Ruang Aula Angin Dalam diselimuti cahaya pucat dari lentera kristal angin yang menggantung rendah. Cahaya itu tidak hangat—melainkan bening dan dingin, memantul di dinding batu berukir formasi spiral. Udara terasa ringan saat dihirup, namun menekan dada, seolah setiap tarikan napas diukur, ditimbang, lalu diputuskan layak atau tidak.Qing Jian berdiri di tengah aula.Jubahnya masih berdebu pasir gurun, sisa pertempuran belum sepenuhnya pergi. Punggungnya lurus, pedangnya tersarung rapi, namun auranya belum sepenuhnya tenang—seperti bilah yang masih panas setelah ditempa.Di hadapannya, Madam Yao Shen duduk di kursi batu berbentuk lingkaran mantra. Rambut putihnya terikat rapi, kedua tangannya disilangkan di pangkuan. Tatapannya tajam, namun dalam—seperti angin tua yang telah melihat terlalu banyak kematian.“Permintaanku sederhana,” kata Qing Jian, memecah keheningan yang terasa terlalu berat. “Golok Pembasmi Iblis. Aku telah memenuhi syarat. Pemimpin Iblis Gurun kubawa hidup-hidup.”M
최신 업데이트 : 2026-01-02 더 보기