"Ikut sedih ya, Van, aku baru tahu dari Wina soal kejadian yang menimpa kamu."Vanka berusaha melengkungkan bibir membentuk senyum pahit. Senyum yang terasa begitu lemah dan dipaksakan. Bagaimana mungkin dirinya bisa tersenyum setelah musibah itu?"Makasih, Jev, udah repot-repot datang ke sini," ucapnya pada Jevan.Tadi beberapa orang teman Vanka juga datang membesuk."Nggak repot kok, Van," balas Jevan cepat. "Aku ke sini bukan karena kasihan. Tapi karena kamu penting."Vanka terdiam. Ia menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Masih terasa perih di tubuhnya, tapi yang lebih sakit adalah hatinya."Aku masih belum percaya semua ini kejadian," gumamnya. "Rasanya kayak mimpi buruk yang nggak mau selesai.""Sabar ya. Semua ini pasti ada hikmahnya," jawab Jevan sembari mengusap punggung tangan Vanka yang berada di atas perutnya. "Aku tahu ngomong memang gampang. Tapi aku juga tahu kamu itu perempuan yang kuat. Sedih boleh aja. Tapi setiap kali kamu ngerasa putus asa, kamu harus ingat, Van
Última actualización : 2026-01-19 Leer más