Setelah makan siang yang cukup tegang, suasana di ruang keluarga menjadi sedikit hening. Aku masih duduk dengan bibir manyun, hatiku belum sepenuhnya mereda.Angga, dengan wajah menyesal tapi menyimpan seulas senyum nakal, berusaha mendekatiku.“Sayang, maaf ya. Serius deh, maaf. Jangan cemberut terus dong, kamu cemberut begitu makin aku pengen cium lagi, tau gak? Ekspresi ngambekmu itu gemesin banget,” ucap Angga pelan, mencoba merayuku, nadanya terdengar seperti bercanda tapi matanya penuh arti.Mendengar ucapan Angga itu, mataku langsung melotot menatapnya. Aku tidak percaya Angga bisa berubah secepat ini setelah akad, menjadi sejujur dan semesum ini.“Mas Angga!” seruku tertahan, wajahku makin memerah.Ekspresiku yang melotot, namun tak bisa menyembunyikan rasa salah tingkah, justru membuat Angga semakin gemas. Dia terkekeh pelan, lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat.“Iya iya, Engga… aku cuma bercanda, sayangku,” katanya, mengoreksi ucapanku yang salah panggil, nadanya ki
Terakhir Diperbarui : 2025-11-14 Baca selengkapnya