"Papa!" seru Lengkara begitu melihat Reza muncul di ambang pintu ruang rawat anak lantai empat.Hari itu sebenarnya hari terakhir mereka di rumah sakit setelah dua hari menjalani kemoterapi lanjutan. Tubuhnya masih lemah, tapi matanya berbinar karena kedatangan sang ayah.Reza tersenyum, lalu berjalan mendekat. "Hai, putri kecil Papa," ujarnya lembut, lalu mencium puncak kepala Lengkara. "Papa bawa buah kesukaan kamu nih, sama komik baru."Anak berusia enam tahun itu tersenyum lemah. "Makasih, Pa."Reza membantu membetulkan selimut Lengkara. Pria itu memang sangat menyayangi putrinya."Kata dokter Dini, aku hebat, Pa. Soalnya aku nggak nangis waktu disuntik."Reza tertawa sambil mengelus kepala gundul putrinya. "Iya dong. Anak Papa, kan, hebat."Vanka yang sedari tadi berdiri di sisi tempat tidur hanya diam. Setelah menatap keduanya, ia memalingkan wajah. Sesuatu menekan dadanya. Begitu Reza bertanya tentang hasil pemeriksaan pendonor, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.Lalu Reza
Last Updated : 2025-11-03 Read more