“Van, kamu berdarah,” kata Wina cemas saat melihat bekas gigitan yang memerah dan mulai membiru di pergelangan tangan Vanka. Warnanya begitu jelas terlihat di kulit Vanka yang putih, bersih dam mulus.“Nggak apa-apa, cuma sedikit,” jawab Vanka tidak ingin menganggapnya sebagai masalah besar meski wajahnya pucat. Ia menarik tangannya yang dipegang Wina."Nggak bisa dibiarin, Van. Kamu, kan, tahu mulut manusia penuh bakteri. Kita ke klinik kecil aja. Atau apotek. Ini nggak bisa dibiarin," tegas Wina sekali lagi sehingga akhirnya Vanka hanya bisa menurut.Wina membawanya ke sebuah apotek yang tidak jauh dari mall, membeli obat dan mengobati tangan Vanka dengan sigap, seolah sedang menangani pasien.“Ini perih, Van. Tahan ya.” Vanka mengangguk. Saat kapas beralkohol menyentuh luka bekas gigitan itu, tubuhnya menegang. Rasa perihnya menusuk, membuat matanya berair, tapi ia tidak bersuara. Ia hanya memalingkan wajah, menatap kosong ke arah jalanan penuh kendaraan.“Kalau sampai infeksi bis
Last Updated : 2026-01-26 Read more