Hujan belum berhenti ketika mereka sampai di depan gedung apartemen Tara. Lampu jalan memantulkan cahaya ke permukaan basah trotoar, menciptakan gemerlap redup seperti pecahan kaca yang berserakan. Sebelum Greg sempat turun, Tara sudah lebih dulu membuka pintu dan melangkah keluar. Gerakannya cepat. Nyaris berlari. Seperti tergesa mencari pasokan oksigen yang sudah menipis di dalam mobil. Greg mengikutinya tanpa mengatakan apapun. Hanya langkah sepatu mereka di tangga sempit yang bergema di antara dinding lembap. Di tiap anak tangga, Tara merasakan kehadiran Greg di belakangnya. Panas. Berat. Seperti api yang siap membakarnya. Setiap langkah terasa bagaikan pertarungan. Sebagian dirinya ingin Greg berhenti di bawah, membiarkan jarak menjadi pelindung. Akan tetapi, sebagian lainnya, yang lebih dalam, lebih jujur, justru berharap Greg menyusul, meniadakan jarak itu sepenuhnya. Menuntaskan apa yang menggantung semalam. Di depan pintu apartemennya, Tara berhenti. Jemarinya gemeta
Last Updated : 2025-12-19 Read more