“Lelucon?” Bricia terkekeh ringan. “Itu realita, bukan lelucon.” Jessy sama sekali tak tampak terganggu. Ia malah mengendikkan bahu acuh, seolah ucapan Bricia barusan tak berarti apa-apa baginya. “Atau,” lanjut Bricia. “Om Andrew juga pernah menjanjikan kamu hal yang sama? Menjadikan kamu calon istrinya?” Jessy terdiam sejenak. Lalu, tanpa peringatan ia meledakkan tawanya. “Om?” ulangnya sambil masih tertawa. “Kamu manggil Andrew ‘Om’?” Jessy menggeleng, matanya menyipit geli. “Astaga… itu lucu sekali.” Ia menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling mengait santai di atas meja. Tatapannya menelusuri wajah Bricia tanpa ekspresi. Tawanya sudah benar-benar lenyap kali ini. “Kalau boleh tahu,” lanjutnya ringan, seolah hanya basa-basi, “umur kamu berapa, Bri?” Nada suaranya lembut. Tapi Bricia tahu, pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Melainkan akan Jessy gunakan sebagai senjata nantinya. “Bukankah umur tidak begitu penting?” balas Bricia tenang, meski raha
Last Updated : 2026-02-12 Read more