Hasrat Terlarang Sang Detektif

Hasrat Terlarang Sang Detektif

last updateLast Updated : 2026-06-01
By:  Nina MilanovaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
39 ratings. 39 reviews
70Chapters
2.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

TRIGGER WARNING: Mengusung isu trauma kekerasan (fisik/finansial/psikologis), hubungan yang intens tetapi bermasalah, serta ketimpangan/penyalahgunaan kuasa. Dahulukan kesehatan mental Anda. *** "Apakah jawabanku akan membuatku ditahan, Detektif Evans?” “Mungkin saja. Tapi, tidak seperti yang kau pikirkan.” *** Detektif Gregory Alistair Evans terpikat pada wanita cantik yang bertabrakan dengannya di depan stasiun kereta bawah tanah. Tabrakan itu meninggalkan noda kopi di mantelnya dan selembar judul naskah fiksi milik sang wanita. Ketertarikan yang begitu mengganggu, membuatnya menyimpan lembaran itu, sekaligus bertekad untuk menemukan kembali pemiliknya. Benar saja. Hanya dalam hitungan jam, mereka saling terhubung. Sayangnya, pertemuan mereka kali ini dilatarbelakangi kasus kriminal yang melibatkan naskah milik wanita itu, Tara Elizabeth Bradley alias Violet Crow. Batas antara penyelidik dan saksi/tersangka menjadi samar. Greg harus memilih. Menjadi penegak hukum yang profesional dan mempertahankan lencananya, atau menjadi pria yang melindungi dan memiliki Tara sekaligus mempertaruhkan kariernya.

View More

Chapter 1

Prolog

“Seharusnya, aku menghindari wanita sepertimu, bukan ingin memilikimu.”

Gregory Evans

***

“Untuk setiap kata yang kau curi... kau layak mendapatkan hukuman. Ketik itu!” perintah satu sosok dengan nada mengintimidasi.

Sosok itu berjalan pelan mengelilingi ruangan temaram yang dipenuhi rak buku, foto perayaan, dan piagam penghargaan di dinding. Wajahnya hampir tak terlihat karena dinaungi tudung jaket berwarna biru tua.

Di depannya, duduk membelakanginya, seorang wanita yang sedang menekan tombol-tombol di mesin ketik tua. Satu per satu. Persis seperti instruksi pria itu.

Tangan wanita itu gemetar. Tubuhnya kaku. Dia bahkan hampir tidak bernapas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 05.14.

Piyama sutra mahal yang dipakainya basah oleh keringat dingin. Rambut coklatnya yang dibiarkan tergerai sebatas pundak pun kusut masai.

Wanita itu seorang penulis. Baru saja menandatangani kontrak besar untuk novel berikutnya. Dunia boleh menyebutnya berbakat. Akan tetapi, pagi itu, dia bukan siapa-siapa.

Sosok bertudung tadi, menyentuh satu per satu buku dalam rak dengan tangan terbungkus sarung tangan lateks. Gerakannya lambat, seakan sedang menghitung dengan cermat. Dia menarik salah satu buku, membolak-baliknya hingga menimbulkan suara kertas yang menyayat di udara.

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

"Hebat sekali," ucapnya lirih. "Sampul cantik. Tapi isinya... aku rasa kita tahu dari mana asalnya."

Wanita penulis itu tidak menjawab. Dia masih menahan napas. Matanya menatap kosong ke mesin ketik. Seolah-olah menoleh ke belakang bisa memperburuk situasi.

Sosok di belakangnya berjalan lagi. Jemarinya menyusuri permukaan bingkai foto. Foto sang penulis saat menerima penghargaan 'Penulis Muda Berbakat'. Senyumnya lebar. Dia berdiri di tengah lampu sorot dan buket bunga.

“Senang rasanya dipuja banyak orang, ya?" bisik sosok itu. Dia menoleh. "Aku juga pernah dipuji. Tapi tidak pernah mencuri."

Wanita itu menoleh perlahan. Tubuhnya gemetar. "Aku tidak tahu apa maksudmu... Kumohon... ini semua hanya kesalahpahaman..."

Sosok tadi meletakkan buku yang dipegangnya. Beralih ke dinding tempat piagam-piagam tergantung rapi. Salah satunya bahkan dibingkai dengan emas tipis. Dia menyentuhnya, mengusapnya perlahan dengan jari seperti sedang mengeja jejak dosa.

“Kau punya banyak pengakuan. Tapi... tidak satu pun pengakuan untuk orang yang sebenarnya menulis kisah itu lebih dulu. Kau tahu seberapa banyak penderitaan yang dia tuangkan di ceritanya?” Sosok itu menarik napas dalam seolah-olah telah memikul beban yang teramat berat. “Kau mengambilnya seolah-olah cerita itu milikmu. Dan kau mendapatkan pundi-pundi kekayaanmu dari air matanya. Kau berpesta di atas luka orang lain yang masih berdarah. Tidakkah itu menjijikkan?"

Sosok itu melangkah perlahan mendekati wanita itu, menunjukkan lima lembar kertas di depan wajah si wanita. "Tapi, jangan khawatir… pada akhirnya… kau punya kisahmu sendiri. Dia yang menulisnya untukmu. Kau mau membacanya?"

Wanita itu menggeleng sekuatnya. "Tolong… hentikan… Aku... aku akan melakukan apa pun. Aku akan membayar. Berapa pun yang kau minta..."

Dia mengiba. Bibirnya dan suaranya bergetar. Air matanya luruh seperti hujan yang kembali turun di luar jendela.

"Aku tidak butuh uangmu,” sahut lawan bicaranya. Pelan. Rendah. Namun, terdengar seperti sedang menyampaikan berita buruk. "Yang kubutuhkan..."

Dia membelai lembaran kertas di tangannya, "...adalah menuntaskan akhir bab ini."

Wanita itu kian tersedu. "Aku tidak mencuri! Cerita tentang hubungan beracun itu... itu ide umum. Siapa pun bisa menulisnya!"

Sosok itu berjalan pelan ke arah rak kecil tempat guntingan-guntingan kliping disematkan. Langkahnya terdengar berat.

Dia mengambil salah satunya dan membaca sepenggal kalimat. "Bakat muda yang mengguncang industri penerbitan Inggris dengan suara unik dan penuh orisinalitas."

Dia terdiam sesaat sebelum memiringkan kepala dan bertanya, "Ironis, bukan?"

Tidak ada teriakan. Tidak ada bentakan. Akan tetapi, setiap kata yang terucap dari mulutnya merambat di udara seperti ancaman yang nyata.

Sang penulis wanita berdiri mendadak. Terdorong oleh insting untuk menyelamatkan diri. Kursinya terjatuh ke belakang. "Tolong! Jangan lakukan ini. Tinggalkan aku! Aku mohon..."

Dia berlari menuju pintu. Sungguh nahas, pintu itu terkunci.

Tangannya dengan tak sabar memutar kenop dan mengguncangnya dengan sekuat tenaga. "Tolooong! Siapapun! Tolong aku!"

Namun, tetap tidak ada jawaban. Hanya suara napasnya yang terpecah memenuhi ruangan. Diikuti suara denting seperti logam dicabut dari porosnya.

Wanita itu menoleh. Napasnya tertahan.

Sosok di belakangnya memegang dua batang besi kecil. Tombol huruf dari mesin ketik.

“Jangan... kumohon..." Wanita itu merapatkan tubuhnya ke dinding sambil menggigil kali ini.

Suara langkah kaki perlahan mendekat menggema di udara. Setiap langkah seperti siaran ulang masa lalu yang tidak bisa dihapus.

"Aku akan mengaku! Aku akan menulis pengakuannya! Aku akan membatalkan kontrak! Aku akan..."

Terlambat.

Napas terakhirnya mendesis di udara, meninggalkan bekas cipratan merah di permukaan pintu, lantai, dan dinding.

Wajah wanita itu menunduk. Tubuhnya terjatuh di lantai berlapis karpet warna krem.

Beberapa menit kemudian, dia sudah kembali di kursinya. Kepalanya terkulai di atas meja. Darahnya membasahi lima lembar naskah di bawah dagunya. Dua batang tombol huruf menancap di lehernya.

C dan V.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ratings

10
100%(39)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
39 ratings · 39 reviews
Write a review

reviewsMore

Goresan Aksara
Goresan Aksara
ikut vertigo ini kalau ada kasus seperti ini. soalnya penuh teka teki, semoga kasusnya segera terpecahkan. sem
2026-06-26 08:03:49
2
0
Jingga Zero
Jingga Zero
liku yg menarik greg bner2 harus jeli harus buktikan kalo wanita yg dia suka, bukan trsangka novel yg menarik, kasus yg membingungkan but, romnce ny ngena
2026-06-26 07:22:17
2
0
Heylaa
Heylaa
seru banget aslii, soalnya penuh misteriii. genre aku banget ini mahhhhhh ahh........................
2026-06-25 23:55:28
2
0
se_an
se_an
rela-relain ngerjain misi sama beli koin buat baca nih cerita saking seru dan penasaran sama asmara nya Tara dan greg tapi beneran bikin suasana ikut panas dan deg-degan wkwk
2026-06-13 19:11:33
1
1
IR Windy
IR Windy
pecah banget ceritanya apik tenan, thor..
2026-06-10 23:00:23
1
1
70 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status