Bayangan Darah Sang Putra Buangan

Bayangan Darah Sang Putra Buangan

last updateLast Updated : 2026-01-03
By:  Aleena TanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
42Chapters
557views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kael Astaroth terlahir sebagai putra ketujuh dari Sekte Iblis Suci Langit, sebuah keluarga yang memuja kekuatan di atas segalanya. Tapi meski memiliki darah iblis murni, Kael tidak pernah menunjukkan kekuatan apa pun. Ia dicap lemah, dipermalukan, dipukuli, hingga akhirnya dibuang dan dijatuhi hukuman mati oleh sektenya sendiri. Tepat saat ia hampir mengembuskan napas terakhir, sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam tubuhnya terbangun, Darah Bayangan, warisan terlarang yang pernah dihapus dari sejarah sekte. Bukan api, bukan cahaya, melainkan kekuatan iblis yang tumbuh dari kegelapan, dari kebencian, dan dari darah mereka yang sama. Kael tidak lagi menginginkan pengakuan.Ia menginginkan balas dendam. Dan setiap orang yang pernah menertawakannya, saudara, tetua, murid, bahkan ayah kandungnya sendiri, akan menjadi batu pijakan pertama menuju takhta kegelapan.

View More

Chapter 1

1. DARAH YANG DIBUANG

“Lihat dia. Wajah tampan, tubuh bagus, tapi tetap saja sampah.”

“Apa, darah iblis murni? Jangan bercanda. Yang mengalir di tubuhnya cuma kegagalan.”

“Kalau bukan putra Pemimpin Sekte, dia sudah mati sejak lahir.”

Ejekan datang dari segala arah, bergulung seperti badai yang menubruk satu titik, seorang pemuda berdiri sendirian di tengah arena eksekusi Sekte Iblis Suci Langit.

Kael Astaroth. Putra ketujuh, pewaris darah ibli yang menurut seluruh sekte tidak layak disebut pewaris apa pun.

Ia berdiri tegak, meskipun tubuhnya sudah babak belur. Jubah hitamnya robek, darah kering menodai tepi kain, namun wajahnya tetap tenang. Bukan kosong, melainkan tenang. Seolah semua hinaan yang ditujukan padanya hanya udara yang lewat.

Kael tampan, terlalu tampan untuk tempat ini. Rahangnya tajam, kulitnya pucat bersih, sorot matanya gelap dan dalam, seperti malam yang tidak memantulkan bulan. Tubuhnya terlatih, ototnya terdefinisi jelas meski ia tak pernah diberi sumber daya pelatihan layak.

Di mata orang luar, ia bisa saja terlihat sebagai putra terkuat sekte. Tapi dunia di sini hanya menghargai satu hal, kekuatan yang terbukti.

Dan Kael … tidak pernah dianggap memilikinya.

Di tribun atas, Darian Astaroth—saudara sulung, sang pewaris utama melangkah sambil membawa tombak berhiaskan rune darah. Senyum di bibirnya tipis, kejam, dan sangat menikmati keadaan.

“Kael,” katanya lantang, agar seluruh arena mendengar. “Kau tahu apa yang paling lucu darimu?”

Kael menatapnya, diam, tidak membalas, tidak melarikan diri, tidak memohon.

Darian menunduk sedikit, seolah berbagi rahasia. “Kau tidak lemah karena tak punya kekuatan. Kau lemah karena tidak berguna. Setidaknya orang lemah bisa mati tanpa menyusahkan siapa pun. Tapi kau? Kau sudah hidup delapan belas tahun hanya untuk mempermalukan keluarga.”

Sorak-sorai meledak.

“BUNUH DIA!”

“JANGAN BUANG WAKTU!”

Darian menepuk bahunya sendiri sambil tertawa. “Lihat tubuhmu, terawatt, rapi, bahkan tampan. Kau tahu kenapa? Karena kau diberikan kesempatan hidup sebagai putra sekte, sementara kau tak pernah memberi apa pun sebagai balasannya.”

Kael masih tak merespons, hanya tatapannya yang berubah sedikit, dari datar menjadi dingin.

Dan itu membuat Darian semakin senang. “Lihat? Bahkan sekarang kau diam. Karena jauh di dalam hati, kau akhirnya sadar… bahwa kau memang sampah.”

Tawa menggema, hinaan menari di udara, Kael tetap diam.

Lalu matanya mengangkat sedikit, bertemu dengan singgasana tertinggi. Di sana duduk lelaki berusia separuh baya dengan mata dingin, Lord Varyon Astaroth. Ayahnya. Penguasa sekte. Kekasih dari ratusan selir, termasuk seorang wanita manusia yang kini telah dibuang, yaitu ibunya.

Varyon tidak berbicara, tidak marah, tidak membela, tidak peduli.

Kael menunduk sebentar, hanya sebentar. Cukup untuk menyadari, ia memang sendirian di dunia ini.

Darian mengangkat tombaknya. “Sebelum aku membunuhmu, jawab satu hal, adik kecil.”

Ia mendekat, wajah hanya sejengkal dari Kael. “Lalu apa gunamu lahir?”

Kael akhirnya berbicara. “Untuk mengingat,” katanya pelan. “Wajah orang-orang yang harus mati.”

Arena membeku sejenak. Beberapa orang mengerutkan kening, tak yakin apakah Kael baru saja mengancam atau … berhalusinasi sebelum mati.

Darian tertawa pelan, bahunya naik turun. “Mengancam? Kau? Yang bahkan tidak bisa mengaktifkan inti energi sendiri?”

Kael tidak menjawab, karena ia merasa itu tidak perlu.

Darian menutup jarak, menekan tombak ke dada Kael. “Kau tahu apa yang akan terjadi setelah kau mati? Namamu akan dihapus, ibuku akan tertawa. Para murid akan merayakan. Dan ayah—” Ia menoleh sedikit ke singgasana. “Akan tidur nyenyak tanpa pernah mengingat bahwa kau pernah lahir.”

Satu tusukan.

Tombak itu menembus kulit Kael. Tidak dalam, tapi belum. Darian ingin perlahan, ingin memahat rasa sakit menjadi tontonan. Suara napas Kael goyah sebentar, tapi ia tetap berdiri.

“Ah, benar,” Darian tersenyum lagi. “Kau tetap tenang bahkan ketika aku menusukmu. Tapi kau tahu hal lain yang lucu?”

Tombak berputar, runenya menyala merah pekat. “Tak ada yang akan menangisi kematianmu.”

Dan tombak itu menusuk lagi, kini lebih keras, lebih dalam, menembus daging dada Kael. Darah meleleh, jatuh ke batu arena. Teriakan sorak membuncah.

Kael jatuh berlutut.

Napasnya hilang, tenaganya hilang. Suara di arena memudar menjadi dengung kabur.

Untuk pertama kalinya ia merasakan tubuhnya benar-benar mati.

Namun, tidak ada ketakutan.

Yang ada adalah keheningan aneh, seperti suara air yang jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam. Dan di dalam sumur itu … sesuatu seperti terbuka.

Sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah tersentuh, tidak pernah dipanggil, tidak pernah terbangun, karena dunia menyebutnya kutukan iblis purba.

Darah Kael yang mengalir di lantai mulai menghitam. Bukan cokelat merah gelap, bukan darah beku. Hitam, seperti tinta bayangan.

Aura dingin menyusup ke udara, bukan dingin angin. Dingin seperti tanah kuburan yang menunggu penghuni baru.

Tetua di tribun berdiri. Salah satu berbisik, “Itu … bukan darah biasa.”

Darian berhenti tertawa. Ia menatap darah hitam itu, lalu menatap mata Kael yang kini perlahan terbuka lagi.

Dan iris yang dulu hitam polos itu … kini berubah. Ada garis tipis gelap berputar di sekeliling pupilnya, seperti cincin bayangan hidup.

Kael mengangkat kepalanya perlahan. Bukan dengan tenaga otot, tapi seolah ada sesuatu yang mengangkatnya dari dalam.

“Aku akan ingat ini,” katanya pelan.

Darian mundur satu langkah tanpa sadar. “Kau … kau sudah mati. Kau seharusnya mati.”

Kael berdiri. Bayangan di bawah kakinya terangkat bersama tubuhnya, seperti sesuatu yang memiliki napas sendiri.

“Aku memang mati,” ujarnya tenang. “Tapi kau salah jika mengira itu akhir.”

Sorak ejekan berhenti.

Hujan mulai turun.

Kael menatap seluruh arena, para murid yang menertawakannya, para tetua yang menyebutnya aib, para pelayan yang melihatnya seperti kotoran, sang ayah yang bahkan tak menganggapnya layak untuk dibunuh dengan tangan sendiri.

Lalu ia menatap Darian, dan berkata pelan, seperti membacakan vonis, “Kalian seharusnya membunuhku sebelum darahku bangun.”

Bayangan di tanah bergerak. Tidak seperti cahaya yang datang dari atas, tapi dari bawah. Seperti sesuatu di dalam bumi merespons keberadaannya.

Darian membuka mulut, ingin menyerang, namun tubuhnya menegang. Tombaknya terasa berat, seolah cahaya di dalamnya padam dilahap sesuatu.

“Kael …” Darian bergumam. “Apa … apa yang kau lakukan?”

Kael tidak menjawab. Karena itu bukan lagi kael yang berdiri di sana sepenuhnya.

Yang berdiri adalah warisan yang telah tidur selama delapan belas tahun.

Dan ketika ia membuka telapak tangannya, bayangan merespons seperti binatang lapar yang baru diberi perintah.

Arena bergetar.

Tribun terdiam.

Dan Kael mengucapkan kalimat yang kelak akan menjadi awal dari kehancuran sekte itu, “Jika dunia menolak keberadaanku … maka aku akan menelan dunia itu.”

Lalu bayangan pertama menyerang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
42 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status