“Mei…” desis Lionel tak percaya.“Cium aku, Om,” bisik Meilissa.Kata-kata itu meluncur ringan, tapi ternyata justru menghantam kesadaran Lionel telak. Dia spontan menarik kepalanya ke belakang, napasnya tercekat oleh sebuah permintaan mengejutkan dari teman puterinya.Beberapa saat mata Lionel menatap Meilissa lekat-lekat, berusaha memastikan kalau dia tidak salah dengar.“A-...apa yang kamu katakan, Mei?" tanya Lionel dengan suara serak. Meilissa mendongak, menyesuaikan posisinya agar wajah mereka sejajar. Sorot matanya tidak lagi menyimpan keraguan, saat dia mengatakan sekali lagi permintaannya."Cium aku, Om."Permintaan itu bukan sembarang hadiah, melainkan sebuah pemberian yang sangat pribadi. Dan, intim.Lionel menelan ludah. Pandangannya menelaah setiap inchi wajah Meilissa—garis pipi yang lembut, mata yang sedikit sembap, dan bibir yang kini tampak lebih menantang dari sebelumnya.Di dalam kepalanya, sisa-sisa kewarasan memperingatkannya dengan keras, 'Dia teman Liora. Usiany
Última atualização : 2025-12-31 Ler mais