Hujan turun malam itu tanpa aba-aba.Bukan badai yang menderu, melainkan rintik panjang yang konsisten, membuat atmosfer kampus terasa kian dingin dan sunyi. Nadia duduk di dalam mobil Kevin, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah di atas pangkuan. Wiper bergerak ritmis, menyapu kaca depan berulang-ulang, seolah sedang berusaha membersihkan sesuatu yang tak kasat mata yang terus menghalangi pandangan mereka.Kevin menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya lagi… gemetar hebat.Nadia telah memperhatikannya sejak lima menit yang lalu, dan dadanya terasa kian sesak melihat pemandangan itu.“Kevin,” ucapnya akhirnya. Pelan, namun penuh penekanan. “Berhenti.”Kevin tidak menjawab. Fokusnya seolah terkunci pada aspal basah di depan.“Nepi, Kevin!” ulang Nadia, kali ini ia memutar tubuhnya, menatap Kevin dengan tatapan menuntut.Mobil melambat secara bertahap, lalu menepi dengan kasar di bawah temaram lampu jalan yang berkedip. Mesin tetap menyala, mengeluarkan dengung halus yang kont
Baca selengkapnya