“Tiba-tiba?”Hani mengangguk gugup. Melihat pandangan Jefri berubah memicing, ia buru-buru menjelaskan.“Dia ada urusan mendadak di kota ini, makanya malam ini datang.”“Kalau begitu, datang saja besok.”“Tidak bisa!” Hani berseru cepat yang segera disesalinya karena Jefri kini mengerutkan alisnya dalam.Sekarang ayahnya malah jadi mencurigainya!Hani berdehem sejenak. “Aku tidak bisa menemuinya besok karena dia seharian sibuk dan ada kemungkinan langsung pulang setelah urusannya selesai.”Hani melanjutkan, “Dan besok aku juga banyak urusan, kan? Jadi, kesempatan kita bertemu malam ini.”Ia kemudian mengubah tatapannya jadi memelas. “Ayolah, yah. Izinkan aku, ya? Aku janji besok bakal datang tepat waktu di rapat!”Jefri menghela napas. Ia paling tidak bisa melihat Hani memelas begini. Sejak dulu, putrinya itu memang sudah menjadi soft spotnya.Tapi, bukan berarti ia bisa langsung menyetujuinya.“Siapa temanmu itu?” Jefri bersedekap, “Ayah perlu tahu dulu.”Hani seketika menegang. Mulut
閱讀更多