Hujan turun tanpa peringatan.Bukan hujan badai yang menderu, melainkan rintik yang jatuh terlalu rapat, terlalu teratur, seolah langit sedang menahan beban yang jauh lebih masif di balik awan kelabu. Nadia berdiri mematung di bawah kanopi kampus, matanya terpaku pada titik-titik air yang menghantam aspal dan menguap menjadi kabut tipis yang dingin.Dadanya terasa sesak sejak fajar menyapa. Bukan karena rasa lelah, bukan pula karena ketakutan yang biasa ia rasakan. Melainkan karena penantian. Sesuatu yang besar sedang mengintai di tikungan waktu.Kevin berdiri di sampingnya. Satu tangannya terbenam di saku jaket, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel yang tak henti-hentinya bergetar. Ia mengabaikan setiap notifikasi yang masuk.“Kita pulang saja,” ujar Kevin akhirnya, suaranya berat. “Insting gue nggak enak, Nad.” Nadia mengangguk pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derai hujan. “Aku juga.”Namun, baru dua langkah mereka beranjak, dunia mendadak bergeser.Tidak ada ledakan yan
Last Updated : 2026-01-12 Read more