MasukMeilissa hanya butuh satu hal yang tidak pernah dia miliki selama ini, yaitu kasih sayang seorang ayah. Siapa sangka, Lionel, ayah teman baiknya, memberi segalanya. Tempat tinggal, perhatian dan rasa aman yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh dia. Namun perlahan, setiap percakapan dan sentuhan di antara mereka menimbulkan getaran-getaran yang tidak seharusnya ada. Perlindungan berubah menjadi keinginan. Kedekatan berubah menjadi godaan. Lionel dan Meilssa tahu kalau hubungan ini melanggar norma. Mereka menyadari bahwa cinta yang dirasakan tumbuh dalam ketidak nyamanan sosial. Namun hati mereka tidak bisa patuh. Mampukah mereka bertahan dalam cinta terlarang? Atau, kalah karena terlalu banyak yang menghakimi?
Lihat lebih banyakSementara itu, di rumah besar Sinclair yang terletak tidak jauh dari sana, suasananya berbeda seratus delapan puluh derajat.Ruang keluarga yang luas itu terasa sunyi.Beatrice duduk tegak di atas sofa, secangkir teh di tangannya sudah setengah dingin karena nyaris tidak disentuh. Tatapannya tidak bergerak dari layar tablet kecil yang sengaja dipasang oleh Daniel di meja rendah di depannya.Di layar itu, video kiriman Bibi Emma sedang diputar.Lionel mengangkat Louis tinggi-tinggi, lalu bergantian mengangkat Louisa yang sudah tidak sabar menunggu gilirannya.Anak lelaki kecil itu tertawa keras, suaranya meledak-ledak dengan riang. Sementara gadis kecilnya memekik senang ketika akhirnya tubuhnya pun terangkat ke udara. Lalu, Meilissa memeluk kedua anaknya dari samping, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang bukan dibuat-buat.Video itu hanya berdurasi sekitar tiga menit. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang menyelusup pelan-pelan mele
"MAMA!"Dua suara kecil menyambut Meilissa dan Lionel pulang kerja.Suaranya nyaring terdengar begitu kaki mereka melewati ambang pintu utama, memekik nyaring hampir bersamaan, disertai bunyi sepatu yang bergesekan di lantai marmer.Rasa lelah setelah kerja menguap begitu melihat dua sosok kecil berlomba-lomba menghampiri mereka.Meilissa langsung bergerak cepat, langkahnya ringan seperti orang yang sudah menunggu momen ini sejak tadi pagi.Dia berjongkok dan merentangkan kedua tangannya tepat saat Louisa, puteri kecilnya itu, menabrak masuk ke dalam pelukannya.Gadis kecil itu memeluk leher mamanya erat-erat, pipinya menempel hangat di bahu Meilissa."I miss you, Mama," ucapnya manis."I miss you, Sweetheart," balas Meilissa tidak kalah manis.Lionel tidak mau tertinggal. "Hey, aku ikut!" serunya."PAPA!" pekik Louis, menambah keramaian sore itu.Lionel tersenyum lebar. Dia berjongkok dengan kedua tangan terentang. Bocah laki-laki yang berusia tidak tahun itu dengan penuh semangat la
Sore itu taman belakang rumah Lionel terasa lebih tenang dari biasanya.Cahaya matahari yang mulai condong ke barat melemparkan bayangan panjang di atas lantai batu alam yang bersih. Angin bertiup pelan, cukup untuk menggerakkan daun-daun di pojok taman tanpa benar-benar mengusik keheningan.Di tengah suasana itu, dua sahabat duduk berhadapan — botol dan kaleng minuman tersebar di meja kecil di antara mereka, menjadi saksi bisu percakapan yang sudah berlangsung sejak tadi.Liora sudah kembali dari rumah sakit. Kondisinya berangsur pulih, dan Rick memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah Lionel — alasan resminya adalah liburan, tapi sejujurnya dia memang tidak tenang kalau tidak bisa memantau langsung keadaan Liora.Dan sekarang, Rick menyesal sudah bertanya."Kamu benar-benar gila!" komentar Rick begitu Lionel selesai bercerita tentang keputusannya mengundurkan diri dari Rumah Sakit Sinclair.Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa sensor, murni keluar dari lubuk hatinya yan
Sepasang mata Beatrice menatap dengan sorot yang tajam dan dingin. Ekspresinya datar saat pandangannya menyapu sosok sepasang suami istri yang berdiri di hadapannya.Setengah jam sudah berlalu sejak beliau menunggu. Dan kini, akhirnya Lionel datang juga, dengan Meilissa yang dibawanya serta.Beatrice duduk tegak di kursi sofa. Punggungnya lurus, bahunya tidak bergerak, dan seluruh posturnya memancarkan wibawa seorang wanita dominan yang terbiasa ditaati.Matanya menatap dalam-dalam pada lelaki gagah yang selama ini digadang-gadang akan menjadi penerus rumah sakit peninggalan mendiang suaminya. Anak laki-laki satu-satunya. Satu-satunya penerus yang memang cakap, dan memang dia banggakan diam-diam di balik semua ketegasannya.Lionel tidak menunduk. Dia membalas tatapan Mamanya dengan postur yang sempurna, tegak tanpa ketegangan yang berlebihan. Ini bukan sikap menantang, melainkan sikap seseorang yang sudah memutuskan, dan sudah siap menanggung apa pun akibat dari pilihannya.Beatrice m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak