LOGINAku istri seorang Kolonel. Hidupku diatur oleh seragam, upacara, dan tatapan penuh penilaian dari para istri perwira. Tidak ada ruang untuk salah langkah… apalagi untuk jatuh cinta. Lalu Arsa datang. Prajurit muda. Disiplin. Tegap. Dan setiap kali ia menunduk hormat, ada sesuatu di balik kesopanannya yang membuat jantungku berdebar tidak normal. Ia menjaga jarak. Aku pun begitu. Tapi semakin kami menjauh, semakin rasa itu mengalir di antara kami. Bahaya terbesar dalam hidupku bukanlah menjadi istri seorang komandan. Bahaya terbesar adalah rahasia yang kami bagi, tanpa pernah menyentuh, tanpa pernah bicara terlalu lama, tanpa pernah mengakui apa pun. Cinta ini tidak dimulai dari sentuhan. Cinta ini dimulai dari dua orang yang sama-sama menahan diri dan sama-sama ingin menyerah pada waktu yang salah.
View MoreArsa terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Nafasnya berat, seperti baru menyelam terlalu dalam ke mimpi yang tubuhnya sendiri belum siap lepaskan. Ada panas yang membekas di dada, sisa sesuatu yang ia tahu bukan sekadar mimpi, tapi keinginan yang hampir pecah.Ia duduk perlahan, memijit pelipis, tapi yang muncul bukan keheningan.Yang muncul adalah Nara.Nara dengan rambut panjangnya yang jatuh sedikit berantakan, seperti selesai dilepas dari ikatannya. Rambut itu selalu jadi awal kehancuran Arsa. Halus, hitam, jatuh di sepanjang punggung yang lembut. Dan dalam mimpinya barusan, rambut itu bukan hanya jatuh. tapi menyapu bahunya sendiri… pelan… seperti angin yang sengaja menggoda.Arsa menelan ludah, napasnya tersengal setengah detik.Bayangan itu kembali: Nara berdiri sangat dekat, hanya beberapa inci dari tubuhnya, tangan perempuan itu hampir menyentuhnya di dada. Bukan menyentuh… tapi hampir. Cukup dekat membuat kulit Arsa bereaksi, tapi cukup jauh sehingga ia terbangun den
Aku tidak tahu kenapa malam ini suaranya terdengar berbeda.Biasanya Arsa hanya terdengar pelan, tenang, seperti seseorang yang tidak pernah kehilangan kendali atas apa pun. Tapi sejak telepon itu berdering lagi malam ini, suara itu masuk ke telingaku dengan cara lain. Lebih berat. Lebih dalam. Lebih dekat. Seolah dia berdiri tepat di belakangku, padahal sebenarnya masih di markas.Aku duduk di tepi ranjang, rambutku tergerai turun sampai menutupi bahu dan lengan. Udara kamar hangat, namun kulitku terasa seperti ditimpa angin dingin dari balik jendela yang tertutup. Ada sesuatu yang tidak bisa kutahan sejak nada pertama suaranya.“Nara,” katanya pelan. Hanya itu. Namaku. Tapi entah kenapa, aku merinding dari tengkuk sampai punggung bawah.Aku tahu seharusnya aku menjaga jarak. Aku tahu. Bukan hanya karena aku istri seorang kolonel… tetapi karena aku sedang berjalan di garis tipis yang jika kutapaki terlalu jauh, aku akan sulit kembali.Namun suara Arsa… Suara itu seperti tali yang m
Arsa tahu ia harus tidur. Sudah lewat tengah malam, udara barak lembap, dan lampu temaram hanya tinggal garis kuning redup di atas meja kecilnya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ada gelisah yang menjalar dari dadanya turun ke perut, lalu berhenti di pangkal napasnya setiap kali bayangan Nara muncul lagi.Bukan bayangan yang besar, justru yang kecil. Cara Nara tadi siang menyibak rambutnya ke belakang telinga. Cara jemari perempuan itu menyentuh kerah baju, seolah merapikan, padahal tidak ada yang berantakan. Dan cara bahunya naik sedikit setiap kali ia tertawa pelan.Hal-hal kecil itu sekarang berubah menjadi denyut yang berulang di kepala Arsa.Ia menutup mata. Salah. Begitu tertutup, ia justru melihat lebih jelas, rambut Nara yang basah di bagian ujung, garis lehernya yang halus, nada suaranya saat menyebut namanya… tanpa gelar. Hanya “Arsa.”Nama yang biasanya kaku itu tiba-tiba terdengar seperti bisikan.Arsa mengusap wajahnya, frustrasi.Kenapa tubuhnya bereaksi begini cepat? Ken
Arsa tidak tahu sejak kapan napasnya mulai mengikuti ritme langkah Nara. Malam itu, lorong barak seperti menyusut; cahaya lampu kuning pucat membuat kulit Nara tampak lebih hangat dari seharusnya. Rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, seakan sengaja memberi ruang bagi leher halus yang selama ini hanya berani ia lihat sekilas.Nara berhenti dua langkah di depannya. Tidak jauh. Tidak aman juga. Cukup untuk membuat dada Arsa terasa sempit.“Ada yang mau kamu sampaikan?” suara Nara rendah, bukan berbisik, tapi dampaknya lebih dari itu. Seperti seseorang baru saja menggeser udara di antara mereka.Arsa menelan ludahnya. “Aku… cuma memastikan kamu pulang dengan aman.”Nara menoleh pelan. Gerakan kecil itu membangunkan seluruh indra Arsa. Rambutnya bergeser, menyentuh pundak dan jatuh ke punggung. Dan di bawah cahaya itu, kulit Nara seolah punya bahasa sendiri, halus, lembut, sedikit berkilau.Tidak ada yang vulgar. Tapi justru itu yang membuat Arsa hampir kehilangan kontrol.“Pulangku aman
Arsa tidak pernah menyangka hanya satu gerakan sederhana bisa membuat seluruh pertahanannya runtuh.Sore itu markas tampak biasa saja, suara sepatu, udara panas, aroma seragam yang baru disetrika. Tapi begitu Nara muncul di ujung lorong, semua hal yang biasa itu tiba-tiba seperti berhenti.Rambutny
Ada hal-hal yang tidak pernah direncanakan manusia, tapi justru itulah yang membuat jantung bekerja lebih keras. Seperti sore itu, saat Nara hanya bermaksud mengambil berkas dari atas meja rapat, hal sederhana, tapi bagi Arsa, itu menjadi bencana kecil yang menghantam seluruh ketenangannya.Ia tid
Arsa tidak pernah menyangka dirinya bisa selemah ini.Hanya suara Nara dari seberang meja rapat sore itu sudah cukup membuat tengkuknya memanas. Ia seharusnya mendengar laporan, mencatat poin penting dari para perwira, fokus pada kata-kata Komandan, suami Nara, yang duduk dua kursi di depannya.Tap
Arsa tidak pernah berniat menunggu malam. Tapi entah bagaimana, tubuhnya selalu menemukan jalan untuk diam pada jam yang sama: beberapa menit sebelum tidur, tepat ketika lampu kamar dipadamkan, hanya tersisa sinar dari luar jendela yang menyusup seperti garis tipis di dinding.Di titik itu, pikiran












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews