Di kediaman megah keluarga Wijaya, udara seolah membeku oleh ketegangan yang kasat mata. Kinanti mondar-mandir di atas karpet Persia ruang tamu. Di sudut ruangan, Intan, putri kesayangannya, duduk bersandar dengan santai, mengikir kuku-kukunya yang dicat merah darah. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, sorot mata Intan tidak pernah benar-benar lepas dari kegelisahan ibunya."Intan, dengarkan Mama!" suara Kinanti pecah dan tajam. Ia berhenti mendadak dan menatap putrinya dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan. "Jangan hanya diam seperti itu. Kejadian kebakaran di gudang itu seharusnya membuat Jessie panik. Tapi kenapa sampai detik ini dia diam saja? Kenapa Jessie dan Jacob sama sekali belum bergerak? Ini tidak masuk akal!"Intan menghentikan kegiatannya sejenak, meniup debu halus dari kuku jarinya. “Mungkin mereka masih menyusun rencana, Ma,” ucapnya asal.“Itulah yang harus kita ketahui, Intan!” desak Kinanti. Ia mendekat, mencengkeram sandaran kursi Intan. “Dalam dunia bisnis d
Last Updated : 2025-12-21 Read more