Hujan turun seperti gumam panjang yang lupa sendiri apa yang sedang ia ratapi. Setiap titiknya jatuh dengan arah yang tak sepenuhnya pasti—seakan sedang belajar memilih, lalu selalu gagal, lalu mencoba lagi. Dunia di sekeliling kami terasa seperti lembaran yang diremas, lalu dibuka kembali, membentuk lipatan-lipatan yang tak bisa benar-benar hilang.Dan di tengah suara hujan itu, kau duduk bersandar pada bahuku. Kepalamu berat—bukan karena beban pikir, tetapi karena tubuhmu sedang letih, lemah, seperti nyala kecil yang perlu dilindungi. Aku menunduk sedikit, menyandarkan daguku di atas rambutmu.“Aku di sini,” kataku. Bukan sebagai mantra, bukan sebagai janji. Hanya sebuah kehadiran yang tak meminta syarat apa pun.Kau menarik napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya menemukan sudut tenang setelah terlalu lama berdiri di tengah badai.“Terkadang…” bisikmu, suaramu serak karena sakit, “aku takut jadi titik yang hilang, yang tak punya tempat dalam kalimat.”A
Read more