Beranda / Romansa / Di Balik Pintu Gelap Diplomat / Bagian 20 - Kecurigaan yang Bersemayam

Share

Bagian 20 - Kecurigaan yang Bersemayam

Penulis: Daisy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 14:23:28

“Ada pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan sebagai mahasiswi riset, Nona Maira.”

Kalimat itu biasa saja, tidak ada tinggi maupun membentak, tapi yang dirasakan oleh Maira justru ia merasa terpojokkan dan terintimidasi.

Maira menahan napas. “Saya hanya bertanya prosedur, Pak.”

“Saya mengawasi Anda, Nona Maira,” balas Rasyid singkat.

Rasyid akhirnya melangkah keluar, diikuti oleh Maira yang matanya menyimpan terlalu banyak pertanyaan yang belum menemukan tempat berlabuh.

Apakah ini dokumen yang terlalu berbahaya? Pikirnya

Selagi otaknya terus berpikir sambil menatap punggung tegap itu masuk ke ruangannya, Maira melangkahkan kakinya menuju pintu besar milik Wisnutama. Mengetuknya, lalu membukanya perlahan setelah mendapat izin dari pemiliknya.

“Selamat pagi, Pak.”

“Pagi. Sayang sekali saya tidak bisa mengambil rasa terima kasih kamu pagi ini. Ada jadwal mendadak dengan pemerintah. Saya harus segera kesana,” jelas Wisnutama langsung saat melihat Maira.

“Mendadak?” tanyanya, lalu Mair
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 29 - Pesta yang Membawa Kegelisahan

    Jam makan siang tiba tanpa terasa.Maira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan fokus yang sengaja ia pertahankan. Sejak keluar dari ruangan Wisnutama pagi tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus menempel di hatinya. Bukan takut, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam radius perhatian yang tidak biasa.Ia baru saja hendak menyimpan file ketika bayangan seseorang jatuh di sisi mejanya.“Nona Maira.”Ia mendongak. Rasyid berdiri di sana, rapi seperti biasa, tablet di tangan, ekspresinya netral namun matanya tajam mengamati.“Pak Wisnutama memanggil Anda. Sekarang.”Maira berkedip pelan. “Sekarang, Pak?”“Iya. Untuk makan siang.”Kalimat itu membuat Maira terdiam sepersekian detik.“Makan siang?” ulangnya, refleks.Rasyid mengangguk. “Di ruangan beliau.”Tidak ada pilihan tersirat. Tidak ada pertanyaan. Itu perintah yang dibungkus dengan nada sopan.“Baik, Pak,” jawab Maira akhirnya.Ia berdiri, merapikan bajunya secara refleks, lalu Rasyid pergi begitu saj

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 28 - Di Bawah Permukaan Panas

    Besoknya, Maira berangkat riset seperti tidak terjadi apa pun. Bahkan, gadis itu merahasiakan penemuannya dari Wisnutama.Langkahnya tetap tenang, raut wajahnya profesional, bahkan nyaris terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam baru saja membuka pintu ke dokumen yang seharusnya tidak ia sentuh. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada gerakan mencurigakan. Dari luar, Maira tetap mahasiswi riset yang sama yaitu diam, fokus, dan sedikit terlalu serius untuk usianya.“Relax, Maura. Semuanya aman selama kamu tenang,” ucapnya pada dirinya sendiri.Ia duduk di mejanya, menyalakan laptop, dan membuka file riset utama. Lembar-lembar analisis yang kemarin terasa buntu kini seperti memiliki jalur baru. Kalimat-kalimat yang dulu ia ragu tuliskan, sekarang mengalir dengan lebih yakin dan lebih tajam.Namun Maira berhati-hati. Ia tidak menyalin apa pun secara mentah. Tidak ada kutipan langsung, karena semua ia olah ulang, ia sembunyikan dalam kerangka analisis yang tampak wajar, seolah kesimpula

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 27 - Arsip Yang Tidak Seharusnya Ada

    Maira tidak pernah menyangka dirinya akan berada di ruangan arsip saat ada staff meminta tolong padanya untuk mengantarkan dokumen ke dalam.Semua terjadi terlalu cepat untuk dipertanyakan. Seorang staf, pria paruh baya dengan kartu identitas yang tergantung malas di lehernya langsung menyodorkan map tebal ke tangannya, sambil berkata terburu-buru, “Tolong antarkan ini ke dalam, ya. Saya harus ke rapat sekarang.”Dan sebelum Maira sempat membuka mulut untuk menolak, pria itu sudah berlalu di lorong panjang, meninggalkannya berdiri dengan map di tangan dan pintu arsip di depannya. Padahal, mahasiswi magang sangat dilarang sendirian ke dalam ruangan ini.“Mungkin dia ngira aku anak magang kali ya,” gumam Maira.Mengingat banyaknya manusia yang bekerja di kedutaan ini, maka tidak salah kalau mereka menganggap Maira juga bagian dari mereka. Ini keuntungan, karena saat datang tidak banyak yang ingin tahu akan mahasiswi yang melakukan riset.Udara di dalam ruangan berbeda. Lebih dingin. Leb

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 26 - Gelisah Di antara Dua Janji

    Maira sudah duduk di meja kecilnya sejak pukul delapan, laptop terbuka di depannya, jari-jari mengetik laporan ringkasan rapat kemarin. Pikirannya melayang ke panggilan video semalam akan janji pada Profesor Hamdani untuk segera mencari dokumen itu.Ia membuka folder riset di drive terenkripsi, scroll pelan ke sub-folder berlabel “Referensi Tambahan”. Di sana ada beberapa file PDF yang sudah ia dapat secara resmi, tapi ia tahu dokumen rahasia itu tidak akan ada di sini. Harus ada cara lain, mungkin lewat arsip digital internal kedutaan, atau meminta staf tertentu.Pintu ruangan terbuka pelan. Wisnutama masuk dengan langkah tenang, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi itu, aroma kayu cendana langsung mengisi udara. Ia melirik Maira sekilas, lalu duduk di kursi besarnya.“Selamat pagi. Ringkasan rapat kemarin sudah selesai?” sapanya rendah, suara yang selalu membuat perut Maira berdegup.Maira tersentak dari lamunan, buru-buru mematikan layar folder yang terbuka. “Selamat pagi, P

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 25 - Wajah Merona dan Janji Rahasia

    Rapat babak kedua dimulai tepat pukul dua siang. Ruangan besar dengan AC dingin kembali dipenuhi suara bahasa Arab yang cepat dan aksen Inggris berat dari para pejabat. Maira duduk di samping Wisnutama seperti biasa, tubuhnya terasa ringan sisa orgasme singkat tapi ganas di pangkuan mentornya tadi membuat pipinya masih memerah, keringat tipis di pelipis belum sepenuhnya kering.Ia berusaha fokus, tapi napasnya kadang tersendat pelan, dan ia harus menunduk pura-pura mencatat agar tidak ketahuan.“Miss Maira,” panggil Ahmed dengan suara lembut tapi penuh perhatian.Di tengah diskusi tentang protokol kerjasama budaya, salah satu staf senior bernama Ahmed, pria paruh baya berkacamata yang selalu ramah pada Maira tiba-tiba menoleh ke arahnya. Rapat sedang jeda sejenak karena seorang pejabat mencari slide presentasi. “Are you alright? Your face is quite red, and you look a bit warm.”Semua mata langsung tertuju padanya. Maira langsung membeku. Wajahnya yang sudah merona kini terasa seperti

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 24 - Patuh dan Godaan Di Balik Pintu

    Maira duduk di meja kerja Wisnutama yang besar, jari-jarinya menari di atas keyboard laptop, membalas email dari profesor pembimbingnya di Indonesia. Data riset yang ia kirim hanya tentang budaya sosial dan birokrasi publik yang sudah disetujui, tanpa sedikit pun menyentuh dokumen sensitif yang hampir membuatnya bermasalah.Wisnutama berdiri tepat di belakang kursinya, tubuh tingginya menaungi seperti biasa. Tangan besarnya bertumpu di pundak Maira, memijat pelan, jarinya melingkar di otot yang tegang, turun ke leher, lalu naik lagi ke bahu. Setiap sentuhan itu membuat Maira merinding, napasnya sedikit tersendat.“Bagus, Maira. Saya menyukai mahasiswi patuh seperti kamu,” bisik Wisnutama di telinga Maira, suaranya rendah dan hangat.Maira menoleh sedikit, wajahnya memerah karena kedekatan itu. pijatan pria itu benar-benar nikmat dan membuat tubuhnya rileks. Setiap tekanannya pas dan membuat Maira ingin mengeluarkan desah yang untungnya masih bisa ditahan.“Tapi, apakah rasa penasaran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status