Masuk“Rasanya enak?” “E–enak, Mas. Ta–pi … aku capek sendirian terus. Aku juga pengen hamil.” “Aku punya cara supaya kamu nggak sendirian lagi. Kita praktek, sekarang!” Diana datang ke klinik untuk memperbaiki hubungan ranjang dengan suaminya, tapi siapa sangka, terapis yang menanganinya adalah Madhava—sepupunya sendiri. Pertemuan mereka berubah jadi permainan berbahaya penuh hasrat.
Lihat lebih banyak“Dhava? Kamu masih di sini, sepagi ini?” Suara lembut itu kini ada sampingnya.“Iya Aunty. Semalam Dhava mampir.” Dhava tersenyum melihat wajah Dewi yang masih baru bangun tidur. Sepertinya wanita itu mencari suaminya yang tidak ada di kamar mereka. Entah Dewi sudah mengetauhui peristiwa tentan Diana atau belum, tetapi wanita itu terlalu tenang. “Kamu ngapain di sini? Ini gelap, kenapa lampunya nggak dinyalakan saja?” Dewi hendak melangkah menuju saklar, tetapi Dhava mencegah wanita cantik itu.“Tidak perlu Aunty, Dhava mau ambil minum,” jawab Dhava apa adanya ini, berharap Dewi segera pergi entah itu menghampiri suaminya atau kembali ke kamar.“Kebetulan. Ayo, bareng. Aunty juga haus.” Wanita itu terkekeh, dan menggandeng tangan Dhava melewati Lorong gelap. “Aunty takut jatuh, Dhava. Semoga Renita nggak cemburu kalau tahu.” Tawanya kecil.Dhava menghela napas panjang. Sungguh sial, ia tidak mendengar apa yang bidarakan Denver dengan suara pelan itu. Namun ekspresi Draven yang meleb
Denver tidak langsung merespons keinginan putri bungsunya itu. Pria yang masih gagah di usia senjanya ini bergeming bagai patung. Matanya menatap tajam ke depan, pada Diana tentunya. Tangannya mengepal dan memegangi dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin putri yang dahulu ia timang memiliki pasangan biadab seperti itu, ini salahnya.Sedangkan Diana yang tidak mendapat jawaban apa pun dari Denver membuat pikirannya bertanya-tanya, apakah sang ayah tidak akan mendukungnya lagi kali ini?“Pa?” panggil Diana dengan seluruh kerendahan hati, dan mata karamel indah itu berkaca-kaca, tangisnya nyaris pecah.Tidak diam saja, Dhava yang melihatnya pun merangkul posesif bahu Diana yang membungkuk lemah itu.“Diana? Sebaiknya kamu istirahat. Terpenting informasi ini sudah kamu sampaikan, hm?” bisik Dhava pelan sekali, jemarinya juga mengusap bahu Diana.Diana menatap Dhava sejenak sebelum mengalihkan lagi pandangannya pada Denver yang mengembuskan napas kasar.“Dhava benar, Diana. Kamu tidu
"Jangan, Di, aku khilaf." Rayan yang tadinya beringas mendadak lunglai, lantaran menyadari kehancuran karier, rumah tangga, dan masa depan. Bayangan kemarahan sang mertua dan pencabutan posisinya di perusahaan berputar.Ia tidak lagi meronta. Tatapan Rayan yang tajam berubah memelas."Diana, Sayang ... maafin, Mas. Aku cuma capek, aku stres karena tekanan kerjaan dan memikirkan cara kamu supaya hamil. Tolong, ya, jangan bawa-bawa Papa, Di. Kita selesaiin di rumah, mau, ya?"Diana bergeming, menatap Rayan dengan sorot mata dipenuhi kekecewaan. Sungguh punah sudah rasa ibanya. Jika kemarin masih bertahan karena ia ingin membalas sang suami dengan mempermalukan di depan keluarganya, karena gagal membuatnya hamil.Sekarang, justru Rayan bertingkah. Konsumsi obat-obatan terlarang, tidak bisa ia tolerir lagi.Perlahan Diana melangkah mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari jangkauan tangan suaminya.Jemari Diana yang masih bergetar bergerak mencari pegangan. Ia menarik kuat pungg
Terlalu syok mendengar informasi dokter barusan, Diana tidak ingin melampiaskan emosinya pada Rayan yang masih tergolek tidak berdaya. Ia pun melangkah gontai menuju area parkir. Ia berjongkok sambil memeluk lututnya tepat di belakang Mercedes-Benz hitam milik Dhava.Diana tidak menangis, tetapi mata karamelnya menatap kosong ke depan—pada pantulan dirinya di bodi mobil. Ia lebih meratapi nasibnya sendiri, alih-alih memikirkan penyakit sang suami.Ia bahkan memukul-mukul kepalanya pelan. Entah daya tarik apa yang membuatnya menerima lamaran Rayan waktu itu. Ia merasa matanya benar-benar buta karena aksi penyelamatan pria itu, yang sekarang ia pikir mungkin saja bisa dibayar dengan uang.“Bodoh, Di!” lirih Diana. ‘Aku udah nggak kuat,’ batinnya.Ia menoleh ke samping kala mendengar langkah pelan. Sepatu pantofel dan celana bahan hitam pun menjadi pemandangan pertamanya.“Aku mau sendirian saja, Mas. Tolong,” pintanya dengan nada lirih.Dhava mengulurkan tangan. “Berdiri, Di.”Diana men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak