LOGINJengah dengan sikap kekasihnya yang selalu bermain kasar, Bricia Averina Prayudha, justru terjebak dalam kisah lain dengan Andrew Darwis, teman Papanya. Sikap Andrew yang dewasa dan lembut membuat Bricia jatuh cinta lebih dalam. Bahkan ia mulai membandingkan dengan kekasihnya, Leo, yang selalu menyakitinya setiap kali bersama. Lalu, pada siapa akhirnya kisah Bricia akan bermuara. Terlebih, saat Bricia tahu, Leo adalah keponakan Andrew.
View MoreBugh!
Suara benturan punggung dengan tembok terdengar nyaring. Bricia meringis kecil, rasa nyeri langsung menjalar di punggungnya. Belum sempat ia bereaksi, kedua tangan Leo sudah lebih dulu menangkup kedua dadanya. Lelaki itu meremasnya tanpa perasaan lalu mulai mendekatkan bibirnya di sepanjang leher Bricia. Kening Bricia berkerut. Ia sungguh mulai lelah dengan kejadian yang terus berulang seperti ini. Tak ada lagi kelembutan dan rasa memuja di saat ia dan Leo bercumbu. Leo terus berbuat sesuka hatinya memperlakukan tubuhnya. “Sakit, Leo,” keluhnya lirih. Ia mulai jengah dengan semua ini. Leo menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras, rahang itu seperti menahan amarah yang hampir meledak. “Cukup diam dan nikmati aja,” suaranya berat seperti sebuah perintah. Kemudian, ia kembali mengecup rahang kiri Bricia. Tangannya juga semakin intens meremas dada sekal milik sang kekasih. Bricia menggeleng, ia menarik wajahnya menjauh. Jelas ia menolak dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Ini bukan hanya tentang kepuasan Leo, tapi harusnya ini juga menjadi kenikmatannya. Tapi justru ia semakin merasa hanya dieksploitasi tanpa perasaan. Kesal, Leo menurunkan kedua tangannya dari dada Bricia. Tatapannya berubah tajam, kilat marah melintas di matanya. “Kamu tahu, aku paling nggak suka kalau kesenanganku diganggu!” bentaknya. Bricia menatapnya dengan napas tak beraturan. “Tapi kamu udah keterlaluan, Le. Kamu bahkan nggak mikirin aku menikmati apa nggak!” “Sial!” Leo berbalik kasar, kakinya menendang udara di depannya. Napasnya terdengar berat dan rahangnya menegang. Ia frustrasi, bukan hanya karena penolakan, tapi juga karena Bricia membuatnya kehilangan kendali. Hasratnya sudah terasa di ujung kepalanya, tapi justru Bricia terlihat menolaknya. Sementara di belakangnya, Bricia hanya berdiri diam. Tubuhnya masih gemetar, tapi matanya menatap punggung Leo dengan rasa yang bercampur antara takut, marah, juga kecewa. Dan semua rasa itu perlahan meluruhkan perasaan yang selama ini ia banggakan. “Aku pulang!” Tanpa menunggu reaksi Leo, Bricia membuka pintu apartemen dan melangkah keluar. Tak ada lagi alasan untuk bertahan, semua ini hanya buang waktu. “Bricia! Kembali!” teriak Leo dari dalam. Suaranya menggema, tapi Bricia tak menoleh. Kali ini, langkahnya tak lagi ragu untuk pergi. Wanita itu berjalan mantap melewati lorong, begitu tiba di depan lift bukannya memencet tombol lift dan masuk, ia justru menyandarkan dahinya di dinding yang dingin di depannya. Lalu kilatan samar kebersamaan mereka selama satu tahun terakhir terbayang di kepalanya. Dulu, ia dan Leo saling mencintai dan memuja. Mereka saling menyentuh dengan penuh perasaan. Bahkan peluh yang bercucuran selalu ditutup dengan erangan kepuasan keduanya. Namun, setelah beberapa bulan terlewati semuanya berubah. Leo selalu bermain kasar, bahkan pernah melakukan penyatuan mereka dengan mencekik leher Bricia. “Hah! Ini gila,” lirihnya. “Aku nggak mungkin terus bertahan di sini. Tapi masalahnya... aku cinta sama dia.” Bodoh. Memang itu kenyataannya. Bricia mulai lelah, tapi ia juga tak kunjung beranjak pergi. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ia punya tangannya memencet tombol lift. Saat pintu itu terbuka, kakinya melangkah pelan membawa gundah yang mengekang hatinya. *** Setelah perjalanan panjang dari apartemen Leo, mobil Bricia memasuki halaman rumahnya. Dahinya berkerut dalam mendapati sebuah mobil asing terparkir di depan garasi. Namun, apa peduli Bricia, karena sudah dipastikan itu milik teman Papanya. Begitu kakinya melangkah ke ruang tamu, telinga Bricia langsung disambut suara tawa yang bergema. Dari arah sofa, Papanya duduk santai bersama Louisa, kekasihnya, dan seorang pria dewasa di seberang meja. Wajah pria itu asing, sepertinya baru kali ini Bricia melihatnya. “Sudah pulang kamu, Bri? Sini... Papa kenalin sama teman Papa. Ah, lebih tepatnya adik tingkat Papa,” panggil Eric sambil tersenyum lebar. Bricia mendekat perlahan, matanya langsung meneliti sosok pria matang di depannya. “Kenalkan, ini Andrew Darwis. Teman lama Papa.” Pria yang disebut masih tampak gagah. Kemeja berwarna navy yang melekat ditubuhnya bahkan semakin menambah aura mahal dan seksi. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Bricia. “Andrew,” ucapnya mantap. Tatapannya tajam, seolah menembus balik manik mata Bricia. “Bricia Averina Prayudha,” balas Bricia tak kalah tenang. Manik keduanya bertemu saling menatap tajam, tegas, seolah tak ada yang mau mengalah. Andrew tersenyum tipis. “Nama yang cantik, seperti pemiliknya.” Eric terkekeh kecil melihat tatapan keduanya yang bertaut terlalu lama. “Alihkan pandanganmu, Andrew,” godanya. “Putriku tidak gampang dibuat terpesona sama orang baru.” Andrew hanya tersenyum samar, tapi matanya masih belum lepas dari wajah Bricia. “Justru itu yang menarik,” katanya pelan, nadanya dalam, seolah sengaja dibiarkan menggantung. Bricia mengangkat alis, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara. Terlalu tenang tapi juga terlalu percaya diri. “Bri ke kamar dulu, Pa,” kata Bricia cepat, ia mencoba mengalihkan suasana. “Baiklah,” jawab Eric santai. Saat Bricia berbalik, ia masih bisa merasakan tatapan Andrew di punggungnya. Tatapan yang entah kenapa membuat bulu kuduknya meremang. Antara tidak nyaman dan anehnya, sulit dijelaskan. *** Keesokan harinya, seperti biasa, Bricia datang ke kampus untuk mengurus administrasi kelulusannya sebelum wisuda. Menjelang siang, semua sudah rampung. Ia melangkah menuju area parkir sambil mengecek pesan di ponselnya. Tapi tinggal beberapa langkah dari mobilnya, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dengan keras. “Leo?” Bricia terperanjat, tubuhnya terhuyung ke belakang. Tanpa sempat berkata apa-apa, Leo menariknya menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. “Masuk,” ucapnya dingin. “Lepas, Le! Aku nggak mau!” seru Bricia sambil berusaha melepaskan diri. Tapi genggaman tangan Leo terlalu kuat, membuatnya tak berkutik hingga akhirnya terduduk di kursi penumpang dengan wajah masam. “Ngapain sih narik-narik kayak gini?” suara Bricia tajam, ia menahan kesal dan malu karena beberapa mahasiswa mulai memperhatikan. Leo tidak menjawab. Ia hanya menatap Bricia tajam, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya pergi dari kampus. Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki area basement apartemen Leo. Bricia menghela napas berat. Begitu mobil berhenti, ia langsung menarik handle pintu. Tapi terkunci. “Buka! Aku mau pulang!” katanya keras. Leo menoleh cepat. “Kita belum selesai.” “Apa lagi? Aku udah capek, Le.” “Kamu pikir aku nggak?” balasnya cepat. Bricia menatapnya tajam. “Kalau sama-sama capek, ya udah. Sudahi aja semuanya.” Leo mendekat cepat, jaraknya tak bersisa. Tangannya lalu terangkat, mencengkeram leher Bricia membuat wanita itu terkunci di tempatnya. “Kamu selalu membuatku kehilangan akal, Bri,” desis Leo pelan tapi tajam. Bricia memejamkan matanya, lalu dengan sisa tenaganya ia mendorong dada Leo dengan keras. “Jangan dekat-dekat aku!” serunya. Leo terhuyung sedikit, tak menyangka dorongan Bricia sekuat itu. Saat ia hendak menahan, Bricia lebih cepat bergerak. Tangannya menekan tombol kunci, dan pintu sampingnya langsung terbuka. Tanpa pikir panjang, Bricia keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu keluar basement. Napasnya terengah, tapi langkahnya tak berhenti. Hingga ia melihat sebuah mobil melintas tak jauh di depan dan tanpa ragu, Bricia menghadangnya. Sang pengemudi sontak menginjak rem, suara decit ban pun terdengar keras. Begitu mobil berhenti, Bricia langsung membuka pintu penumpang. “Tolong, saya ikut, dan cepat pergi dari sini,” katanya panik. “Bricia?” Bricia langsung membeku, ia tatap lelaki yang kini juga menatapnya dengan heran. “Om Andrew?” “Kamu kenapa?” “Plis jangan tanya apa-apa dulu, Om. Yang penting kita keluar dari sini,” pintanya cepat. Dan kali ini Andrew menurut, ia memilih melajukan mobilnya. Namun, belum sempat ia menarik gas mobilnya, mata Andrew menangkap sesuatu di leher Bricia. Luka yang masih basah dan memerah. Refleks, tangannya terangkat hendak menyentuhnya. “Ini… kenapa, Bri?”Menjelang waktu makan malam, Feli tiba dengan membawa beberapa bungkus makanan dari kafe. Ia sengaja datang karena diminta Andrew, setidaknya untuk menemani Bricia. Sekaligus sebagai alasan jika ada yang bertanya, Bricia dengan siapa kali ini. Begitu Feli masuk, perhatian Bricia langsung tertuju pada makanan di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk dan melahap isinya. Perutnya benar-benar kosong setelah seharian terkuras emosi dan tenaga. Lagipula, di rumah Andrew hampir tak ada makanan yang sesuai seleranya. “Sabar, Bri… kayak habis naik turun gunung aja. Makanannya sampai nggak sabaran begitu,” tegur Feli sambil terkekeh. Andrew yang duduk tak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis dan memilih diam. Bricia tak peduli. Fokusnya hanya satu, mengisi perutnya yang sejak tadi berontak. Di sela Andrew memperhatikan Bricia makan, ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Yoshi terpampang di layar. Dahinya langsung berkerut samar. Baru sekitar dua jam sejak ia menghubungi lela
Setelah semua yang terjadi di kamar tadi, Bricia kini duduk di sofa menghadap televisi. Ia mengenakan kaos dan celana training milik Andrew yang kebesaran di tubuhnya. Kedodoran, tapi justru itu yang membuatnya merasa aman. Jauh lebih aman dibanding ia hanya memakai kemeja Andrew, yang ia tahu bisa memicu hasrat Andrew kembali terpancing. Televisi menyala di depannya, gambar dan suara berjalan normal. Namun pandangan Bricia kosong. Matanya menatap lurus, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia tahu betul posisi Andrew. Leo adalah keponakannya. Dan fakta itu, Bricia yakin akan membatasi gerak lelaki itu. Andrew tipe pria yang totalitas. Tapi kali ini… Bricia ragu. Ia takut, hubungan darah itu akan menjadi tembok yang tinggi. Hukuman yang setimpal mungkin tak akan pernah benar-benar ada. “Cokelat panasnya, Baby.” Andrew duduk di sebelahnya, menyerahkan cangkir dengan uap tipis yang masih mengepul. Tangannya mantap, tapi wajahnya menyimpan sesuatu, sebuah amarah yang bel
“Kamu… brengsek, Leo!” Suara Andrew menggeram rendah, berat, dan penuh ancaman. Tatapannya berubah tajam, bukan lagi kemarahan sesaat, melainkan amarah yang sudah melewati batas kendali. Ia terus melangkah maju, hingga Leo refleks mundur selangkah. “O-om… ini—ini…” Leo menelan ludah dengan susah payah. “Ini cuma hubungan dua pasang kekasih. Ka-kami saling mencintai.” Ia masih berusaha membela diri. Dalam kepala Leo, ia pikir Andrew belum mengetahui kebenaran ini. Kalimat itu justru menjadi pemantik terakhir. Andrew mengangkat tabung apar lebih tinggi, lalu— BRAKK! Dengan sekuat tenaga, tabung itu ia lemparkan ke arah lemari di belakang Leo. Bukan untuk melukainya, melainkan untuk menunjukkan betapa tipis batas kesabarannya. Pecahan kaca berhamburan, suara benturan menggema keras memenuhi ruangan. Leo tersentak. Bricia di atas kasur pun ikut terkejut, tubuhnya semakin meringkuk, dan napasnya makin memburu. Dan sebelum Leo sempat berkata apa pun lagi, Andrew sudah mengepalkan
Di dalam apartemen, Leo mendorong tubuh Bricia ke atas kasur dengan keras. Tubuh Bricia terhuyung sebelum akhirnya jatuh, napasnya tersengal penuh kepanikan. Leo berbalik, melangkah ke pintu, lalu terdengar bunyi kunci diputar. Suara itu membuat dada Bricia serasa diremas. “Leo… jangan,” suaranya bergetar. Ia beringsut mundur ketika Leo kembali mendekat. Punggungnya membentur kepala ranjang. Tak ada lagi ruang untuk lari. Matanya bergerak liar, mencari apa pun, atau apa saja, yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Tapi hasilnya nihil. Leo berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang asing. Duka, amarah, dan sesuatu yang jauh lebih gelap bercampur di sana, menjadikannya sosok yang tak lagi ia kenal. Bricia terus beringsut mundur begitu Leo semakin dekat. Leo bahkan mulai melepas kemeja hitam yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Lalu, dengan tatapan mengintimidasi, ia juga melepas celananya menyisakan celana pendek ketat yang membungkus kemaluannya. "Nggak, Leo! Bukann
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore