LOGINVanka dan Shankara pernah menikah lalu berpisah karena kesalahpahaman. Vanka pergi dari hidup Shankara tanpa pria itu tahu bahwa Vanka mengandung anaknya. Setelah tujuh tahun, Vanka terpaksa mencari Shankara karena anak mereka mengidap penyakit mematikan yang membutuhkan donor dari ayah kandungnya. Vanka dan Shankara kembali dekat karena anak mereka, membuat cinta lama bersemi kembali di antara keduanya. Hanya saja keadaan sudah berubah. Vanka sudah menikah lagi dengan Reza. Sementara Shankara sudah memiliki pengganti dan akan menikah. IG Author: distrakzii
View More"Thalia kaget karena tadi aku yang menjawab telepon. Dia juga nggak tahu kalau kita udah nikah lagi," terang Vanka apa adanya sesuai dengan kejadian sebenarnya. "Oh." Shankara menggumam pendek. "Kenapa Abang nggak cerita ke Thalia tentang hubungan kita?""Abang belum sempat, Van.""Belum sempat?" Vanka mengerutkan dahi. Menurut Vanka itu adalah sesuatu yang krusial. Thalia harus tahu kalau papanya sudah memiliki keluarga baru."Nanti Abang telepon dia dan kasih tahu tentang kita," janji Shankara."Nantinya kapan?" tuntut Vanka. Vanka tidak ingin Thalia terus menyalahkannya dan menganggap sebagai perebut ayah anak itu."Kalau udah di rumah. Nanti Abang telepon dia di depan kamu."Jawaban itu seharusnya menenangkan, tapi masih terasa mengganjal di hati Vanka. Bagaimana nanti setelah Shankara memberi pengertian Thalia tetap tidak terima? Bagaimana kalau anak gadis suaminya masih menganggapnya sebagai perebut? Segala kekhawatiran itu membuat Vanka tidak tenang.Ditatapnya pria gagah di
Vanka memandangi ponsel di tangan yang layarnya sudah gelap. Dadanya masih terasa sesak. Kata-kata Thalia terus berputar-putar di kepalanya. Ini baru hari kedua menjadi istri Shankara, tapi serangan yang didapat sudah sebegini hebatnya. Entah bagaimana ke depannya, Vanka tidak tahu. Shankara keluar dengan handuk melingkar di pinggang dan rambut basah. Lengkara menyembul di balik kakinya, dibungkus handuk kecil. Anak itu tampak begitu riang. "Jadi kamu jawab telepon dari Thalia?" tanya lelaki rebutan banyak wanita itu pada istrinya sembari mengambil baju dari dalam koper. "Jadi," jawab Vanka. "Dia bilang apa?" Vanka melirik putrinya yang juga sedang berpakaian. Vanka tidak ingin Lengkara mendengar percakapan mereka. "Bang, nanti aja ya,” ucapnya pelan sambil tetap memandang anak mereka. Shankara mengikuti arah pandang istrinya. Ia mengangguk paham. Setelah selesai berpakaian, Shankara memeriksa ponselnya. Sedangkan Vanka masuk ke kamar mandi. Perutnya yang lapar berbunyi
"Morning, Wife."Suara itu terdengar di dekat telinga Vanka. Perempuan itu menggeliat pelan, matanya masih terpejam saat kesadarannya perlahan kembali.Vanka membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, menyinari wajah Shankara yang kini sudah bangun, bertopang pada satu siku, menatapnya dengan senyum terkulum yang dulu dan sampai saat ini membuat Vanka tergila-gila.“Morning, Husband,” balas Vanka lirih dengan suara khas bangun tidur.Shankara mengulurkan tangan, menyelipkan anak rambut Vanka yang jatuh ke wajahnya. "Gimana tidurnya? Nyenyak?"Vanka mengangguk kecil. “Nyenyak. Walau agak sempit,” jawabnya setengah bercanda.Shankara terkekeh. Dikecupnya kening perempuan itu dengan perasaan sayang. Perempuan yang dulu sempat dibencinya, disalahpahaminya, tapi kini justru menjadi pusat hidupnya. Istri yang tak hanya ia rindukan, tapi juga ingin ia jaga dengan cara yang tak pernah ia lakukan sebelumnya."Bang, Lengkara mana?" Vanka menanyakan kala ingat semalam a
Vanka terlihat sedih akibat anaknya yang kini memandangnya bagaikan orang asing. Semua adalah akibat mulut Raline yang tidak difilter."Kenapa ngeliat Mama kayak gitu?" tegur Shankara pada sang putri yang duduk merapatkan badannya sambil menjaga jarak dengan Vanka. "Mama bukan orang jahat. Mama adalah orang yang sudah melahirkan Lengkara. Nggak boleh gitu ya. Itu namanya durhaka," kata Shankara memberi pengertian.Lengkara masih terlihat ragu. Tatapannya berpindah-pindah antara mama dan papanya. "Berarti Tante Raline bohong?" tanyanya kemudian."Iya." Masih Shankara yang bicara."Tapi bohong, kan, dosa, Pa." Lengkara menatap dengan wajah polos. Sedari dulu Vanka mengajarkan padanya bahwa berbohong adalah perbuatan yang tidak baik, sekecil apa pun alasannya.Shankara terdiam sesaat. Ia melirik Vanka, seolah meminta izin untuk melanjutkan penjelasan. Vanka hanya mengangguk pelan, dadanya masih terasa sesak."Tante Raline nggak sengaja bohong. Mungkin karena tadi dia terlalu ngantuk maka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore