Rumah itu tenggelam dalam keheningan yang tidak nyaman—jenis sunyi yang terasa terlalu sadar akan dirinya sendiri. Lampu ruang keluarga diredupkan, hanya cahaya lampu meja yang jatuh di sudut sofa, tempat Alea terlelap dengan posisi miring. Napasnya teratur, tapi alisnya sesekali mengernyit, seolah mimpi buruk belum sepenuhnya melepaskan cengkeramannya. Satu tangannya bertengger di perutnya. Selalu di sana.Darren berdiri beberapa langkah dari istrinya. Ia tidak mendekat. Tidak ingin mengusik tidur yang rapuh itu. Hari ini Alea sudah melalui terlalu banyak—tatapan, tuduhan, dan tamparan yang membuka luka lama.Ia mengalihkan dirinya ke meja kerja. Laptopnya menyala. Beberapa map tipis tersusun rapi. Nama Alea tertera di sampul berkas utama, ditulis dengan font formal dan dingin, kontras dengan kehidupan yang terkandung di baliknya.Darren menarik kursi dan duduk. Gerakannya terkontrol, hampir mekanis. Ia membuka berkas pertama—dokumen kependudukan lama. Kartu keluarga. Nama ayah Alea
Last Updated : 2026-01-05 Read more