LOGIN“Mana yang lebih kau sukai, Tara? Bercinta dengan seorang detektif atau membunuh para plagiator?” "Aku lebih suka ini, Sir." *** Warning & Disclaimer: 1. Memuat konten dewasa (seks, kekerasan fisik/mental, alkohol) yang tidak sesuai untuk pembaca di bawah 21 tahun. 2. Mengeksplorasi BDSM konsensual, power play, trauma bonding, manipulasi, dll, yang mungkin sensitif bagi sebagian pembaca. 3. Semua karakter dalam cerita ini telah berusia legal (di atas 21 tahun) 4. Semua peristiwa dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. *** SINOPSIS Gregory Evans, detektif muda jenius, dan Tara Bradley, pustakawan yang juga penulis, dipertemukan oleh sebuah kasus pembunuhan unik. Para korban adalah plagiat yang mencuri naskah Tara. Dalam penyelidikan yang mengaburkan batas antara penyidik dan tersangka, Greg dan Tara justru terjerumus dalam hubungan berbahaya yang didasari kekuasaan dan kepatuhan. Bagi Greg, Tara adalah teka-teki yang ingin dia kendalikan. Bagi Tara, Greg adalah sosok yang dia pilih untuk menghancurkan dirinya dengan cara yang paling intim. Namun Greg dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah dia akan tetap menjadi detektif yang menegakkan hukum, atau melepaskan semuanya demi memiliki Tara sepenuhnya.
View More“Seharusnya, aku menghindari wanita sepertimu, bukan ingin memilikimu.”
Gregory Evans *** “Untuk setiap kata yang kau curi... kau layak mendapatkan hukuman. Ketik itu!” perintah satu sosok dengan nada mengintimidasi. Sosok itu berjalan pelan mengelilingi ruangan temaram yang dipenuhi rak buku, foto perayaan, dan piagam penghargaan di dinding. Wajahnya hampir tak terlihat karena dinaungi tudung jaket berwarna biru tua. Di depannya, duduk membelakanginya, seorang wanita yang sedang menekan tombol-tombol di mesin ketik tua. Satu per satu. Persis seperti instruksi pria itu. Tangan wanita itu gemetar. Tubuhnya kaku. Dia bahkan hampir tidak bernapas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 05.14. Piyama sutra mahal yang dipakainya basah oleh keringat dingin. Rambut coklatnya yang dibiarkan tergerai sebatas pundak pun kusut masai. Wanita itu seorang penulis. Baru saja menandatangani kontrak besar untuk novel berikutnya. Dunia boleh menyebutnya berbakat. Akan tetapi, pagi itu, dia bukan siapa-siapa. Sosok bertudung tadi, menyentuh satu per satu buku dalam rak dengan tangan terbungkus sarung tangan lateks. Gerakannya lambat, seakan sedang menghitung dengan cermat. Dia menarik salah satu buku, membolak-baliknya hingga menimbulkan suara kertas yang menyayat di udara. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Hebat sekali," ucapnya lirih. "Sampul cantik. Tapi isinya... aku rasa kita tahu dari mana asalnya." Wanita penulis itu tidak menjawab. Dia masih menahan napas. Matanya menatap kosong ke mesin ketik. Seolah-olah menoleh ke belakang bisa memperburuk situasi. Sosok di belakangnya berjalan lagi. Jemarinya menyusuri permukaan bingkai foto. Foto sang penulis saat menerima penghargaan 'Penulis Muda Berbakat'. Senyumnya lebar. Dia berdiri di tengah lampu sorot dan buket bunga. “Senang rasanya dipuja banyak orang, ya?" bisik sosok itu. Dia menoleh. "Aku juga pernah dipuji. Tapi tidak pernah mencuri." Wanita itu menoleh perlahan. Tubuhnya gemetar. "Aku tidak tahu apa maksudmu... Kumohon... ini semua hanya kesalahpahaman..." Sosok tadi meletakkan buku yang dipegangnya. Beralih ke dinding tempat piagam-piagam tergantung rapi. Salah satunya bahkan dibingkai dengan emas tipis. Dia menyentuhnya, mengusapnya perlahan dengan jari seperti sedang mengeja jejak dosa. “Kau punya banyak pengakuan. Tapi... tidak satu pun pengakuan untuk orang yang sebenarnya menulis kisah itu lebih dulu. Kau tahu seberapa banyak penderitaan yang dia tuangkan di ceritanya?” Sosok itu menarik napas dalam seolah-olah telah memikul beban yang teramat berat. “Kau mengambilnya seolah-olah cerita itu milikmu. Dan kau mendapatkan pundi-pundi kekayaanmu dari air matanya. Kau berpesta di atas luka orang lain yang masih berdarah. Tidakkah itu menjijikkan?" Sosok itu melangkah perlahan mendekati wanita itu, menunjukkan lima lembar kertas di depan wajah si wanita. "Tapi, jangan khawatir… pada akhirnya… kau punya kisahmu sendiri. Dia yang menulisnya untukmu. Kau mau membacanya?" Wanita itu menggeleng sekuatnya. "Tolong… hentikan… Aku... aku akan melakukan apa pun. Aku akan membayar. Berapa pun yang kau minta..." Dia mengiba. Bibirnya dan suaranya bergetar. Air matanya luruh seperti hujan yang kembali turun di luar jendela. "Aku tidak butuh uangmu,” sahut lawan bicaranya. Pelan. Rendah. Namun, terdengar seperti sedang menyampaikan berita buruk. "Yang kubutuhkan..." Dia membelai lembaran kertas di tangannya, "...adalah menuntaskan akhir bab ini." Wanita itu kian tersedu. "Aku tidak mencuri! Cerita tentang hubungan beracun itu... itu ide umum. Siapa pun bisa menulisnya!" Sosok itu berjalan pelan ke arah rak kecil tempat guntingan-guntingan kliping disematkan. Langkahnya terdengar berat. Dia mengambil salah satunya dan membaca sepenggal kalimat. "Bakat muda yang mengguncang industri penerbitan Inggris dengan suara unik dan penuh orisinalitas." Dia terdiam sesaat sebelum memiringkan kepala dan bertanya, "Ironis, bukan?" Tidak ada teriakan. Tidak ada bentakan. Akan tetapi, setiap kata yang terucap dari mulutnya merambat di udara seperti ancaman yang nyata. Sang penulis wanita berdiri mendadak. Terdorong oleh insting untuk menyelamatkan diri. Kursinya terjatuh ke belakang. "Tolong! Jangan lakukan ini. Tinggalkan aku! Aku mohon..." Dia berlari menuju pintu. Sungguh nahas, pintu itu terkunci. Tangannya dengan tak sabar memutar kenop dan mengguncangnya dengan sekuat tenaga. "Tolooong! Siapapun! Tolong aku!" Namun, tetap tidak ada jawaban. Hanya suara napasnya yang terpecah memenuhi ruangan. Diikuti suara denting seperti logam dicabut dari porosnya. Wanita itu menoleh. Napasnya tertahan. Sosok di belakangnya memegang dua batang besi kecil. Tombol huruf dari mesin ketik. “Jangan... kumohon..." Wanita itu merapatkan tubuhnya ke dinding sambil menggigil kali ini. Suara langkah kaki perlahan mendekat menggema di udara. Setiap langkah seperti siaran ulang masa lalu yang tidak bisa dihapus. "Aku akan mengaku! Aku akan menulis pengakuannya! Aku akan membatalkan kontrak! Aku akan..." Terlambat. Napas terakhirnya mendesis di udara, meninggalkan bekas cipratan merah di permukaan pintu, lantai, dan dinding. Wajah wanita itu menunduk. Tubuhnya terjatuh di lantai berlapis karpet warna krem. Beberapa menit kemudian, dia sudah kembali di kursinya. Kepalanya terkulai di atas meja. Darahnya membasahi lima lembar naskah di bawah dagunya. Dua batang tombol huruf menancap di lehernya. C dan V.Seminggu telah berlalu. Tak ada yang terjadi. Bahkan Sebastian tampaknya punya urusan lain yang membuatnya mendadak terbang ke Afrika Selatan. Malam itu, mereka berada di dalam keremangan teater bioskop. Di deretan kursi paling belakang yang terisolasi dari penonton lain. "Kau yakin ingin menonton ini?" tanya Greg pelan. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh dentuman sistem suara bioskop. "Bond bukan film yang menenangkan untuk seseorang yang sedang dalam pengawasan polisi." Lampu meredup, menyisakan kegelapan yang hanya diinterupsi oleh pendar cahaya putih dari layar perak yang mulai memutar iklan. Greg duduk dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam erat jemari Tara yang dingin. Tara menoleh, memberikan senyum tipis dengan kerling jail di matanya. "Tidak apa-apa. Polisinya menonton bersamaku.” Greg menghela napas. Diusapnya punggung tangan Tara dengan lembut. Dia tahu wanita itu butuh hiburan. Semenjak peristiwa penembakan di Notting Hill, dia hanya tinggal di apartem
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, mencoba menghalau sisa-sisa kegelapan badai semalam. Greg sudah bangun lebih dulu. Aroma sabun maskulin dan kesegaran air menyelimuti tubuhnya yang kini terbungkus mantel mandi berwarna abu-abu gelap. Dia berdiri sejenak di tepi tempat tidur, menatap sosok yang masih terlelap di sana. Tara tampak begitu mungil di balik selimut tebal. Napasnya teratur, tetapi sesekali masih menyisakan sisa-sisa keletihan yang dalam. Greg membungkuk, mendaratkan kecupan lembut yang lama di kening Tara. Sentuhan itu membuat kelopak mata wanita itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan, menampakkan iris zamrud yang masih berkabut oleh kantuk. "Pagi," bisik Greg. Suaranya serak, tetapi penuh kelembutan yang kontras dengan kekerasan semalam. "Pagi..." jawab Tara parau. Dia mencoba bergerak, tetapi ringisan kecil lolos dari bibirnya saat otot-otot tubuhnya memprotes. Raut wajah Greg seketika berubah. Kecemasan yang sejak tadi dia tek
Tara seharusnya mengerjapkan mata. Sebuah isyarat yang telah mereka sepakati. Agar Greg tahu bahwa sebutan merendahkan yang pria itu sematkan padanya tak dapat diterima. Dia seharusnya meminta Greg berhenti. Akan tetapi, panas yang menguar dari tubuh Greg di belakangnya begitu padat dan nyata, menjalari sepanjang tulang belakangnya, membuat pertahanan Tara meluruh. Kata-kata pria itu menjadi desiran halus yang menyusup ke telinganya, menyebar seperti racun sekaligus penawar ke setiap sel otaknya. Kata-kata menyakitkan yang dulu sering dilontarkan Sebastian, tanpa pernah Tara duga, kini terdengar seperti kidung rayuan saat meluncur dari bibir Greg. Tara tidak tahu apakah dia sudah gila. Apakah dirinya sudah terlalu terbiasa diremehkan dan direndahkan hingga dia tidak punya pilihan selain menikmatinya? Ataukah semata-mata karena Greg yang melakukannya? Pria yang sanggup menghancurkannya dan menyatukannya kembali, dengan cara yang lebih benar. Ketika rumbai-rumbai flogger di tan
Sekilas, Tara sempat berpikir untuk menjauh. Mungkin, Greg sedang butuh waktu untuk menyendiri. Belum sempat dia beranjak, tangan Greg terurai, mengambil benda-benda di tangannya, lalu meletakkan ke atas meja granit. Dengan tiba-tiba, pria itu menarik pinggang Tara, meniadakan jarak di antara mereka. Memberi jawaban pada Tara akan apa yang telah dilakukannya. Mata kelabu Greg menatap istrinya itu lekat-lekat. Seakan hendak menelanjangi niat, keberanian, dan penyerahan diri yang ditunjukkan. Tara terkesiap. Pupilnya melebar penuh antisipasi. Jantungnya yang berdetak liar di balik sutra merah hati berdebar di rusuk Greg. "Kau tidak benar-benar menginginkan ini, Sayang," ucap Greg dengan nada yang mengancam. Menguji keberanian Tara, atau justru menantangnya. Tatapannya menghujam dengan intensitas yang membuat Tara meleleh. Tara menggeleng pelan. Namun, bibirnya berkata, “Aku menginginkan ini, Sir. Kau menginginkannya. Lakukan apa yang kau mau. Lakukan. Aku milikmu.” Sebutan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore