Tiga bulan sudah sejak hari hujan itu.Dan setiap pagi, Alaire selalu bangun dengan perasaan yang sama: hening, tapi tak lagi sesakit dulu.Rumahnya masih sama seperti ketika Nayel ada — tanaman di teras, cangkir teh di rak, dan kain rajut yang setengah jadi di kursi kayu. Bedanya, kini semua itu tak lagi menyesakkan dada. Ia mulai belajar bahwa kehilangan bukan berarti harus melupakan. Kadang, justru di sanalah cinta tinggal diam, menunggu ditemukan ulang.Pagi itu, aroma tanah basah masih menempel di udara. Hujan semalam membuat halaman belakang tampak segar, daun-daun basah memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Alaire berdiri di dapur, menyeduh teh chamomile — teh kesukaan Nayel. Ia tak lagi meneteskan air mata ketika uapnya menghangatkan wajahnya. Hanya senyum kecil, samar, tapi tulus.Sambil menatap cangkir di tangannya, ia berbisik,“Aku tetap nyeduh dua, Nayel. Satu buatku, satu buat kamu.”Ia meletakkan satu cangkir di sisi meja yang berhadapan dengannya — kursi yang d
Last Updated : 2025-11-12 Read more