Sepanjang malam, Bricia tak bisa memejamkan mata. Setiap kali kelopak itu terpejam, bayangan Andrew dan wanita yang dilihatnya kembali muncul terus berulang, seolah sengaja menyiksanya. Ia sudah mencoba banyak cara agar bisa tertidur. Mengubah posisi, memejamkan mata lebih lama, bahkan memaksa tubuhnya untuk tenang. Tapi semua sia-sia. Matanya tetap terbuka, sementara dadanya terasa makin sesak. Hingga matahari perlahan terbit dari peraduannya, Bricia masih terjaga. Anehnya, ia tak menangis. Tak setetes pun air mata jatuh. Entah karena air matanya sudah habis, atau karena kecewanya telah terlalu dalam untuk diluapkan. Akhirnya Bricia memilih duduk. Kakinya perlahan menyentuh lantai marmer, hawa dinginnya langsung merambat naik. Dan tepat saat itu, pintu kamarnya terbuka. Louisa muncul dengan secangkir teh chamomile di tangan, aromanya menyebar lembut dan terasa menenangkan, kontras dengan keadaan Bricia saat ini. “Sudah bangun, Bri?” tanyanya sambil duduk di sisi putri Eric itu
Last Updated : 2026-02-05 Read more