Lampu kamar itu temaram, hanya satu lampu meja yang menyala di sudut ruangan, memantulkan cahaya kekuningan ke dinding putih yang terasa terlalu sunyi. Narine duduk di tepi ranjang, kedua kakinya terlipat ke dalam, punggungnya bersandar lemah ke kepala tempat tidur. Ponselnya tergeletak di samping, layar mati, tapi pikirannya justru menyala terlalu terang.Ia menutup mata sebentar.Namun yang muncul bukan gelap. Yang datang justru wajah Irene mata yang sembab, napas yang tersengal, suara yang bergetar seperti benang rapuh yang siap putus kapan saja. Bayangan itu menempel di kelopak matanya, menolak pergi.“Aku capek… aku benar-benar cinta sama kamu…”Kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya, seolah Irene baru saja mengucapkannya di ruangan ini, bukan beberapa jam lalu di apartemennya sendiri.Narine menghela napas panjang, dadanya terasa sempit. Ada rasa tidak nyaman yang mengendap di antara tulang rusuknya, bukan rasa marah, bukan pula benci. Lebih mirip… iba yang bercampur ta
最終更新日 : 2026-01-07 続きを読む