“Lagian, udah gue bilang sama lo, Shell. Lo masih aja kepedean deketin dia,” ucap Bayu malam itu, suaranya setengah tenggelam oleh dentuman musik klub.Shella menopang dagunya malas. Di depannya, segelas minuman nonalkohol dan beberapa camilan tersentuh pun tidak. Sorot matanya kosong.“Karena sikap dia ke gue, Bay,” balas Shella lirih. “Siapa sih yang nggak luluh kalau ada cowok yang perhatian, sopan, dan keliatan tulus ke cewek?”Bayu menghela napas, menoleh ke arah Shella yang jelas tak sedang menikmati suasana. Lampu warna-warni menari di wajahnya, kontras dengan ekspresi patah hati yang tak bisa ia sembunyikan.“Perhatian bukan berarti perasaan, Shell,” katanya lebih pelan, tapi menusuk. “Dan sekarang lo sendiri ngerasain akibatnya.”Musik tetap bergema, riuh dan mengasyikkan—namun malam itu, bagi Shella, semuanya hanya terasa bising. Bayu terkekeh pelan, lalu menenggak minumannya lagi.“Lo ke sini mau happy atau melamun doang?”Shella mendengus kesal, matanya menerawang ke lanta
Last Updated : 2025-12-24 Read more