MasukRara berjengit saat Jefri lanjut mencium lehernya. Ia buru-buru menjauhkan dirinya.
“Ja-jangan! Tidak usah!” Rara menjawab panik, “Aku juga masih belum mau istirahat kok!”
Jefri menyeringai. Ia mengerat pelukannya membuat Rara tersentak kaget.
“Kenapa, hm
Penampilan Rara sukses. Hani yakin itu.Karena sekarang, ia bisa melihat raut masam Tiara di wajahnya setelah sebelumnya memasang wajah cemooh. Dan hal itu membuat Hani hampir tertawa di tempat.Respons para tamu juga terlihat baik. Tatapan mereka yang awalnya ragu saat Rara maju, kini terlihat lebih menghargai. Hani bahkan bisa mendengar beberapa bisikan kecil yang memuji Rara.Ia menghela napas lega.“Tuan Jefri benar-benar ketat,” komentar Merphilus mengagetkan Hani lagi. Ia menoleh ke Merphilus yang kini menyeringai dengan wajah mengerut.“Sepertinya anda benar soal profesionalitas Tuan Jefri. Ia masih tetap membombardir Nyonya Rara, p
“Tempat yang bagus,” ucap Merphilus begitu mereka sudah duduk. Matanya memantau bagian depan.“Saya jadi bisa melihatnya dengan jelas.”Tubuh Hani sontak menegang. Ia menatap Merphilus dan berubah risau begitu melihat wajah puasnya.Yang dia maksud … soal presentasinya, kan? Ia jadi bisa melihat jelas presentasinya.Bukan melihat jelas Rara.Hani menghela napas pelan. Lagi-lagi ia terlalu berpikir berlebihan.‘Tahan dirimu, Hani. Sebentar lagi kamu akan tahu kebenarannya!’ batin Hani meneguhkan dirinya.
“Om kurang tidur ya akhir-akhir ini?”Leo tersentak. Mengalihkan pandangan ke Hani yang menatapnya khawatir. Ia berdehem sejenak dan tersenyum.“Kenapa tiba-tiba bertanya, nona?”“Soalnya kantong mata om keliatan tambah gelap,” balas Hani, “Terus wajah om juga keliatan lelah dan ngantuk banget! Jadi, aku rasa itu karena kurang tidur?”Leo meringis. Anak bosnya itu memang jeli seperti ayahnya. Ia memutar otak, mencari alasan yang tidak akan membocorkan rahasianya.“Saya dari kemarin sibuk mengecek dokumen proyek kita. Memastikan semuanya aman karena sebentar lagi waktunya peresmian.”Hani membulatkan mulutnya. Berkata oh panjang sambil mengangguk-angguk. Ia tidak lagi bertanya setelah itu, membuat Leo menghela napas lega.Alasan sebenarnya adalah karena ia sedang menjalankan misi rahasianya. Memantau hotel Amarose untuk memergoki keberadaan Merphilus dan Hani di sana. Leo akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti firasatnya. Bagaimana pun, ia merasa janggal karena Hani berubah muram s
“Ada apa? Kamu terlihat muram.”Rara mengangkat pandangannya ke Jefri. Pria itu menatapnya dengan satu alis terangkat, terlihat penasaran. Tangannya sibuk melepaskan kancing jasnya.Jefri baru pulang beberapa menit lalu. Sejam setelah Hani naik ke kamarnya, pria itu pulang ke rumah.Rara menghela napas pelan. Tangannya terulur untuk membantu Jefri membuka jasnya. Dari jarak sedekat ini, Jefri bisa melihat kantung mata istrinya semakin tebal.Ia mengelusnya pelan. “Sepertinya tidurmu semakin tidak teratur,” ucapnya, “Kamu khawatir dengan meeting besar nanti?”“Hm. Ya, lumayan.”
“Apa—”Hani menelan ludah sejenak.“Kenapa …. Menggunakan panggilan itu?” tanya Hani akhirnya berhasil menyelesaikan ucapannya itu.“Kenapa?”Merphilus mendekat lagi.“Bukankah panggilan itu terasa lebih intim?” bisik Merphilus, “Membayangkan dirimu menggunakannya saat terengah-engah di bawah saya—”“S-saya mengerti!” sela Hani sebelum ucapan Merphilus selesai. Wajahnya memerah padam.“Tapi …”
“Saya dengar nyonya Rara akan memberitahu strategi promosinya di meeting besar minggu depan.”Hani tersentak pelan. Menghentikan kegiatannya membuka kancing kemeja.Seminggu berlalu sejak pertemuan di kantor Jefri itu. Sudah waktunya bagi mereka untuk melaksanakan jadwal lagi.Seperti biasa, mereka datang ke hotel yang sudah menjadi basecamp keduanya. Mereka hampir datang secara bersamaan, makanya kini tengah bersiap bersama dengan saling membelakangi.Atau lebih tepatnya, hanya Hani yang membelakangi. Ia refleks melakukannya. Entah kenapa.Padahal Merphilus juga sudah sering melihatnya membuka baju. Bahkan, tak jarang pria itu yang melepa
“Aku nyuruh ayah buat pasangan sama tante Rachel yang juga dateng!”“Oh, nyonya Rachel juga dateng?” ulang Rara lagi dengan senyum terpaksa. Hani mengangguk riang.
“Ra, aku minta seprai dan selimut buat kamar VIP 311, ya. Malam ini mereka check in,” ucap salah satu senior kerja Rara yang datang ke tempat laundry. Rara mengangguk. Ia dengan sigap mengambil bungkusan plastik yang diminta rekannya dan menaruhnya di meja counter. Perempuan itu kemudian mencatatny
‘Harusnya aku tidak menolaknya malam itu,’ batin Rara frustrasi. Beberapa hari kembali berlalu sejak penolakan Jefri dan mereka masih belum menemukan jadwal untuk ‘kelas’.Padahal, Rara sekarang sudah lebih senggang karena Septa tidak mengajaknya bermain lagi. Alasannya sih karena ia sibuk mempersia
“N-nyonya Rachel Sillvian! Selamat datang!”Seorang petugas resepsionis segera mendekati Rachel, “Maaf atas keributan ini. Bukankah anda akan check in nanti malam?”Rara tersentak. Jadi, tamu VIP yang dimaksud seniornya tadi adalah Rachel?“Jam penerbanganku jadi lebih awal, makanya aku cepat sampai







