LOGINMuak dengan sikap kekasihnya yang selalu bermain kasar, Bricia Averina Prayudha, justru terjebak dalam kisah lain dengan Andrew Darwis, teman Papanya. Sikap Andrew yang dewasa dan lembut membuat Bricia jatuh cinta lebih dalam. Bahkan ia mulai membandingkan dengan kekasihnya, Leo, yang selalu menyakitinya setiap kali bersama. Lalu, pada siapa akhirnya kisah Bricia akan bermuara. Terlebih, saat Bricia tahu, Leo adalah keponakan Andrew.
View More“Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”
“Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang
Perawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed
Andrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore