Masuk“Rasanya enak?” “E–enak, Mas. Ta–pi … aku capek sendirian terus. Aku juga pengen hamil.” “Aku punya cara supaya kamu nggak sendirian lagi. Kita praktek, sekarang!” Diana datang ke klinik untuk memperbaiki hubungan ranjang dengan suaminya, tapi siapa sangka, terapis yang menanganinya adalah Madhava—sepupunya sendiri. Pertemuan mereka berubah jadi permainan berbahaya penuh hasrat.
Lihat lebih banyak“Menurutmu apa, hm?” Dhava memeluk Diana dari belakang. Hidungnya yang nakal itu mengendus aroma vanila yang menguar dari tengkuk sang istri, berpadu dengan feromon yang selalu membuat gairahnya melonjak tajam.Diana menggeleng-gelengkan kepala.“Terakhir aku ke sini, masih sama … sekarang … umm, kenapa rumahnya jadi ….” Diana bahkan tak sanggup berkata-kata.Terakhir kali Diana menginjakkan kaki di sini enam bulan lalu, hunian ini masih kental dengan konsep tropis minimalis beraksen batuan alam dan tanaman hijau yang rimbun sesuai saran Maharani, sebagai penangkal jahat, katanya. Namun kini, fasad rumah itu telah berubah total.Bata-bata abu-abu tersusun rapi membentuk dinding yang kokoh, terlalu artistic dipandang, terlebih dipadukan dengan tiang-tiang kayu gelap yang menyangga atap melengkung khas arsitektur Tiongkok.Bahkan pintu masuknya yang megah kini dihiasi ukiran terbuat dari kuningan yang rumit."Mau lihat ke dalam?" bisik Dhava, embus napasnya membuat bulu kuduk Diana ber
Malam yang dingin ini, Diana dan Dhava berdiri bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan dua putrina yang makin hari tambah besar. Bibir mungil Diana melengkung melihat si kembar tampak pulas, belum lagi tadi saat mereka baru pulang dari restoran sushi, wajahnya berbinar riang.Diana memeluk pinggang Dhava, lalu berbisik, “Mas, soal yang tadi … di kamar.”“Hm, ya?” Dhava menoleh dan mengusap kepala Diana sejenak.“Aku udah pikir … kalau ada baiknya kita diskusi sama anak-anak, gimana? Kalau mereka setuju aku bisa pindah, ikut kamu.” Kelopak mata Diana mengedip-ngedip cepat.Dhava mengembus panjang napasnya dan berdeham pelan, lalu menempelkan jari telunjuk di bibir. Pria yang dahulu tampak garang ini, kini menebar senyum semanis mungkin, membuat Diana berpikiran kalau Dhava memiliki niat terselubung.“Kenapa?” bisik Diana.“Bicarakan di tempat lain, anak-anak laggi tidur, jangan diganggu.” Dhava menarik Diana kembali ke kamar mereka.“Oh, aku pikir kamu mau lagi, Mas.” Diana terk
Puas berbincang dengan putra sulungnya, Dhava berlalu ke kamar utama. Namun, ia mendadak diam saat melihat si kembar sedang duduk bersandar di depan pintu dengan wajah masam. "Lho, kenapa kalian di sini? Sedang jaga pintu?" tanya Dhava heran.Myesha langsung yang gemar merajuk, dan Davira kompak menunjuk pintu dengan kesal. "Sushi kita diambil Mama, Pa! Mama gitu banget, pintu kamarnya dikunci!" adu mereka. Myesha menarik ujung kelingking papanya. "Papa mau belikan yang baru nggak?"Dhava menghela napas, lalu mengeluarkan kartu kreditnya. Ia memberikannya kepada Davira. "Nih, kalian beli lagi. Ajak Davka dan Dipta juga. Minta Pak Sobri, Bi Rara, dan Bi Riri antar!"Seketika mata si kembar berbinar. "Makasih, Papa! Papa emang paling ganteng sedunia!" teriak mereka girang sambil berlarian menuju tangga. Dhava sendiri hanya bisa terkekeh, sifat manja dan mudah merajuk itu benar-benar jiplakan dari Diana, meskipun wajah mereka adalah versi kecil dirinya.Penasaran, Dhava memutar k
Selesai sesi foto yang cukup melelahkan, Diana dan kedua putrinya langsung berkumpul di meja makan. Mereka tampak kompak menyantap paket sushi besar yang baru saja datang, sesuai pesanan Diana dan kesukaan Myesha juga Davira. Suasana yang tadinya tegang dan kaku karena mereka harus bergaya formal seketika mencair, meskipu bibit keributan baru mulai muncul dari mulut mungil Myesha. "Ini rasanya enak banget, Ma.” Myesha sampai merem melek menikmati lembutnya sushi itu. “Umm, aku mau jual sushi, ah, gimana, Ma? Supaya dapat uang banyak!" celetuknya dengan semangat sambil mengambil salmon roll lagi. Davira melirik kembarannya dengan tatapan skeptis. "Memangnya kamu bisa masak? Kita ‘’kan masih kecil. Bahaya tahuuu.” Myesha menjawab dengan percaya diri, "Nggak perlu bisa masak, ada Bibi yang bikin. Aku tinggal jualin aja di depan rumah dan dapat uang. Gampang, tuh." Davira tertawa mengejek. "Ide kamu aneh. Aku nggak yakin kamu bisa. Kamu ‘kan nggak suka ketemu orang banyak, pena






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak