LOGINPERINGATAN: 21+ “Mana yang lebih kau sukai, Tara? Bercinta dengan seorang detektif atau membunuh para plagiator?” *** Cerita ini mengandung konten eksplisit dan tema gelap, termasuk: · Penggambaran hubungan toksik dan dinamika kekuasaan yang tidak sehat. · Eksplorasi trauma (seksual dan psikologis), serta kekerasan. · Psikologi karakter yang rusak dan motivasi balas dendam. Ini merupakan karya fiksi. Tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak manapun. Bukan promosi tindakan ilegal. Hanya alternatif bacaan semata. Bacalah dengan kesadaran penuh. *** SINOPSIS Gregory Evans adalah detektif prodigy yang terobsesi menaklukkan kekacauan, satu-satunya benteng melawan trauma masa kecil yang menghantuinya. Tara Bradley adalah pustakawan sekaligus penulis penyintas trauma kekerasan seksual yang tidak lagi memerlukan penyembuhan. Hanya ingin merebut kembali kuasa atas kedaulatan dirinya. Sebuah kasus pembunuhan eksentrik dengan motif plagiarisme, yang meniru naskah Tara, mempertemukan mereka, dua jiwa yang sama-sama rusak dengan luka masing-masing. Batas antara penyelidik dan tersangka, antara fakta dan fiksi pun runtuh. Bagi Greg, Tara adalah cermin dari monster yang paling dia benci sekaligus dia dambakan. Juga bukti hidup bahwa hukum tidak selalu menjadi jawaban. Bagi Tara, Greg bukan sekadar seorang detektif. Dia adalah algojo pilihannya untuk menghancurkan dirinya. Bukan di balik jeruji, melainkan dalam kendali mutlak pria itu. Dalam permainan berbahaya di mana setiap sentuhan adalah interogasi dan setiap puncak kenikmatan adalah hukuman, Greg terpaku pada pilihan mustahil: Mempertahankan lencananya dan kehilangan Tara selamanya, atau mengkhianati sumpahnya untuk memiliki wanita yang hanya merasa hidup saat dihancurkan olehnya.
View More"Pernahkah kau mengenal dan mengagumi seorang wanita, karena dia terlihat begitu polos, seakan tak tersentuh kerusakan dunia? Sebelum kemudian kau sadar, dialah yang memadamkan seluruh lentera di hidupmu. Aku pernah. Dulu. Dulu sekali. Waktu aku masih seorang bocah yang tak berdaya. Sekarang, wanita semacam itu muncul lagi di hidupku. Hanya saja, kali ini, aku lebih berkuasa darinya. Sekaligus terobsesi pada kegelapannya."
Gregory Alistair Evans *** Pagi merambat pelan menyentuh jendela sebuah rumah bergaya Victoria di kawasan Mayfair. Langit di atasnya masih gelap oleh awan tebal. Dan di lantai dua rumah itu, lampu kuning temaram masih menyala dari balik tirai ruang kerja. Di dalam ruangan, seorang wanita duduk gemetar di depan meja kayu. Rambut ombre merah mudanya acak-acakan. Mata dengan contact lens ungunya membelalak dalam ketakutan yang merayap dari tengkuk hingga ke ujung jari. Piyamanya basah oleh keringat dingin. Kainnya menempel di kulit. Wanita itu seorang penulis. Baru saja menandatangani kontrak besar untuk novel berikutnya. Dunia menyebutnya berbakat. Akan tetapi, pagi itu, dia bukan siapa-siapa. Tangannya bergerak pelan di atas tombol-tombol mesin ketik tua. Satu per satu. Mengikuti instruksi yang dibisikkan oleh seseorang di belakang punggungnya. Dentuman tiap huruf terdengar nyaring. Bersahutan dengan laju detik jarum jam yang menunjukkan pukul 05.40. Tidak seperti ketukan biasa. Lebih seperti hukuman yang sedang dijatuhkan. Di belakangnya, sosok dengan jaket bertudung kepala warna gelap menelusuri rak buku. Tangannya yang terbungkus sarung tangan latex hitam menyentuh buku-buku yang berjajar. Lalu, berhenti di satu novel dengan nama wanita itu tertera di sampul. Dia menariknya perlahan. Membolak-balik. Bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum, lebih seperti cemoohan. "Hebat sekali," ucapnya lirih. "Sampul cantik. Tapi isinya... aku rasa kita tahu dari mana asalnya." Wanita itu tidak menjawab. Dadanya naik-turun dengan cepat. Suara tarikan napasnya meneriakkan ketakutan. Matanya menatap kosong ke mesin ketik. Seolah-olah menoleh ke belakang bisa memperburuk situasi. Sosok bertudung itu berjalan pelan. Jemarinya menyusuri permukaan bingkai foto. Foto sang penulis saat menerima penghargaan 'Penulis Muda Berbakat'. Senyumnya lebar. Dia berdiri di tengah lampu sorot dan buket bunga. "Senang rasanya dipuja banyak orang, ya?" bisik sosok itu. Dia menoleh. "Aku juga pernah dipuji. Tapi tidak pernah mencuri." Wanita itu menoleh perlahan, tubuhnya gemetar. "Aku tidak tahu apa maksudmu... Kumohon... ini semua hanya kesalahpahaman..." Sosok tadi meletakkan buku yang dipegangnya. Beralih ke dinding tempat piagam-piagam tergantung rapi. Salah satunya bahkan dibingkai dengan emas tipis. Dia menyentuhnya, mengusapnya perlahan dengan jari seperti sedang membaca jejak dosa. "Kau punya banyak pengakuan. Tapi, tidak satu pun pengakuan untuk orang yang sebenarnya menulis kisah itu lebih dulu." "Sosok itu melangkah perlahan mendekat kembali ke meja. Diletakkannya lima lembar kertas di depan si wanita. "Akhir kisah hidupmu sudah ditulis. Kau mau membacanya?" "Aku... Aku akan melakukan apa pun. Aku bisa bayar. Berapa pun yang kau minta..." Wanita itu mengiba. Bibirnya dan suaranya bergetar. Air matanya luruh seperti hujan yang kembali turun. "Aku tidak butuh uangmu," sahut lawan bicaranya. Pelan. Rendah. Namun, terdengar seperti sedang menyampaikan berita buruk. "Yang kubutuhkan..." Dia membelai lembaran kertas di tangannya, "...adalah menuntaskan akhir bab ini." Wanita itu kian tersedu sambil menggeleng. "Aku tidak mencuri! Cerita itu... itu ide umum. Siapa pun bisa menulisnya!" Sosok itu berjalan pelan ke arah rak kecil tempat guntingan-guntingan kliping disematkan. Langkahnya terdengar berat. Dia mengambil salah satunya dan membaca sepenggal kalimat. "Bakat muda yang mengguncang industri penerbitan Inggris dengan suara unik dan penuh orisinalitas." Dia terdiam sesaat sebelum memiringkan kepala dan bertanya, "Ironis, bukan?" Tidak ada teriakan. Tidak ada bentakan. Akan tetapi, setiap kata yang terucap dari mulutnya merambat di udara seperti ancaman yang nyata. Sang penulis wanita berdiri mendadak. Terdorong oleh insting untuk menyelamatkan diri. Kursinya terjatuh ke belakang. "Tolong! Jangan lakukan ini. Tinggalkan aku! Aku mohon..." Dia berlari menuju pintu. Sungguh nahas, pintu itu terkunci. Tangannya dengan tak sabar memutar kenop dan mengguncangnya dengan sekuat tenaga. "TOLONG! SIAPA PUN! TOLONG AKU!" Namun, tetap tidak ada jawaban. Hanya suara napasnya yang terpecah memenuhi ruangan. Diikuti suara denting seperti logam dicabut dari porosnya. Wanita itu menoleh. Napasnya tertahan. Sosok di belakangnya memegang dua batang besi kecil. Tombol huruf dari mesin ketik. "Jangan... kumohon..." Wanita itu menggigil kali ini. Suara langkah kaki perlahan mendekat menggema di udara. Setiap langkah seperti siaran ulang masa lalu yang tidak bisa dihapus. "Aku akan mengaku! Aku akan menulis pengakuannya! Aku akan membatalkan kontrak! Aku akan..." Terlambat. Yang terdengar selanjutnya adalah desis napas terakhir. Meninggalkan bekas cipratan merah di permukaan pintu, lantai, dan dinding. Wajah wanita itu menunduk. Tubuhnya terjatuh di lantai berlapis karpet warna krem. Beberapa menit kemudian, dia sudah kembali di kursinya. Kepalanya terkulai di atas meja. Darahnya membasahi lima lembar naskah di bawah dagunya. Dua batang tombol huruf menancap di lehernya. C dan V.Greg tidak langsung menjauh. Dia menikmati respon tubuh Tara yang jujur, sebelum tangannya menyingkir. Digenggamnya tuas persneling, lalu memindahkan posisinya. “Kau gemetar," komentarnya datar dan singkat. Matanya menatap lurus ke jalan. Seolah-olah tidak melakukan apapun barusan. Akan tetapi, Tara mendengar kepuasan di nada suaranya. Tara menelan ludah dan menarik ujung lengan cardigan-nya. "Aku kedinginan," elaknya dengan suara yang goyah. Berusaha menutupi kenyataan. "Pendingin ruanganmu terlalu kencang." "Atau mungkin," lanjut Greg sambil meliriknya sekilas. Tatapannya mendarat tepat ke bibir Tara yang sedikit terbuka. Kemudian turun ke leher jenjangnya, di mana kalung yang menjadi bahan gunjingan di perpustakaan tadi melingkar, "kau mengingat apa yang terjadi, terakhir kali kita berada di ruang sempit dan tertutup." Wajah Tara memanas seketika. Tanpa diundang, bayangan tentang kamar mandi malam itu membanjiri ingatan. Uap hangat. Air pancuran. Dinginnya dinding keramik di pun
Suara Greg kembali menyergap pendengaran Tara. Kali ini lebih mengancam, sekaligus penuh kendali. “Percayalah, Tara, kau tak ingin aku yang menarikmu keluar dari sana.” Detak jantung Tara kian ribut. Seirama klakson yang bersahut-sahutan di luar. Dia ingin menjawab, tetapi kata-kata enggan keluar. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. “Ini bukan sekadar jemputan paksa. Ini adalah pelanggaran terhadap hakku sebagai manusia bebas,” sengitnya dalam hati. Greg tidak perlu menjelaskan. Caranya menghentikan bus sudah cukup untuk mengatakan segalanya. Tak ada ruang tersisa bagi privasi dan kendali Tara. Begitu juga bagi keamanan publik. Yang ada hanyalah obsesi gilanya. Tara mulai berpikir, dirinya telah salah melangkah. Dia sudah bermain dengan orang yang salah. Urusannya dengan detektif itu tak akan berakhir baik. Yang lebih mengerikan, ini tak akan berakhir dengan mudah. Sekelebat dugaan itu menghadirkan badai dalam dadanya. "Buka pintunya," ujar Tara pada
Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh. Bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal. Diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi umpan yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu. Dirapatkannya cardigan putih panja
Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana. Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya. "Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan.











![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore