LOGIN“Rasanya enak?” “E–enak, Mas. Ta–pi … aku capek sendirian terus. Aku juga pengen hamil.” “Aku punya cara supaya kamu nggak sendirian lagi. Kita praktek, sekarang!” Diana datang ke klinik untuk memperbaiki hubungan ranjang dengan suaminya, tapi siapa sangka, terapis yang menanganinya adalah Madhava—sepupunya sendiri. Pertemuan mereka berubah jadi permainan berbahaya penuh hasrat.
View More“Tunggu!” panggil Dhava, begitu melihat siluet yang tidak asing itu.Bukannya berhenti, orang itu langsung melangkah cepat menuju lift. Dhava yakin ini bukan kebetulan, tetapi sudah direncanakan. Ia melirik ke arah toilet. Haruskah ia menjaga Diana di sini atau mengejar bajingan itu?Geram, dan emosi yang ditahannya sejak kemarin sudah naik ke ubun-ubun. Dhava memanggil lagi, “Rayan!”Sontak orang itu menoleh. Benar, kini wajahnya sudah jelas. Itu Rayan, dengan bekas lebam di pipi yang masih kentara. Rayan membelalak melihat Dhava, lalu berlari secepat mungkin.Tanpa membuang waktu, Dhava gegas mengejar pria itu. Entahlah, jiwa pemburunya ingin membuat perhitungan dengan Rayan. Hentakan langkah sneakers Dhava memantul mantap di lantai rumah sakit. Kakinya yang panjang melangkah lebar dan memperpendek jarak dengan cepat.“Berengsek!” geram Rayan. Jemarinya terus-menerus menekan tombol lift dan matanya menatap gelisah pada indikator angka digital. “Argh!”Rayan yang memang sengaja membu
Dhava menatap mata Diana, jemarinya mengusap lembut bekas tamparan yang mulai memudar di pipi wanita itu. "Aku akan ceraikan Renita, Di.”Mata agak sipit Diana membelalak. Ya, jujur saja, ada letupan kebahagiaan yang membuncah di dada. Impian memiliki Dhava seutuhnya, tanpa harus berbagi, kini terasa sangat dekat. Namun, binar mata karamelnya meredup.Ia tahu … ini tidaklah akan mudah. Masalahnya, bukan sekadar cinta mereka berdua. Banyak hati yang harus dikorbankan, nama baik keluarga dipertaruhkan, dan bayangan kemarahan Maharani karena kehilangan menantu kesayangan. Yang mungkin … berimbas pada hubungan baik keluarga mereka nantinya.‘Aku bisa cerai dari Mas Rayan, tapi kamu?’ batin Diana, sebab Dhava menceraikan Renita tidak sesederhana membalik telapak tangan, apalagi hubungan bisnis mereka sudah telanjur mengakar.Dhava kembali menarik tengkuk Diana dan mengecup bibirnya penuh penghayatan.“Mas.” Diana menarik diri. “Nanti keburu siang,” katanya.Dhava terkekeh pelan, dan akhirn
“Hamil?” gumam Dhava yang masih berdiri tegak seperti patung es di ambang pintu. Namun dalam kepalanya terlalu ribut memproses informasi yang diterima telinganya.Langkah Dhava mendekat pada dua wanita paruh baya yang masih berbincang, dan mungkin tidak menyadari kehadirannya karena posisi mereka membelakangi pintu.Kini, ia berdiri tepat di belakang punggung sang mama. Embusan napas seorang Madhava Darmawan terlalu tenang, sampai-sampai mereka tak menoleh padanya. Ia melihat ke samping, ke arah ranjang king size berada. Meskipun terhalang partisi, mata hitamnya masih bisa melihat jelas ada Diana di samping Denver.Bibir Dhava bersuara lagi, kali ini sedikit lebih keras, “Diana hamil?”Kontan saja Dewi dan Maharani menengok ke belakang dengan alis yang kompak terangkat. Dewi mengangguk sembari mengusap air matanya yang luruh lagi."Iya, Dhava ... Diana hamil," jawab Dewi di sela sesenggukannya itu.Maharani terdiam sejenak, lantas mengusap bahu sahabatnya. "Aku ikut senang Diana akhir
“Kamu bisa jemput Mama di resto? Sekarang ya, Dhava!!!” titah Maharani dengan suara tegasnya itu. “Kita ke rumah Pak Denver, beliau sakit. Katanya berantem sama … Rayan,” lanjutnya, kali ini nada bicaranya sedikit pelan, tertelan oleh keriuhan restoran masakan Nusantara miliknya.Sontak saja Dhava terlonjak. Punggungnya menegang mendengar nama Rayan disebut. Sudah pasti pria itu yang menjadi biang kerok. Namun yang ada di pikirannya adalah, bagaimana dengan Diana? Apakah wanita itu baik-baik saja?Gegas Dhava memindahkan Dipta ke kursi dari gendongannya. “Ra, lanjut suapi Dipta!”“Baik, Pak.” Rara mengambil mangkuk yang baru saja diletakkan oleh Dhava.Sedangkan Dipta menatap Dhava dengan mata berkaca-kaca. Berbeda dari sang adik, justru Davka penuh tanya. Namun, anak sulung itu tidak berani bertanya mengingat wajah ayahnya yang mengeras kaku itu.Mercedes-Benz hitam membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Rintik gerimis yang makin padat memburamkan kaca depan, benar-benar mewakili






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore