Nara tidak pernah menyangka bahwa kalimat yang merobek hatinya hari itu bukan datang dari musuh… melainkan dari suaminya sendiri. “Kau tak perlu ikut kalau hanya menjadi gangguan, Nara.” Nada Damar datar, dingin, menggelegar di tengah lapangan upacara. Puluhan prajurit berdiri tegak, tidak ada yang berani menoleh, tapi semua mendengar. Nara berdiri di sisi lapangan, memegang payung yang bahkan tidak ia butuhkan. Wajahnya tetap tenang, tapi dadanya retak sedikit. Untuk orang lain, itu hanya teguran. Untuk seorang istri… itu penghinaan. Tepuk tangan seremonial pecah. Riuh, meriah, tapi bagi Nara suaranya seperti tepuk tangan untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu disaksikan siapa pun. Ia melangkah mundur, hak sepatunya terpeleset sedikit di tanah basah. Dan sebelum ia jatuh, sebuah tangan kuat menahan bahunya. “Hati-hati, Bu.” Suara itu pelan, tenang, tapi cukup dalam untuk membelah seluruh kebisingan. Nara menoleh. Arsa Wijaya. Bintara muda. Seragam rapi. Wajah bersih. S
Last Updated : 2025-11-06 Read more