MasukJessie Wijaya batal menikahi pewaris keluarga Sanjaya karena pria itu menjebaknya tidur dengan pria asing. Meski begitu, pernikahan dua keluarga itu harus tetap berjalan, karenanya Jessie kemudian dipaksa untuk menikahi Jacob Sanjaya, pria yang dikatakan sebagai cucu yang diasingkan. Namun, betapa terkejutnya Jessie di depan altar saat melihat pria yang akan menikahinya justru adalah pria yang tidur dengannya malam itu!
Lihat lebih banyak“Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Daniel.” Jessie berdiri kaku di tengah kamar hotel mewah itu. Cahaya temaram lilin aromaterapi memantul di dinding marmer, menciptakan suasana intim yang justru membuat perutnya mual.
“Ayolah, Jess.” Daniel meraih tangan Jessie, jemarinya menggenggam lembut tetapi terasa memaksa. “Kita hanya butuh waktu berdua sebelum besok. Tanpa keluarga, tanpa teman-temanmu yang cerewet itu.”
Jessie menelan ludah. Ia selalu tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan dua keluarga. Ayahnya mengejar kekayaan keluarga Sanjaya, sementara ia hanya ingin lepas dari rumah, dari ibu tiri yang selalu meremehkannya, dari tekanan keluarga yang tak pernah peduli pada dirinya.
Tapi berada di kamar hotel seperti ini, malam sebelum pernikahan, tetap terasa salah.
Jessie mengedarkan pandangan. Ranjang besar, tirai tebal, anggur merah di meja, dan lilin-lilin wangi… semuanya seperti terlalu ‘disiapkan’.
“Kita bisa bicara di lobi, atau di restoran,” ucap Jessie lirih. “Kenapa harus di sini?”
Daniel terkekeh, nada tawanya ringan tapi matanya dingin. “Kamu terlalu tegang. Sedikit minum tidak akan membuatmu kehilangan kendali, kan?” Ia mengangkat dua gelas sampanye. Jessie ragu.
Tapi sebelum ia sempat menolak, Daniel sudah menyodorkan gelas ke bibirnya, seolah mendorongnya agar minum.
“Untuk masa depan kita,” ujar Daniel sambil tersenyum.
Jessie mengangkat gelas hanya untuk menghargai. Cairan itu hangat ketika melewati tenggorokan, namun rasa getir samar membuat alisnya terangkat. Aneh. Sampanye biasanya tidak seperti itu.
Ia baru meneguk sedikit, tetapi pandangannya langsung berputar. “Aku... kenapa rasanya—”
Dunia mulai memudar di sekelilingnya.
“Daniel… apa yang kamu—”
Kalimatnya terputus. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Napasnya memburu. Tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.
Dalam penglihatan yang mulai kabur, bayangan Daniel bergerak ke arah pintu. Jessie melihatnya samar berbicara dengan seseorang di luar kamar.
Satu kalimat dari Daniel samar terdengar di telinganya.
“…tiduri wanita itu…”
“Apa…?” Jessie mencoba menangkap arti kalimat itu. Tapi kepalanya berat, matanya menutup dengan sendirinya, dan ia jatuh ke ranjang tanpa daya.
Entah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat tubuhnya terasa… aneh. Panas merayap dari ujung kaki sampai punggungnya. Nafasnya pendek. Kulitnya sensitif terhadap udara yang menyentuh.
Jessie menggeliat, meraih tepi selimut. “Daniel…?” panggilnya lemah.
Tidak ada jawaban dari pria itu.
Yang ada justru… seseorang lain.
Siluet seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari ranjang. Jessie memaksa matanya membuka lebih lebar. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama.
“Siapa…” Jessie menarik napas keras, dada naik turun tak teratur. “Apa yang… kamu lakukan di sini?”
Pria itu tampak terkejut melihat kondisinya. Matanya menajam, kemudian melirik gelas-gelas sampanye di meja. “Nona, kamu... apa kamu sadar apa yang kamu minum?”
Jessie tidak bisa menjawab. Otaknya kabur. Tubuhnya panas. Pikirannya berkata ia harus menjauh, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat.
“Tol—tolong…” suaranya pecah, antara sadar dan tidak.
Pria itu tampak ragu. Tangan besarnya terulur hanya untuk memastikan Jessie tidak terjatuh. “Kamu tidak baik-baik saja. Duduk dulu.”
Namun ketika ia mencoba menjauh, Jessie malah meraih kerah kemejanya dan menarik pria itu ke arahnya.
Bibirnya menyentuh bibir pria itu.
Mata pria itu terbelalak. Ia tampak berniat mundur, tetapi Jessie sudah lebih dulu terseret oleh sensasi aneh yang membakar tubuhnya. Semua terasa berat dan panas, dan Jessie tidak punya kendali atas dirinya sendiri.
Yang terakhir ia ingat hanyalah tangan pria itu yang menahan pinggangnya agar ia tidak tumbang, lalu gelap.
Cahaya pagi yang tajam membangunkan Jessie.
Kepala berdenyut, tubuh terasa lelah dan… sakit di beberapa titik. Ia meraba ranjang, dan tubuhnya membeku.
Kulitnya menyentuh seprai langsung.
Tidak ada kain.
Tidak ada pakaian.
“Tidak… tidak…” Jessie menoleh panik. Sisi ranjang kosong, tapi suara pancuran air terdengar dari kamar mandi.
Ketika pintu terbuka, uap hangat keluar bersama sosok pria tinggi berhanduk. Rambutnya basah, menetes, dan garis luka memanjang di rusuk kirinya terlihat jelas.
Dia bukan Daniel.
“Siapa kamu!?” teriak Jessie dengan suara serak. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”
Pria itu berhenti, menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Semalam… kamu yang menarikku,” katanya pelan.
Jessie merasa wajahnya panas, antara malu, marah, dan takut. “Tolong jangan bercanda! Lihat cincin di jariku! Aku ini wanita yang akan segera menikah.”
Pria itu tidak membalas, hanya melirik gelas sampanye di meja. “Minumanmu dicampur obat. Bukan efek alkohol.”
Jantung Jessie mencelos. Samar-samar ia mengingat panas yang menyiksa tubuhnya semalam.
Berarti…
“Kamu bekerja sama dengan Daniel!?” tuduh Jessie gemetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kemejanya, mengenakannya perlahan, lalu melangkah ke pintu.
“Jawab aku!” Jessie berteriak, suara pecah.
Pria itu berhenti, menoleh sedikit—namun tetap tanpa kata—lalu pergi.
Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Jessie sendirian bersama seprai kusut dan tubuh yang terasa asing.
Getaran ponsel di meja membuatnya terlonjak.
Pesan dari Daniel.
[Kamu tidur nyenyak, calon pengantinku?
Aku lihat ada lelaki keluar dari kamar hotelmu pagi ini. Siapa dia?]Jessie menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.
Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berkata,
“Daniel… apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku? Kamu menjebakku…?”
Jacob berdiri, mengambil ponselnya di dalam saku dan memberikan intruksi pada Andi untuk memperketat penjagaan di kediaman keluarga Wijaya. Ia tahu bahwa perang belum berakhir sepenuhnya. Adrian Smith masih di luar sana, dan pria itu pasti akan mencoba menyelamatkan asetnya—termasuk Arya yang kini menjadi saksi kunci bagi aliran dana ilegal dari A.S. Capital.Malam semakin larut di kediaman Wijaya. Jessie masih terdiam menatap kotak hitam itu, menyadari bahwa kebenaran terkadang jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan yang ia jalani selama ini. Namun, dengan keberadaan Jacob di sisinya, ia tahu bahwa kali ini ia tidak akan lagi menghadapi badai itu sendirian.Jacob menatap Jessie yang masih terpaku, lalu mendekat dan membisikkan sesuatu yang menenangkan di telinganya. "Ini adalah akhir dari penderitaanmu, Jessie. Dan awal dari keadilan untuk ibumu."Sementara itu, setelah diusir dari kediaman Wijaya, Arya kini tengah berdiri di depan sebuah gudang tua di pinggiran pelabuhan yang
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu kediaman Wijaya setelah pengusiran Arya, Kinanti, dan Intan. Para penjaga keamanan yang dibawa Jacob kini berjaga di luar, memberikan privasi yang dibutuhkan bagi tiga orang yang tersisa di dalam ruangan itu. Kakek Bambang duduk di sofa besar dengan napas yang masih terdengar berat. Emosi yang meluap tadi menguras banyak tenaganya yang sudah tidak lagi muda.Jacob berdiri di dekat jendela, memastikan situasi di luar benar-benar kondusif sebelum ia mendekat dan duduk di kursi tunggal di hadapan Kakek Bambang dan Jessie. Ia mengeluarkan sebuah kotak logam berwarna hitam dengan kunci kombinasi yang cukup rumit. Kotak itu tampak tua namun terawat dengan sangat baik."Kakek, Jessie," buka Jacob dengan suara bariton yang lugas. "Aku sudah menceritakan sebagian besar kejadian di Singapura kepada Kakek. Namun, ada satu hal yang baru bisa aku ungkapkan malam ini."Jacob meletakkan kotak itu di atas meja marmer. Jessie menatap kotak milik almar
Malam mulai menyelimuti kota, saat Iring-iringan mobil Jacob memasuki halaman kediaman Wijaya dengan deru mesin yang berat. Begitu pintu mobil terbuka, Jacob turun lebih dulu, lalu ia membantu seorang pria tua dengan setelan batik formal dan tongkat kayu jati untuk berdiri tegak.Pria itu adalah Bambang Wijaya. Kakek kandung Jessie yang selama ini dikabarkan Arya sedang menjalani pengobatan intensif di sebuah sanatorium tertutup di Singapura. ."Masuk," perintah Bambang dengan suara bariton yang masih sangat berwibawa meski usianya sudah senja.Di dalam ruang tamu, Arya sedang tertawa bersama beberapa pengacara dari A.S. Capital dan Daniel. Namun, tawa itu mati seketika saat pintu utama terbuka kasar. Arya berdiri dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak menatap sosok pria tua yang seharusnya masih menjalani pengobatan di luar negeri."Ayah?" suara Arya bergetar hebat ketika melihat ayah mertuanya itu datang.Bambang tidak menjawab sapaan itu. Ia berjalan ke tengah ruangan, seti
Rahang Jacob mengeras, cengkeramannya pada ponsel menguat. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah kegelapan taman.Jacob segera mengetik balasan dengan kecepatan yang menusuk.[Jangan pernah berani menyentuh istriku lagi. Peperangan ini hanya antara kita berdua. Jangan libatkan orang-orang disekitarku, Adrian.]Ponsel di genggaman Jacob bergetar sekali lagi, cahayanya yang terang tampak kontras dengan kegelapan balkon malam itu.[Peperangan ini memang antara kita, Jacob. Tapi bukankah Jessie adalah bagian darimu sekarang? Seluruh duniamu. Nikmati malam terakhirmu dalam ketenangan, karena besok pagi, entah apa yang bisa aku lakukan, kamu pasti bisa menebaknya. Karena kamu yang paling mengenalku.]Jacob tidak membalas lagi. Ia menekan tombol kunci hingga layar ponselnya gelap total. Tatapannya menajam ke arah cakrawala kota yang penuh kerlip lampu, namun pikirannya sedang menyusun barisan pertahanan yang lebih kuat.Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa jauh lebih hang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak