เข้าสู่ระบบWarning cerita ini mengandung unsur (19+) "Kamu mau terbebas dari gosip ini na?" Narine hanya menatap Arkana, menunggu laki-laki itu melanjutkan kata-katanya "Then jadi pacar pura-pura saya kalo gitu, kamu akan terbebas dari gosip dan kita akan saling menguntungkan" ucap Pak Arkana dengan percaya diri "saling menguntungkan?" Arkana tersenyum dan berkata, "Partner in bed, deal?" "Deal". Arkana menyeringai sembari kembali menyesap alkohol di tangan nya.
ดูเพิ่มเติมHappy reading dan jangan lupa kritik juga saran nya ya
Tidak ada yang pernah benar-benar siap menghadapi hari pertama kerja apalagi kalau pekerjaan itu menempatkanmu tepat di samping pria yang reputasinya lebih tajam dari pisau bedah: Arkana Rivard.
Gedung Aude’C Group menjulang tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan langit Jakarta yang muram pagi ini. Orang-orang bersetelan formal bergerak cepat keluar-masuk lobi, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan.
Dan di sanalah Narine Aldira berdiri, menggenggam map biru tua berisi dokumen onboarding dan kontrak kerjanya pekerjaan baru yang ia dapat hanya tiga hari setelah keluar dari perusahaan lamanya karena fitnah yang menjatuhkan namanya dalam semalam.
Brakk
"De cepetan dong katanya mau mandiri masa jam 7 belum siap-siap juga, kan ini hari pertama lo kerja" Pagi ku disambut dengan omelan 'Rajan' ya dia kakak ku satu satunya.
Dengan berjalan didepan ku dia masih terus mengomel tanpa henti "Lagian kenapa gak di perusahaan gue sih de, kan lebih praktis tu tinggal masuk terus ngintilin gue kemana pun"
"Justru itu yang gue gak mau, ogah banget ngintilin lu" jawabku ketus
“Nama?” tanya resepsionis formal di front desk tanpa senyum.
“Narine Aldira. Hari ini mulai bekerja,” jawabnya.
Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Divisi Sekretariat Eksekutif. Lantai 39. Pakai lift kanan.”
Ucapan ‘selamat datang’ tampaknya tidak tersedia di gedung ini. Bagus, pikir Narine. Profesional. Tanpa basa-basi. Cocok.
Begitu lift terbuka, suasana berubah drastis. Interior lantai 39 didominasi kayu walnut dan kaca gelap, dengan suasana sunyi tegang seperti ruang pengadilan. Karyawan berjalan cepat sambil menenteng iPad atau dokumen, nyaris tidak ada yang bicara.
Di dekat pintu masuk lantai, seorang wanita berponi pendek menyapanya cepat. “Kamu Narine? Saya Helena, sekretaris senior. Ikut saya.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutar badan dan melangkah cepat. Narine mengikutinya.
“Saya akan kasih kamu briefing singkat,” kata Helena dengan nada efisien, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “Kamu sekretaris pribadi Pak Arkana. Harus selalu siap dipanggil kapan pun. Termasuk kalau dia butuh kamu di luar jam kantor.”
Narine mengangguk. “Baik.”
“Nomor ponselmu harus aktif 24 jam.”
“Baik.”
“Jangan tanya dua kali kalau dia sudah menjawab sekali. Jangan ulangi kesalahan. Jangan pernah buat asumsi.”
Narine kembali mengangguk, tapi dalam hati bertanya apakah dia melamar sebagai sekretaris atau robot personal?
'Gue jadi sekretaris apa jadi babysitter nih masa 24 jam anjir'
Helena melanjutkan dengan suara lebih pelan, seakan kalimat berikutnya rahasia kantor yang tidak boleh terdengar oleh dinding. “Satu lagi. Ada tiga aturan utama bekerja dengan Mr. Arkana Rivard.”
Narine menatapnya.
“Pertama, jangan pernah telat kamu harus tepat waktu. Kedua, jangan pernah menunda instruksi. Ketiga-” Helena menatap langsung, “usahakan jangan pernah salah.”
Nada itu membuat Narine sedikit mengeraskan rahangnya. “Saya bisa mengikuti standar kerja tinggi. Itu bukan masalah, kak.”
Helena tersenyum tipis. “Bukan standar kerja yang jadi masalah. Orangnya.”
Maksudnya apa?
Tapi sebelum Narine sempat bertanya, pintu ruang eksekutif terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah memucat, memegang dokumen yang tampaknya baru saja dikoreksi. Kemeja birunya basah oleh keringat meski lantai ini ber-AC dingin.
Dia membisik pada Helena sebelum pergi, “Dia kenapa kayak bukan manusia.”
Helena hanya menepuk bahunya. “Dia masih hidup, ada-ada aja kamu”
Narine hampir tertawa sampai seseorang lewat di hadapannya.
Langkah panjang, jas hitam slim fit, aura tenang yang berbahaya. Sorot mata tajam. Rahang keras. Rambut hitam rapi sedikit berantakan seolah disentuh angin pagi. Arkana Rivard. Bahkan tanpa diperkenalkan pun semua orang akan tahu: dialah pusat gravitasi lantai ini.
Udaranya berubah saat pria itu lewat. Beberapa staf langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang menahan napas. Sementara Narine berdiri diam.
Arkana nyaris melewatinya, tapi kemudian berhenti. Menoleh. Menatap Narine sebentar dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Bukan tatapan menggoda. Bukan juga tatapan ramah. Lebih mirip evaluasi instan dan dingin.
“Orang baru,” katanya datar pada Helena.
“Ya, ini Narine Aldira, sekretaris-”
“Follow me,” potong Arkana.
Begitu saja. Tanpa kata perkenalan, tanpa salam. Ia berbalik dan berjalan. Narine refleks mengikuti. Helena memberi isyarat halus, cepet ikutin.
Ruang kerja Arkana berada di sisi paling ujung. Pintu kacanya tertutup, dan saat terbuka otomatis, Narine langsung merasa masuk ke tempat dengan tekanan oksigen lebih rendah.
Tidak ada foto pribadi. Tidak ada dekorasi. Hanya kesempurnaan dingin rak buku hitam, meja kerja walnut besar, dan pemandangan Jakarta dari dinding kaca.
“Sit,” katanya pendek, tanpa melihat ke arah Narine yang masih berdiri. Ia membuka iPad dan file digital.
Narine duduk. Diam. Menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada suara selain suara notifikasi e-mail yang sesekali terdengar dari perangkat Arkana. Narine ingin bicara tapi tak punya alasan.
Akhirnya, pria itu angkat wajah.
“Saya tidak akan bicara dua kali,” ucapnya tiba-tiba.
Narine menatapnya heran. “Maaf?”
“Saya tidak ulangi instruksi,” ulangnya, datar.
“Sa-saya belum menerima—”
“Kamu sekretaris. Artinya kamu harus cepat tanggap. Mengerti?”
Narine menahan napas. Wow. Ini baru tiga menit bertemu, dan pria ini sudah membuatnya ingin melempar binder.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Bagus.” Arkana menggeser iPad-nya. “Jadwal saya hari ini.”
Agenda itu muncul di layar yang diarahkan padanya penuh rapat, penuh negosiasi, penuh panggilan bisnis.
“Tugas pertama,” kata Arkana. “Siapkan dokumen kontrak dan proyeksi final untuk meeting jam sepuluh. Pastikan setiap lembar rapi, highlight poin negosiasi, dan tanda tangan direktur legal sudah ada sebelum pukul sembilan empat puluh.”
Narine mengecek jam tangannya. 08.52.
Sisa 48 menit?
“Dokumennya ada di server. Cari folder ‘Confidential’, subfolder ‘Aurum Merger’,” lanjut Arkana.
Narine mencatat cepat. “Passwordnya?”
Arkana menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak ramah. Lebih mirip tantangan.
“Cari tau. Kalau kamu pantas duduk di ruangan ini, kamu harus bisa menemukan semuanya.”
Mendengar itu Narine hanya bisa tersenyum lebar dan bergumam dalam hati
'Akhhhhhh! gila ni orang yang punya password kan dia, gitu aja suruh gue yang mikir'
Pagi itu rumah Arkana dan Narine sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Jam dinding di ruang makan baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi Narine sudah mondar-mandir dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang tamu, membawa berbagai barang kecil yang menurutnya penting.Di atas meja makan ada sebuah tas kecil berwarna biru muda dengan gambar dinosaurus. Tas itu terbuka, dan Narine sedang memasukkan berbagai benda ke dalamnya dengan penuh perhatian. Botol minum kecil.Kotak camilan.Tisu basah.Baju ganti.Arkana berdiri di dekat meja sambil menggendong Arsya yang masih terlihat agak mengantuk. Rambut kecil anak itu sedikit berantakan, pipinya masih tembam, dan matanya setengah terbuka.Arkana menatap tas kecil itu dengan ekspresi seperti sedang melihat sesuatu yang terlalu serius.“Ini beneran perlu?” tanyanya.Narine bahkan tidak menoleh.“Perlu.”Arkana mengerutkan dahi.“Dia masih bayi.”Narine akhirnya berhenti memasukkan barang lalu menoleh ke suaminya
Pagi itu rumah Arkana terasa lebih tenang dari biasanya, tapi bukan dalam arti yang menyenangkan. Biasanya, sejak subuh Narine sudah bangun, menyiapkan sarapan ringan atau sekadar duduk di meja makan sambil minum teh hangat. Namun hari ini, kamar mereka masih gelap dan sunyi.Arkana berdiri di sisi tempat tidur sambil menatap istrinya yang masih terbaring di bawah selimut. Wajah Narine terlihat sedikit pucat, dan rambutnya terurai berantakan di atas bantal.Arkana mengulurkan tangan dan menyentuh dahi istrinya.“Masih hangat,” gumamnya pelan.Narine membuka mata perlahan. Suaranya serak saat berbicara.“Cuma demam sedikit kok.”Arkana menghela napas.“Sedikit tapi tetap sakit namanya.”Narine tersenyum tipis.“Kamu kerja aja. Aku istirahat.”Arkana masih terlihat ragu. Ia tidak suka meninggalkan Narine saat kondisinya seperti ini.Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah pintu kamar.“Bu...”Keduanya menoleh bersamaan.Di sana berdiri Arsya dengan rambut aca
Setelah seharian dipenuhi suara langkah kecil, tawa, dan ocehan cadel seorang anak berusia dua tahun yang tidak pernah benar-benar bisa diam, malam menjadi seperti hadiah. Lampu ruang keluarga redup, televisi hanya menyala tanpa suara, dan udara malam terasa lebih damai dari biasanya.Arsya akhirnya tidur. Butuh hampir empat puluh menit bagi Narine untuk membuat anak itu benar-benar terlelap. Mulai dari membaca buku bergambar yang sama tiga kali, menyanyikan lagu yang bahkan Narine sendiri sudah lupa liriknya, sampai mengelus rambut halus Arsya yang akhirnya membuat matanya tertutup perlahan.Sekarang pintu kamar Arsya sudah tertutup.Dan untuk pertama kalinya hari itu, rumah benar-benar sunyi di jam 8 malam karena biasanya Arsya belum bisa tidur.Arkana menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti orang yang baru selesai lari maraton.“Damai banget si mbul tidur” gumamnya dramatis.Narine yang duduk di sebelahnya hanya melirik sambil tersenyum kecil. Ia masih memegang ponselnya, tapi perhat
Cahaya biru dari kaca raksasa aquarium menyelimuti lorong panjang tempat Narine, Arkana, dan Arsya berjalan. Air yang bergerak pelan membuat bayangan ikan-ikan besar melintas di atas kepala mereka. Anak-anak kecil di sekitar berlarian sambil menunjuk-nunjuk kaca, tapi yang paling heboh justru Arsya.Anak kecil berusia dua tahun itu berjalan dengan langkah yang masih agak goyah. Kakinya pendek, jalannya sedikit oleng ke kiri ke kanan, tapi wajahnya penuh semangat.“Paaah!” Arsya menunjuk kaca besar dengan jari kecilnya. “Ikannn!”Arkana yang berjalan di sampingnya melirik santai.“Iya itu ikan,” jawabnya. “Papah juga tahu itu ikan.”Arsya langsung mendekat ke kaca sampai hampir menempel.“Ikannn becal banget!” katanya lagi dengan suara cadel.Seekor ikan pari besar melintas di depan kaca, membuat Arsya melonjak kecil karena terlalu senang.Narine yang berjalan di belakang mereka tertawa pelan.“Lucu banget sih,” katanya.Arkana mengangkat alis. “Lucu banget ya? Ini anak 100% Arkana DNA


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น