INICIAR SESIÓNWARNING: Mengandung tema dan adegan 21+ *** "Apakah merasakan saliva subjek adalah metode yang kau gunakan untuk membedah motifnya, Detektif Evans? Atau… kau sedang menggunakan metode tertentu untuk menandaiku?" "Aku suka penulis naskah kriminal bermulut lancang, Nona Bradley. Membuatku memikirkan hukuman yang pantas untukmu." *** Detektif Gregory Alistair Evans terpikat pada wanita cantik yang bertabrakan dengannya di depan stasiun kereta bawah tanah. Tabrakan itu meninggalkan noda kopi di mantelnya dan selembar judul naskah fiksi milik sang wanita. Ketertarikan yang begitu mengganggu, membuatnya menyimpan lembaran itu, sekaligus bertekad untuk menemukan kembali pemiliknya. Benar saja. Hanya dalam hitungan jam, mereka saling terhubung. Sayangnya, pertemuan mereka kali ini dilatarbelakangi kasus kriminal yang melibatkan naskah milik wanita itu, Tara Elizabeth Bradley alias Violet Crow. Batas antara penyelidik dan saksi/tersangka menjadi samar. Greg harus memilih. Menjadi penegak hukum yang profesional dan mempertahankan lencananya, atau menjadi pria yang melindungi dan memiliki Tara sekaligus mempertaruhkan kariernya.
Ver másSeminggu telah berlalu. Tak ada yang terjadi. Bahkan Sebastian tampaknya punya urusan lain yang membuatnya mendadak terbang ke Afrika Selatan. Malam itu, mereka berada di dalam keremangan teater bioskop. Di deretan kursi paling belakang yang terisolasi dari penonton lain. "Kau yakin ingin menonton ini?" tanya Greg pelan. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh dentuman sistem suara bioskop. "Bond bukan film yang menenangkan untuk seseorang yang sedang dalam pengawasan polisi." Lampu meredup, menyisakan kegelapan yang hanya diinterupsi oleh pendar cahaya putih dari layar perak yang mulai memutar iklan. Greg duduk dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam erat jemari Tara yang dingin. Tara menoleh, memberikan senyum tipis dengan kerling jail di matanya. "Tidak apa-apa. Polisinya menonton bersamaku.” Greg menghela napas. Diusapnya punggung tangan Tara dengan lembut. Dia tahu wanita itu butuh hiburan. Semenjak peristiwa penembakan di Notting Hill, dia hanya tinggal di aparteme
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, mencoba menghalau sisa-sisa kegelapan badai semalam. Greg sudah bangun lebih dulu. Aroma sabun maskulin dan kesegaran air menyelimuti tubuhnya yang kini terbungkus mantel mandi berwarna abu-abu gelap. Dia berdiri sejenak di tepi tempat tidur, menatap sosok yang masih terlelap di sana. Tara tampak begitu mungil di balik selimut tebal. Napasnya teratur, tetapi sesekali masih menyisakan sisa-sisa keletihan yang dalam. Greg membungkuk, mendaratkan kecupan lembut yang lama di kening Tara. Sentuhan itu membuat kelopak mata wanita itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan, menampakkan iris zamrud yang masih berkabut oleh kantuk. "Pagi," bisik Greg. Suaranya serak, tetapi penuh kelembutan yang kontras dengan kekerasan semalam. "Pagi..." jawab Tara parau. Dia mencoba bergerak, tetapi ringisan kecil lolos dari bibirnya saat otot-otot tubuhnya memprotes. Raut wajah Greg seketika berubah. Kecemasan yang sejak tadi dia tek
Tara seharusnya mengerjapkan mata. Sebuah isyarat yang telah mereka sepakati. Agar Greg tahu bahwa sebutan merendahkan yang pria itu sematkan padanya tak dapat diterima. Dia seharusnya meminta Greg berhenti. Akan tetapi, panas yang menguar dari tubuh Greg di belakangnya begitu padat dan nyata, menjalari sepanjang tulang belakangnya, membuat pertahanan Tara meluruh. Kata-kata pria itu menjadi desiran halus yang menyusup ke telinganya, menyebar seperti racun sekaligus penawar ke setiap sel otaknya. Kata-kata menyakitkan yang dulu sering dilontarkan Sebastian, tanpa pernah Tara duga, kini terdengar seperti kidung rayuan saat meluncur dari bibir Greg. Tara tidak tahu apakah dia sudah gila. Apakah dirinya sudah terlalu terbiasa diremehkan dan direndahkan hingga dia tidak punya pilihan selain menikmatinya? Ataukah semata-mata karena Greg yang melakukannya? Pria yang sanggup menghancurkannya dan menyatukannya kembali, dengan cara yang lebih benar. Ketika rumbai-rumbai flogger di tan
Sekilas, Tara sempat berpikir untuk menjauh. Mungkin, Greg sedang butuh waktu untuk menyendiri. Belum sempat dia beranjak, tangan Greg terurai, mengambil benda-benda di tangannya, lalu meletakkan ke atas meja granit. Dengan tiba-tiba, pria itu menarik pinggang Tara, meniadakan jarak di antara mereka. Memberi jawaban pada Tara akan apa yang telah dilakukannya. Mata kelabu Greg menatap istrinya itu lekat-lekat. Seakan hendak menelanjangi niat, keberanian, dan penyerahan diri yang ditunjukkan. Tara terkesiap. Pupilnya melebar penuh antisipasi. Jantungnya yang berdetak liar di balik sutra merah hati berdebar di rusuk Greg. "Kau tidak benar-benar menginginkan ini, Sayang," ucap Greg dengan nada yang mengancam. Menguji keberanian Tara, atau justru menantangnya. Tatapannya menghujam dengan intensitas yang membuat Tara meleleh. Tara menggeleng pelan. Namun, bibirnya berkata, “Aku menginginkan ini, Sir. Kau menginginkannya. Lakukan apa yang kau mau. Lakukan. Aku milikmu.” Sebutan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás