"Aduh..," gumam Alya, pelan. Nama Bastian yang muncul di layar. Alya sempat menatap layar itu beberapa saat, sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut."Halo. Kenapa Mas?" tanya Alya, seragam berbisik. "Halo, Al."Suara Bastian terdengar santai dari seberang sana. "Makasih ya."Alya sedikit mengernyit. "Makasih buat apa?""Udah kirim nomor rekening, tadi."Alya langsung tersenyum kecil. "Oh, sama-sama.""Dan ternyata nggak perlu saya tagih dulu."Alya terkekeh pelan. "Iya, iya. Kan udah aku kirim. Jadi aku nggak perlu dengerin omelan kamu lagi.""Nah, gitu dong. Sadar dan paham sama calon suami," ledek Bastian. "Kok calon suami? Kan aku belum setuju, masih dipikirin," tanya Alya, lagi. "Ya, nanti juga kamu pasti setuju. Kan ini buat anak kita, Soni," jawab Bastian. "Dih! Ternyata, Ayahnya Soni, tingkat ercaya dirinya tinggi banget ya?""Harus dong. Kalo nggak, aku nggak mungkin ada di antara kamu dan Soni sekarang.""Dasar..," ucap Alya, sambil tersenyum kecil. Beberapa saa
Read more