LOGINVanka dan Shankara pernah menikah lalu berpisah karena kesalahpahaman. Vanka pergi dari hidup Shankara tanpa pria itu tahu bahwa Vanka mengandung anaknya. Setelah tujuh tahun, Vanka terpaksa mencari Shankara karena anak mereka mengidap penyakit mematikan yang membutuhkan donor dari ayah kandungnya. Vanka dan Shankara kembali dekat karena anak mereka, membuat cinta lama bersemi kembali di antara keduanya. Hanya saja keadaan sudah berubah. Vanka sudah menikah lagi dengan Reza. Sementara Shankara sudah memiliki pengganti dan akan menikah. IG Author: distrakzii
View More"Abang nunggu di mobil aja ya, Van?""Kok nggak turun? Nggak nunggu di lobi aja?""Di sini aja. Sekalian mau tidur. Masih ngantuk dimanjain sama kamu semalam," ucap Shankara penuh arti.Vanka mengerling. Seulas senyum terbit di bibirnya. "Kalau masih ngantuk kenapa nggak tidur di rumah aja?""Kalau tidur di rumah jadi nggak bisa ikut sama kamu dong.""Ih, apa sih jawabannya?" Vanka memukul ringan lengan Shankara yang membuat lelaki itu tertawa. "Ya udah, Bang, aku turun dulu.""Hati-hati."Tangan Vanka sudah berada di pintu mobil, akan membukanya ketika Shankara menahannya.Vanka menoleh. "Ya, Bang?"Pria itu merengkuh Vanka lalu mengecup keningnya dan mengatakan, "Good luck ya. Semoga si Jevan-Jevan itu nggak banyak tingkah."Vanka tersenyum tipis mendengar ucapan terakhir Shankara. Ada nada cemburu di sana, tapi lebih terasa sebagai candaan yang dibalut perhatian.Tanpa berkata apa-apa dielusnya pipi lelaki itu kemudian turun dari mobil.Vanka melangkah masuk ke lobi Mediora Hospita
“Jevan bilang kalau aku mau comeback ke Mediora bisa langsung diterima, Bang,” kata Vanka malam itu, berbaring menyamping menghadap Shankara. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya temaram dari lampu tidur yang menyisakan bayangan lembut di wajah mereka. “Nggak pake tes?” kata Shankara menanggapi. “Ada sih, tapi cuma buat formalitas.” Shankara berdeham pelan. “Kok bisa semulus itu?” “Abang, kan, tahu, Jevan itu anak owner. Ya bisa dibilang dia owner-nya juga. Lagian dulu aku, kan, pernah di sana walau nggak lama.” “Cuma itu?” Shankara seakan belum puas oleh jawaban yang didengarnya. “Jadi Abang maunya apa lagi?” “Siapa tahu dia masih naksir sama kamu.” Ucapan Shankara itu membuat Vanka terdiam beberapa detik. Lalu ia tertawa dan menggeser wajahnya. “Abang kok mikirnya ke situ sih?” “Ya wajar,” jawab Shankara jujur. “Kamu cantik. Pintar. Dokter pula. Emang nggak boleh kalau Abang sedikit waspada?” “Dengar ya, Bang. Jevan itu profesional. Dan aku ke Mediora b
"Mau tahu apa mau tahu banget?" Giliran Vanka yang menggoda Shankara dengan senyum tersungging di bibirnya."Mau tahu banget banget banget!" jawab lelaki itu excited.Vanka tertawa lalu mengajak Shankara duduk. Ternyata dari tadi mereka bicara sambil berdiri."Gimana?" tagih Shankara tidak sabar setelah mereka duduk bersebelahan duduk di sofa dengan posisi miring berhadapan."SIP aku sudah direaktivasi. Rekomendasi IDI sudah turun, dan Dinas Kesehatan sudah mencabut status pembekuannya. Jadi aku sudah bisa kerja lagi, Bang." Vanka memberitahu dengan senyum yang tidak habis-habis di bibirnya.Shankara termangu beberapa detik. Ia sama sekali tidak tahu entah kapan Vanka mengurusnya. Tahu-tahu Vanka mengatakan sudah aktif lagi."Kok Abang diam? Abang nggak senang ya?" Vanka tanyakan lantaran Shankara tidak menanggapinya."Senang lah, Sayang. Abang cuma kaget kamu kasih tahu mendadak gini. Selamat ya," ujar Shankara sembari merengkuh Vanka dan membawa ke pelukannya."Makasih, Bang.""Tapi
Tanpa membuang waktu, hari ini Shankara melaporkan Raline ke pihak berwajib. Ia tidak sendiri tapi juga membawa Ambar sebagai pengacara dan Anton sebagai saksi. Tak lupa menyertakan barang bukti.Mereka diarahkan ke bagian SPKT.Seorang petugas menyambut dengan nada formal.“Ada yang bisa kami bantu, Pak?”“Saya mau membuat laporan,” jawab Shankara. “Ini pengacara saya, Bu Ambar. Dan ini Anton, saksi.”Petugas mengangguk, lalu mempersilakan mereka duduk. Sebuah komputer dinyalakan. Buku laporan dibuka.“Silakan diceritakan kronologinya secara singkat dulu.”Dengan lancar dan detail Shankara menceritakan mengenai kejadian itu dengan keadaan yang sebenarnya tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi.Ambar menimpali. “Kami membawa barang bukti awal berupa rekaman suara berdurasi lebih dari sepuluh menit, Pak.”Petugas beralih memandang Ambar dan ekspresinya berubah lebih fokus. “Boleh kami lihat?”Sang pengacara menyerahkan flashdisk dari tasnya. Tadi Shankara sudah lebih dulu meny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore