Aurel tersenyum senang sambil memandang Zahra. Baru juga beberapa jam, dia sudah kerasan karena banyak teman. Kalau di rumah papa atau mamanya, Aurel tidak memiliki teman bermain. Jadi mainnya sama gadget, lihat kartun, atau merecoki Mak Tam yang sedang beres-beres rumah."Tunggu di sini sebentar!" Emir bangkit dan melangkah ke ruang tengah. Di mana Naima masih mengemas barang untuk dibawa suaminya."Kasihkan roti ini untuk Mak Tam sama Ezar dan April ya, Mas." Naima menunjuk goodie bag warna kuning. "Yang brownies ini untuk Mas dan Aurel.""Oke," jawab Emir lantas menggaet pinggang Naima. "Besok bilang sama tukangnya, suruh segera beresin bagian dapur. Supaya bisa segera pindahan.""Iya. Besok aku bilangin. Beberapa hari ini libur karena aku nggak di rumah."Emir menunduk menjangkau bibir istrinya. Perlahan Naima mendorong tubuh suaminya. "Nanti dilihat sama anak-anak, Mas."Tiap kali hendak berpisah, yang ada hanya rasa berat. Di mana titik terberatnya? Semuanya terasa berat. Kalau
Last Updated : 2025-11-03 Read more