Gesekan tangan Dhava di atas perutnya, membuat Diana bangun dari lamunan sesaat. Ia menunduk, menatap lengan berambut tipis yang menempel di kulitnya. Pandangannya pun beralih lagi pada layar telepon genggam yang kini padam. “Mas, ada telepon … dari Renita,” ucapnya berusaha santai, meskipun tenggorokannya langsung mengering, seakan semua cairan terhisap habis. “Hm. Biarkan saja.” Dhava memeluk erat, menyadarkan Diana lagi. Namun, telepon genggamnya kembali berdering. Diana menoleh dan berbisik, “Mas, terima, deh. Renita nyari kamu.” Mendecak sebal, Dhava lantas menurunkan perlahan Diana di sofa. Dalam keadaan naked, pria itu meraih ponselnya. Namun alisnya mengerut dalam. Tanpa mennjauh Dhava menerima panggilan itu, mata hitamnya menatap intens sang sepupu. “Hm, ya, ada apa Sus Rara?” tanyanya, dengan suara mendesak. Sedangkan Diana menajamkan telinga. Jelas-jelas ia lihat Renita yang menelepon, kenapa sekarang ganti? Mata karamelnya menatap penasaran, mengapa rahang Dhava
Última atualização : 2025-12-16 Ler mais