LOGIN[IG : zhu.phi] Dikhianatin oleh tunangannya yang telah bersamanya selama 3 tahun membuat Shu Jin kehilangan semua Darah Pedang Spiritual yang merupakan warisan keluarganya. Bahkan ia tidak sanggup untuk berkultivasi untuk memperkuat dirinya. Hinaan yang diterimanya membuat Shu Jin jadi pria kejam yang tak kenal ampun. Namun, suatu kejadian tak terduga membawanya ke Lembah Makam Dewa Pedang. Salah satu makam yang terkuat adalah Kaisar Pedang Abadi yang merupakan jagoan pedang yang tak terkalahkan di masanya. Shu Jin yang biasa hidup sebagai bangsawan dan jenius dari Keluarga Besar Shu harus mengalami penderitaan untuk mengembalikan kondisinya seperti sedia kala, dan membalas dendam terhadap orang-orang yang telah mencelakainya. Bahkan Iblis dan Dewa juga dihancurkannya sebagai praktisi pedang sejati yang dikenal sebagai Dewa Pedang.
View More"Argh!" Shu Jin terbatuk keras, tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum jatuh berlutut di tanah berbatu.
Sebuah pukulan yang tak terduga dari kekasihnya, Wu Chao-Xing dengan telak mendarat tepat di perutnya, tepat di bawah pusar—dantian, inti kekuatan spiritual seorang cultivator.
Rasa sakit yang menusuk menjalar dari pusat tubuhnya, membuatnya menggigil. Napasnya memburu, tangannya refleks meraba perutnya, seolah berharap itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan lebih kejam dari yang bisa ia bayangkan.
Dantian-nya… hancur.
Mata Shu Jin melebar tak percaya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia mendongak menatap Wu Chao-Xing. "Xing'er… apa yang telah kau lakukan...?"
Namun, gadis yang selama ini ia anggap sebagai belahan jiwanya kini berdiri dengan tatapan yang berbeda.
"Shu Jin!" Wu Chao-Xing mendengus, melipat tangannya dengan ekspresi jijik. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun ini hanya demi hari ini!"
Shu Jin terhuyung, matanya masih mencari secercah harapan bahwa ini semua hanya kesalahpahaman. "Bukankah kita akan menjadi suami-istri? Kenapa kau melakukan ini, Xing'er?"
Wu Chao-Xing mencibir. "Suami-istri? Hanya dalam mimpimu, Shu Jin! Aku muak selalu berada di dekatmu dan memanggilmu Jin'ge... Cih!"
Napas Shu Jin tersengal saat rasa hangat yang selama ini menjadi sumber kekuatannya mulai terangkat dari tubuhnya—meninggalkan kehampaan yang membuat tubuhnya gemetar seperti kedinginan.
Cahaya hitam itu akhirnya memadat menjadi sebuah bola kecil—Mutiara Hitam. Ia melayang pelan dari dada Shu Jin, berpendar dengan aura mencekam yang membuat udara di sekitarnya menjadi dingin dan berat.
Shu Jin hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat mutiara itu melayang menuju tangan Wu Chao-Xing.
Wu Chao-Xing menyambut mutiara itu dengan senyum yang tak lagi menyembunyikan niat busuknya.
"Ah, akhirnya...!" gumamnya dengan mata yang berkilat kegirangan.
Kemudian, tawanya meledak, menggema di antara rerimbunan pohon persik yang kini kehilangan keindahannya.
"Begitu bodohnya kau, Shu Jin!" serunya dengan nada mengejek yang menusuk lebih tajam dari pedang. "Selama ini kau menelan pil mutiara yang aku berikan dengan senyum polos. Tidak pernahkah kau curiga? Pil-pil itu bukan untuk memperkuat tubuhmu, melainkan untuk menyedot perlahan-lahan energi spiritualmu—hingga Kristal Mutiara Hitam dalam tubuhmu cukup matang!"
Mata Shu Jin bergetar. "Apa... maksudmu...?" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Wu Chao-Xing melangkah mendekat, dengan aura angkuh yang membungkus seluruh tubuhnya. "Kau warisan terakhir dari garis keturunan Pedang Spiritual, Shu Jin. Darahmu... kekuatanmu... semua itu terkunci di dalam Kristal Mutiara Hitam sejak kau dilahirkan. Tapi sekarang... semuanya telah menjadi milikku."
Ia mengangkat Mutiara Hitam tinggi ke langit. "Dengan ini, aku akan menjadi Ahli Pedang Sejati! Tak seorang pun bisa mengalahkanku lagi! Tapi kau..." Ia menunduk, menatap Shu Jin dengan pandangan merendahkan, "...kau hanyalah sampah yang sudah tak bisa berkultivasi."
Shu Jin jatuh berlutut. Napasnya pendek-pendek. Dantian-nya terasa hampa, seperti sumur yang dikuras hingga kering. Tapi kehampaan itu tak sebanding dengan yang ia rasakan di dalam hatinya.
Pengkhianatan.
"Aku... percaya padamu..." suara Shu Jin pecah, lirih dan putus asa. "Mengapa... mengapa kau melakukan ini?"
Wu Chao-Xing mendekat, membungkuk sedikit, lalu berbisik di telinganya.
"Karena cinta dan kepercayaan adalah kelemahanmu, Shu Jin. Asal kau tahu... aku tidak pernah mencintaimu."
Kemudian ia membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah penuh kemenangan, membawa Mutiara Hitam dalam genggamannya—sementara Shu Jin tetap berlutut di tengah bayangan senja yang menyesakkan, terbungkus kesedihan yang tak dapat disembuhkan.
Namun tiba-tiba—suatu dorongan muncul. Bukan dari dantian, bukan dari kekuatan spiritual yang telah hilang, tetapi dari sisa-sisa harga diri yang tercabik.
“BERHENTI!”
Mata Shu Jin melebar penuh tekad, dan ia mencoba berdiri, menggertakkan giginya walau tubuhnya bergetar hebat.“Kenapa... kenapa aku...” gumamnya lemah, matanya berkedip cepat menahan pusing yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Wu Chao-Xing berhenti melangkah, lalu tertawa rendah, penuh sinisme. Ia menoleh sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum licik.
“Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu tetap bisa mengejarku? Aku sudah mencampurkan Pil Pelemas Tulang dalam makananmu semalam… Hahaha! Kau sungguh mudah ditipu. Bahkan lupa kalau aku ini adalah alkemis tingkat tinggi.”
Kata-kata itu menggema, bergulir dalam benak Shu Jin seperti mantra jahat. Tangannya bergetar, mengepal tanah dan bunga persik yang berserakan.
“Kau... iblis betina...” gumamnya, kini nada suaranya berubah. “Kau telah menipuku... mempermainkan hatiku, tubuhku, kekuatanku... Aku bersumpah, akan kubalas semua perlakuanmu... seribu kali lipat!”
Namun Wu Chao-Xing hanya mencibir.
“Masih bisa menggertak rupanya. Menyedihkan. Sudahlah, Shu Jin… kau beruntung aku tidak membunuhmu di tempat ini. Sekarang, kau hanyalah manusia biasa yang tak berguna. Terimalah nasibmu… hahaha!”
Tawa itu bergema seperti gendang kematian. Shu Jin mengerang, mencoba menahan rasa sakit yang menyerbu sekujur tubuhnya. Namun kenyataan lebih kejam dari luka fisik.
“Kau… Uhuk—!”
Tiba-tiba darah segar menyembur dari mulutnya. Shu Jin terkapar tak sadarkan diri, bukan karena lukanya tapi karena sakit hatinya yang tak tertahankan.*****
"Siapa yang membawaku pulang?" tanya Shu Jin saat dirinya tersadar kembali.
Lian Hua, pelayannya menunduk sedikit, lalu menjawab dengan lembut, "Nona Wu, Tuan Muda. Ia yang membawa Anda kembali ke kediaman Shu dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia bilang… Tuan Muda terjatuh dari tebing saat sedang berlatih di Pegunungan Xijing. Tapi tenang saja... tabib sudah memeriksa tubuh Anda. Tidak ada luka dalam yang serius, hanya kehilangan kesadaran akibat kelelahan."
Alis Shu Jin mengernyit. Matanya yang masih sedikit redup kini bersinar tajam. "Tabib? Tabib dari keluarga mana?"
"Tabib dari Keluarga Wu, Tuan Muda…" Lian Hua menjawab dengan hati-hati. "Nona Wu sendiri yang memanggilnya. Ia tampak sangat cemas... wajahnya pucat, hampir menangis saat membawa Anda pulang. Ia bahkan bersikeras menggunakan tabib terbaik dari keluarganya untuk memastikan Anda segera pulih."
“Sudah aku duga…” gumamnya pelan namun tajam seperti bilah pedang. “Iblis betina itu sedang mencoba menutupi jejak busuknya.”
Kepala Shu Jin masih berdenyut, pikirannya buram, tetapi kesadarannya mulai menajam. Kenangan tentang Wu Chao-Xing, tentang pengkhianatan. Namun di balik semua itu, satu hal lain muncul dengan mendesak.
Mata Shu Jin terbuka lebar. "Lian Hua... aku sudah pingsan berapa lama?"
Pelayan itu menundukkan kepala, suaranya kecil. "Sudah lima hari, Tuan Muda..."
“Lima hari?” Shu Jin membenamkan punggungnya ke bantal dengan ekspresi tegang. “Bagaimana dengan... Seleksi Penerimaan Murid dari Sekte Pedang Surgawi? Bukankah… minggu ini?”
“Mengenai seleksi itu...” kata Lian Hua ragu-ragu.
Shu Jin menoleh cepat. “Apa yang telah terjadi, Lian Hua?”
Lian Hua akhirnya membuka mulut. “Nona Wu datang ke hari seleksi dan… ia berbicara langsung dengan Tuan Besar. Ia memohon agar Tuan Muda tetap diizinkan mengikuti seleksi... katanya, ia memiliki pil spiritual dari Keluarga Wu yang dapat membangunkan Anda... untuk sementara waktu.”
Shu Jin menahan napas. Wajahnya terperangah. “Apa maksudmu… aku mengikuti seleksi… dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya?!”
Lian Hua mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Ya… Nona Wu mengklaim bahwa pil itu cukup kuat untuk memulihkan kesadaran Anda selama beberapa jam. Ia tampak begitu yakin… dan Tuan Besar akhirnya menyetujuinya.”
Napas Shu Jin terengah. Antara syok dan bingung, emosinya teraduk-aduk. Ia mencoba mengingat, tapi otaknya seperti tertutup kabut tebal.
"Apa... yang terjadi di seleksi itu? Apakah aku... berhasil lolos?" tanyanya nyaris dengan nada memohon, penuh harap dan ketegangan yang menumpuk di dadanya.
Lian Hua menggigit bibir bawahnya. Ia tidak langsung menjawab.
"Lian Hua! Tolong, katakan padaku... Apa aku lolos?!"
Mata Shu Jin menatap kosong langit-langit kayu di atasnya, tapi pikirannya berkecamuk hebat.
Seorang pelayan laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun masuk dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya terengah, dan wajahnya... pucat seperti telah melihat kematian.
“Tuan Muda!” serunya dengan suara gemetar. “Sesuatu yang buruk… sangat buruk telah terjadi!”
Benua Terlarang...Nama itu bergaung seperti kutukan di kalangan para Cultivator Song Selatan.Sebuah daratan luas yang jarang disebut tanpa nada takut—tempat yang oleh sebagian orang dijuluki Benua Dewa. Bukan karena kedamaiannya… melainkan karena para penghuninya yang melampaui batas manusia biasa.Tak banyak yang berani pergi ke sana.Bukan karena tak ingin.Tapi karena tahu—sekali melangkah ke wilayah itu, hidup dan mati bukan lagi milik sendiri.Di Benua Terlarang, kekuatan adalah hukum.Sosok yang lemah… hanya bahan pijakan.Langit di sana terasa lebih berat, seolah tekanan energi spiritual menindih siapa pun yang belum cukup kuat. Bahkan cultivator tingkat Inti Emas... yang di Song Selatan sudah dianggap elite... hanyalah lapisan terbawah di tempat itu.Lebih tinggi lagi... ada mereka yang telah menyentuh ambang keabadian.Immortal.Makhluk-makhluk yang tak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum fana.Sekte-sekte pedang terkenal menjamur di sana.Transaksi sepenuhnya menggunakan bat
“Kenapa… ia tidak melawan?”Suara Shu Jin terdengar serak, nyaris tak dikenali. Ia berdiri membeku di tengah sisa panas yang masih beriak di udara. Abu halus beterbangan di sekelilingnya... sisa tubuh Wu Chao-Ming yang baru saja lenyap dilahap api. Bau hangus masih menempel di tenggorokan, pahit, menyesakkan.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai… ia ragu.Langkah tertatih terdengar dari belakang.Tetua Wu Chao-Pei muncul dari antara reruntuhan tubuh murid-murid Wu. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap jernih—penuh kelelahan… dan sesuatu yang lebih dalam.Guo Xiang langsung bergerak ke depan. Pedangnya terangkat, siap kapan saja menebas jika pria tua itu mencoba sesuatu.Namun Wu Chao-Pei hanya berhenti beberapa langkah dari Shu Jin.Tidak ada niat menyerang.Hanya satu gerakan pelan... ia mengeluarkan sebuah surat yang sudah kusut dari balik jubahnya.“Ini… dari ayahmu, Shu Jin,” ucapnya lirih. “Bacalah… maka kau akan
Wu Chao-Ming sudah menyadarinya.Sebelum Shu Jin dan Guo Xiang benar-benar tiba, sebelum ujung serangan mereka menyentuh sasaran—mata pria tua itu telah terbuka perlahan, seperti seseorang yang memang telah menunggu momen ini sejak lama.Dalam satu tarikan napas, dua bayangan menerjang.Namun yang mereka hantam… hanya ruang kosong.Energi pedang mencabik udara tanpa mengenai apa pun.Shu Jin langsung memutar tubuhnya ke belakang.Wu Chao-Ming kini telah berdiri di belakang mereka.Tegak dan tenang. Seolah perpindahan barusan hanyalah langkah biasa yang tak berarti.Jubahnya bergoyang pelan, wajahnya tetap datar, namun sorot matanya… dalam. Terlalu dalam untuk dibaca.“Aku sudah tahu hari ini akan datang…” suaranya berat, mengandung sesuatu yang tak mudah dijelaskan. “Tapi, Shu Jin… apa yang kau lihat… belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya.”Ucapan itu membuat suasana semakin memanas.Mata Shu Jin langsung menyala.“Bandot tua sialan!” suaranya pecah, penuh amarah yang tak lagi t
Shu Jin dan Guo Xiang melesat maju tanpa ragu.Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah... keduanya melayang rendah, menapak udara dengan kecepatan yang memecah angin. Hantu-hantu kelaparan di bawah mereka mengangkat tangan-tangan busuk, mencoba meraih, namun yang tertangkap hanya bayangan yang sudah melintas.Desingan udara berdengung di telinga.Satu… dua… puluhan sosok hantu terlewati dalam sekejap.Dan tiba-tiba... pemandangan berubah.Mereka mendarat di sebuah tempat yang kontras dengan neraka di belakang: sebuah dataran yang tenang, hampir indah. Tanahnya bersih, udara terasa lebih ringan, seolah wilayah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata.Namun ketenangan itu semu.Karena di sana... Keluarga Besar Wu telah menunggu.Ratusan murid berdiri berlapis, membentuk barisan kokoh yang menghadang jalan. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, sebagian menyimpan keraguan, sebagian lagi menyala dengan niat membunuh.Dan di belakang mereka, seorang pria tua duduk bersila.Wu
Angin malam berdesir keras di pegunungan barat.Awan hitam bergerak cepat di langit, sesekali menyingkap cahaya bulan yang pucat. Tebing-tebing batu berdiri menjulang seperti gigi raksasa yang menembus kabut pegunungan.Tiba-tiba... sebuah bayangan putih melesat di udara.WHOOSH!Seekor harimau puti
Angin gurun berdesir pelan melewati halaman benteng batu.Butiran pasir beterbangan di udara yang mulai dingin, memantulkan cahaya jingga senja yang tersisa di cakrawala.Semua orang menunggu.Tidak ada yang berbicara.Tatapan puluhan anggota Gobi Pay kini tertuju pada satu orang—Shu Jin.Di depan m
Angin gurun berubah lebih ganas.Butiran pasir halus terangkat dari tanah kering, berputar-putar seperti pusaran kecil sebelum akhirnya menyapu kaki kuda dan jubah para penunggang yang berhenti di tengah hamparan pasir luas.Langit di atas Gurun Gobi pucat dan kejam.Matahari belum sepenuhnya tengge
Tubuh Qing Jian kembali bergetar.Namun bukan getaran biasa— Ini seperti gelombang kejut yang meledak dari dalam tulangnya, mengalir ke kulitnya dalam hantaman kasar yang membuat ranjang obat berderit keras.KRAAAK—KRAAAK—!Urat-urat biru dan merah saling berbenturan di permukaan kulitnya seperti d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore