Tiga menit terakhir sebelum mati, jiwaku melayang ke sisi ibuku.Saat ini, Ibu sedang duduk di samping tempat tidur adikku dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia berdoa, "Vira, jangan takuti Ibu, cepat bangun ya, boleh?"Ayah tampak sangat marah. “Kalau saja sebagai kakak, Esmerina jaga adiknya baik-baik, mana mungkin Vira jadi begini! Nanti lihat saja, akan kuhajar dia sampai mati!”Aku berdiri di samping melihat semuanya, hatiku terasa pahit.'Ayah, kamu tak perlu turun tangan, aku sudah mati.''Mati dalam ketidakpedulian kalian.'Saat ini, para dokter mengelilingi tempat tidur Lusvira.Setelah memastikan dirinya hanya mengalami cedera tulang dan tidak apa-apa, salah satu dokter yang lebih tua baru berani menyebutku. Dengan hati-hati dia bertanya, "Bu Direktur, benar-benar nggak perlu pedulikan Rina? Sepertinya luka kecelakaannya sangat parah."Wajah Ibu yang tadi penuh kepedulian segera berubah menjadi muak, dan dia berteriak keras, "Dia main sandiwara apa lagi? Mau pura-pura mati? Di
Baca selengkapnya