Sore itu, Rusmi datang ke rumah Gendis ditemani Ayu. Rumah sederhana di pinggir kota itu tampak tenang, dengan aroma melati dari taman kecil di depan. Gendis muncul di depan pintu, mengenakan daster bunga dan wajah datar.Matanya menatap mantan ibu mertuanya tanpa senyum. Bayangan masa lalu yang sangat menyakitkan seolah berputar di kepala. Gendis masih marah. Kecewa itu sangat nyata adanya.Rusmi langsung menunduk, menatap lantai. “Assalamu’alaikum, Nak...”“Wa’alaikumussalam,” jawab Gendis datar. Ia melangkah ke samping, memberi jalan. “Masuklah.”Ayu menatap suasana canggung itu, lalu duduk di sudut ruang tamu. Udara di antara mereka seakan membeku. Jam dinding berdetak pelan, menambah sunyi yang tebal. Ayu tidak terbiasa mengawali obrolan dengan Gendis sejak dulu.Rusmi menatap wajah Gendis yang kini tampak dewasa, tapi sorot matanya masih sama—keras dan penuh luka. “Kamu makin cantik, Nak...”“Terima kasih,” jawab Gendis singkat, lalu menatap jendela.Rusmi menarik napas. “Gendi
最終更新日 : 2025-12-27 続きを読む