LOGINMeilissa hanya butuh satu hal yang tidak pernah dia miliki selama ini, yaitu kasih sayang seorang ayah. Siapa sangka, Lionel, ayah teman baiknya, memberi segalanya. Tempat tinggal, perhatian dan rasa aman yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh dia. Namun perlahan, setiap percakapan dan sentuhan di antara mereka menimbulkan getaran-getaran yang tidak seharusnya ada. Perlindungan berubah menjadi keinginan. Kedekatan berubah menjadi godaan. Lionel dan Meilssa tahu kalau hubungan ini melanggar norma. Mereka menyadari bahwa cinta yang dirasakan tumbuh dalam ketidak nyamanan sosial. Namun hati mereka tidak bisa patuh. Mampukah mereka bertahan dalam cinta terlarang? Atau, kalah karena terlalu banyak yang menghakimi?
View More"Engh... yes... di situ... mmh…."
Suara desahan seorang pria terdengar menembus dinding tipis yang membatasi antara kamar Meilissa dan mamanya.
Tubuh Meilissa menegang. Bunyi decit ranjang yang bergerak secara teratur sangat mengganggu akal sehatnya.
"Aaah, Ron. Di sana... enak sekali… oh...." Desahan seorang wanita menyusul. Itu suara mamanya.
Selanjutnya, desahan dan erangan terdengar bersahutan. Semakin lama semakin kencang dan intens.
Meilissa lekas menyambar headset bluetooth dari atas meja dan menyumpal telinganya dengan benda itu.
“Dasar tidak tahu malu!” gerutunya jijik. Jemarinya bergetar saat memilih lagu. Detik berikutnya, musik berirama cepat dan menghentak memenuhi telinga gadis itu, menggantikan suara-suara yang membuatnya ingin muntah.
Ini bukan pertama kalinya Meilissa menyaksikan dan mendengarkan hal tidak senonoh macam ini. Ibunya kerap membawa pacar-pacarnya ke rumah dan bercinta seolah mereka adalah pemilik dunia.
Tapi, tetap saja, Meilissa tidak pernah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
“Hhh… kali ini dengan pacarnya yang mana lagi?" lirihnya, campuran marah dan sedih.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru bagaikan neraka baginya.
Gadis itu menengok keluar jendela. ‘Masih sore. Dan mereka melakukannya seakan-akan aku tidak ada,’ batinnya nelangsa.
Meilissa duduk di lantai sambil memeluk dirinya sendiri. Matanya memandangi ponsel yang tergeletak di dekat kakinya, menunggu-nunggu sebuah telepon yang sangat dia harapkan.
Andai saja bisa, dia ingin pergi dari tempat ini.
Penantian itu berakhir saat layar ponselnya menyala. Nama Liora, sahabatnya, tertera di layar.
“Mei! Sopir sudah menuju ke rumah kamu. Okay?” Suara cerita Liora terdengar dari loudspeaker ponsel Meilissa begitu panggilan terhubung.
“Ugh, lamanya. Aku sudah menunggu dari tadi,” keluh Meilissa sambil melihat sekilas petunjuk waktu di layar ponselnya.
Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun sahabatnya. Meilissa tentu turut diundang hadir ke pesta. Tadinya, Meilissa ingin berangkat sendiri. Namun Liora bersikeras meminta sopirnya menjemput Meilissa.
“Lima menit lagi, Mei! Sabar ya,” seru Liora lagi. “Sekarang aku mau pakai gaun dulu. Bye.” Telepon ditutup sepihak.
Menghela napas, Meilissa mulai menghitung mundur waktu di mana dia bisa kabur sejenak dari suasana yang tidak nyaman ini.
Tak lama, pesan dari sopir Liora masuk, memberitahu bahwa dirinya sudah sampai di depan rumah.
Meilissa meloncat dari duduknya. Dia menyambar tas kecilnya, lalu keluar kamar. Langkah kakinya bergerak cepat menuju pintu keluar, meninggalkan suara desahan-desahan menjijikkan itu di belakang.
BLAM!
Di depan rumah, sopir sudah menunggu dan langsung membukakan pintu untuknya.
“Terima kasih, Pak.”
Begitu pintu mobil tertutup, Meilissa menghembuskan napas lega.
Perjalanan menuju rumah Liora tidak membutuhkan waktu lama, tapi cukup untuk mengendorkan urat syaraf Meilissa.
Tiba di rumah Liora, suasana kontras menyambutnya. Rumah besar nan mewah. Pelayan yang sopan dan ramah. Lalu, sambutan hangat Liora.
“Hey! Ayo cepat. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu di kamarku,” ucap Liora, langsung merangkul sahabatnya.
“Wow, cantiknya! Aku sampai tidak mengenalmu,” puji Meilissa spontan sembari mengikuti langkah Liora menuju kamarnya.
“Dia akan membantumu berdandan,” ujar Liora saat mereka sudah sampai di kamar.
Liora menunjuk seorang wanita muda yang berprofesi sebagai penata rias wajah dan rambut profesional.
Meilissa mengangguk sambil tersenyum canggung.
“Gaunmu ada di ruangan itu.” Liora menunjuk sebuah pintu yang letaknya masih di ruangan yang sama.
“Thanks, Li,” ucap Meilissa terharu. Seharusnya dia datang membawa kado, tapi sebaliknya temannya itu malah menyiapkan segalanya untuknya.
“Eh, Mei! Sebentar. Apa kamu tahu?” Liora mengangkat ponselnya tepat di depan hidung Meilissa.
“Apa?” Meilissa memundurkan kepalanya, ingin melihat apa yang ditunjukkan oleh temannya. Ada sebuah pesan dari cowok yang ditaksir oleh Liora.
“Dia… sebentar lagi datang!” bisik Liora, menutup mulut sambil tertawa pelan.
“Cie… cepat sambut dia. Sampaikan peluk dan cium dariku,” canda Meilissa spontan.
“Hey, dia milikku!” Liora pura-pura marah, “Kamu itu cocoknya sama Om-Om,” celetuknya asal.
Meilissa terkekeh. Tangannya melambai seperti gerakan mengusir. “Pergilah! Ingat! Jangan bermesraan dengannya di hadapanku.”
“Kalau iri, cari jodohmu malam ini.” Liora menjulurkan lidah, lalu pergi sambil tertawa keras.
Meilissa menggelengkan kepala, ikut tertawa. Candaan semacam itu sudah biasa terlontar di antara dua gadis yang bersahabat itu.
“Silahkan, Nona,” ucap penata rias, mulai mengarahkan Meilissa untuk bersiap.
Sentuhan demi sentuhan disapukan ke wajah polos Meilissa. Rambut digulung supaya bergelombang di ujung. Terakhir, gaun dan sepatu dipakai satu per satu oleh Meilissa.
“Anda cantik sekali, Nona,” puji penata rias, menatap bayangan Meilissa di cermin.
“Terima kasih,” ucap Meilissa, ikut mengagumi dirinya sendiri. Gaun mahal yang menyapu lantai, heels yang nyaman dan tas cantik melekat sempurna di tubuhnya yang langsing.
Setelah penata rias berpamitan, Meilissa kembali mematut diri di depan cermin, kemudian asyik selfie dengan berbagai pose.
Sedang asyik-asyiknya bergaya, suara laki-laki terdengar dari luar kamar.
“Liora? Sayang? Papa udah pulang!”
Deg!
Jantung Meilissa seakan berhenti berdetak mendengar suara bariton yang familiar itu.
“Astaga, Om Lionel!” pekiknya panik, bergegas mengambil tas tangan dan bersiap keluar.
Tidak ingin bertemu berdua saja dengan Lionel di kamar, Meilissa tergopoh-gopoh berlari keluar, bermaksud kabur karena pasti akan canggung bertemu dengan pria itu tanpa Liora.
Tapi….
“Aah!”
Ujung gaunnya terinjak oleh kakinya sendiri. Pintu terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang hilang keseimbangan. Meilissa terhuyung ke depan.
Bruk!
“Aduuh!” lirihnya, saat merasakan tubuh bagian depannya mendarat di atas sesuatu yang keras dan padat.
“Ugh! Kamu ternyata berat juga.”
Meilissa membeku saat mendengar erangan seorang pria di dekat telinganya. Detik itu juga dia menoleh. Matanya membulat, wajahnya tidak sampai sejengkal dari wajah Lionel.
“Oh, ya ampun! Maaf, Om!” seru Meilissa setelah berhasil menguasai diri. Pipinya terasa panas.
Dia berusaha bangun, Lionel juga ikut bangun. Tapi, entah bagaimana, gaunnya lagi-lagi tersangkut ujung heels.
Meilissa kembali terhuyung
“Hati-hati….” Lionel meringis pelan, satu tangan refleks menahan pinggang Meilissa.
Napas Meilissa tersentak saat merasakan lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menjaganya supaya tidak terjatuh.
“Om… Lionel…” bisiknya pelan, nyaris tanpa suara. Jantungnya berdebar kencang tak terkendali.
Mereka sudah pernah bertemu beberapa kali saat beliau mengantar Liora ke kampus.
Tapi… mengapa Meilissa baru menyadari pria di hadapannya ini tampan sekali?
Di dalam kamar, Liora meringkuk di atas tempat tidur, selimut ditarik hingga ke pinggang. Satu tangannya menekan perut bagian bawah, sementara tangan yang lain menggenggam seprai dengan lemah. Rasa nyeri itu datang dalam gelombang—kadang mereda, lalu kembali lagi dengan intensitas yang membuat napasnya tercekat.Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napas seperti yang pernah diajarkan.Tarik… tahan… hembuskan…Namun tetap saja, sakitnya tidak benar-benar pergi.Dari perut bagian bawah, rasa itu menjalar ke punggung, membuat tubuhnya terasa berat dan dingin sekaligus. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Nyebelin…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.Sudah lama ia tidak merasakan sesakit ini.Biasanya… ada yang tahu harus melakukan apa.Pikiran itu datang begitu saja, tanpa diundang.Papa.Lionel pasti akan langsung tahu. Tanpa banyak tanya, tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Hanya dengan sekali lihat, ia akan menghela napas kecil, lalu berkata bahwa ini normal—meski tetap menye
"Liora?"Rick melirik sekilas ke arah Liora yang duduk di kursi penumpang. Gadis itu menatap ke luar jendela, wajahnya pucat, bibirnya sedikit terkatup seolah menahan sesuatu. Sejak mereka meninggalkan acara, hampir tidak ada percakapan berarti.“Kamu diam saja dari tadi,” ujar Rick akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap ringan. “Masih kepikiran yang di pesta tadi?”Liora tidak langsung menjawab. Ia menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya dengan hati-hati. “Enggak,” jawabnya singkat.Hanya satu kata. Dingin, datar.Rick mengerutkan kening. Ia menunggu kelanjutan, tapi tidak ada. Hanya suara mesin mobil dan deru jalan yang menemani mereka.“Kamu yakin?” Rick mencoba lagi, kali ini lebih serius. “Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman—”“Aku cuma capek,” potong Liora cepat.Jawaban itu terdengar seperti tembok. Tegas. Menutup.Rick terdiam. Ada sesuatu yang tidak pas, tapi ia tidak bisa menunjuk tepat di mana letaknya. Dari sudut matanya, ia melihat Liora sedikit membungkuk
"Iya, kan?!" seru Liora.Suaranya meninggi dengan emosi yang tidak bisa disembunyikan lagi, "Seharusnya Uncle membawa wanita yang lebih matang ke acara seperti ini. Supaya bisa ikut bicara. Supaya tidak memalukan seperti aku."Matanya terasa panas. Liora tidak mau menangis, tapi karena emosi yang terlalu lama ditahan akhirnya kekesalan itu mencari jalan keluarnya sendiri.Melalui nada suaranya yang tinggi. Lewat tatapan yang tajam. Serta, seluruh gerak tubuhnya yang terasa seperti meledak-ledak.Rick memandang Liora dengan dahi yang semakin berkerut. Dia sungguh tidak mengerti ke mana arah semua ini."Tunggu dulu, Cutie Pie. Kita bicara baik-baik. Okay?"Dan, ketidak pahaman ini membuat Liora semakin geram."Tidak perlu! Aku tidak ingin bicara!" tolak Liora keras kepala. Sedikit pun tidak memberi Rick kesempatan untuk memahami arah pembicaraan mereka."Kamu kenapa, Cutie Pie?" keluh Rick sambil mengusap wajah, frustasi. Pengalaman bertahun-tahun menghadapi mental health remaja teras
"Huh!" dengus Liora pelan.Dia melepas tangan Rick dengan satu tarikan menghentak."Permisi. Aku mau ke toilet dulu."Kalimat itu meluncur dengan nada datar dan volume suara yang sangat rendah, tapi sanggup membuat jantung Rick berhenti berdetak beberapa saat.Gadisnya benar-benar marah!Rick tertegun sambil memandang punggung Liora yang bergegas pergi tanpa menunggu respon darinya.Gadis itu menjauh dari tempat acara dengan langkah kakinya panjang dan cepat, sambil mengomel dalam hati.'Tersenyum....tersenyum..., tersenyum bagaimana?! Sudah dicueki! Masih dibandingkan pula dengan Tante Margaretha! Dasar laki-laki menjengkelkan! Tidak peka!"Liora bergegas mengikuti papan penunjuk bertuliskan toilet, ingin secepatnya menenangkan diri dari emosi yang mengusik perasaannya.Dia mendorong pintu dan menerobos masuk. Mendapati ruangan itu kosong, Liora menghembuskan napas lega.Beberapa detik, Liora memejamkan mata sambil berusaha mengusir perasaan-perasaan yang menyesakkan dada.Belum berha
“Papa dari mana?” tanya Liora heran saat Lionel akhirnya masuk ke dalam kamar rawatnya.Sudah hampir satu jam berlalu sejak Bibi Emma mengatakan Lionel hendak menemui dokter sebentar. Suster bahkan datang lebih dulu untuk memeriksa tekanan darah dan memastikan kondisi Liora stabil.Dengan wajah mas
“Dokter, saya mohon—”Tanpa memberi kesempatan pada Clara untuk melanjutkan kalimatnya, Lionel langsung memotong dengan suara dingin, “Temui HRD. Aku tetap akan memberimu kompensasi, meski ini adalah salahmu.”Bahu Clara luruh seketika. Dia sudah mengenal Lionel cukup lama untuk tahu ketika laki-lak
"Non, Tuan Lionel mau datang. Katanya sudah dalam perjalanan...." Bibi Emma berkata pelan sambil membaca pesan singkat di ponselnya.Suara itu memecah kesunyian kamar rawat mewah yang dihuni oleh Liora. Di dekat jendela, tirai putih tipis bergerak pelan tertiup angin dari ventilasi AC.Di atas ran
Nama-nama itu meluncur masuk ke dalam otak Liora. Satu per satu, seperti tali yang dilemparkan ke seseorang yang hampir tenggelam.Bukan sekadar nama-nama orang, melainkan lingkaran orang yang mencintainya tanpa syarat.Meilissa.Papanya.Bibi Emma.Oma Beatrice.Mereka berbeda dari Ferdinand. Mere


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore