dok? Titik hitam itu? Dia sedang bersembunyi?" Dokter Indri mematikan mesin USG, melepaskan sarung tangannya, kemudian memberikan tisu pada Raya untuk membersihkan diri. Raya bangkit dengan kaki yang terasa lemas. Ares merangkul pinggang istrinya, menuntunnya seolah Raya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Begitu mereka duduk, Dokter Indri memutar layar monitor ke arah mereka. "Ibu Raya, Pak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと