Saat mereka melangkah menjauh dari dataran batu itu, Lyra merasakan sensasi aneh. Bukan dari segelnya, tetapi dari punggungnya. Sensasi berat yang baru, seolah-olah lapisan udara telah diganti dengan sesuatu yang lebih padat.“Kael, tunggu!” Lyra tiba-tiba berhenti, memegang lengan Kael kuat-kuat.Kael menoleh, matanya setenang malam. “Apa?”“Aku ... aku tidak merasakan bahaya di belakangku,” bisik Lyra. “Tapi aku merasakan kehadiran.”Kael memejamkan mata sesaat, membiarkan bayangannya menyebar. Bayangan itu surut, tidak menemukan ancaman fisik. Namun, ia merasakan hal yang sama, sebuah beban yang baru dicetak ke dalam realitas.“Pengingat Dunia tidak mengirim Korektor lagi,” gumam Kael perlahan, menatap ke titik di mana Korektor tadi menghilang. “Mereka mengirim sesuatu yang lebih murni.”Di atas kepala mereka, langit yang semula hanya berawan, kini menampilkan retakan halus. Bukan retakan fisik, melainkan retakan bunyi. Bunyi yang tidak dapat didengar, namun terasa di tulang, seper
Terakhir Diperbarui : 2025-12-03 Baca selengkapnya