MasukDia punya segalanya: wajah dewa, Porsche di garasi, nama belakangnya bisa beli kampus. Tapi Kevin Aprilio Cathy jatuh cinta pada satu-satunya cewek yang berani tolak dia depan umum. “Jangan ganggu aku lagi.” Nadia Putri Mahendra — anak beasiswa miskin, makan nasi bungkus, naik angkot tiap hari. Dia benci orang kaya. Dia benci pamer. Tapi dia nggak bisa benci Kevin yang rela basah hujan, yang lawan papa sendiri, yang bilang: “Kalau harus pilih antara lo atau harta warisan triliunan, gue pilih lo.” Saat mantan posesif, queen bee kampus, dan rahasia kelam masa lalu mengancam merobek mereka, pertanyaannya bukan “akankah mereka bersama?” tapi “berapa harga yang harus Kevin bayar supaya Nadia tetap jadi miliknya selamanya?” Cinta yang terlalu mahal untuk dilepaskan. TERLALU TAMPAN DAN KAYA by Anju Mulai baca sekarang — siap nangis, salting, teriak “UPDATE WOI” tiap malam. 😭🔥
Lihat lebih banyakKereta melaju membelah pagi yang pucat.Nadia duduk di dekat jendela, dahi menempel pada kaca yang dingin. Kota bergeser pelan di luar sana—gedung-gedung kusam, perumahan padat, hingga papan reklame yang warnanya mulai pudar. Semuanya terasa jauh, seolah ia sedang menonton potongan film tentang hidup orang lain. Ransel di pangkuannya ia peluk erat-erat, bukan karena isinya yang berat, tapi karena benda itu adalah satu-satunya hal yang masih memberinya rasa nyata di tengah dunia yang mulai terasa semu.Begitu ia menjauh dari Kevin, tubuhnya memang terasa lebih ringan secara fisik. Tekanan atmosfer yang biasanya menghimpit paru-parunya seolah menguap.Namun, ringan itu menipu.Detak jantungnya mulai kehilangan ritme. Kadang berdegup terlalu cepat hingga ia sesak napas, kadang melambat seolah lupa cara berdetak. Di sela-sela itu, ada jeda sunyi yang panjang dalam kesadarannya—jenis kesunyian hampa yang membuatnya takut akan dirinya sendiri.“Aku baik-baik saja,” bisiknya, lebih kepada me
Pagi datang tanpa membawa kehangatan.Cahaya matahari yang pucat menyelinap lewat celah tirai kosan, jatuh tepat di wajah Kevin yang masih terlelap di atas kasur. Napasnya tidak lagi terengah, tapi terlalu dangkal—seperti tubuh yang hanya beristirahat karena dipaksa oleh kelelahan ekstrem, bukan karena ketenangan.Nadia duduk di kursi belajar, punggungnya tegak kaku dengan bahu yang tegang. Ia sudah terjaga sejak subuh. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena sebuah pikiran yang terus berputar di kepalanya, menolak untuk berhenti hingga ia mengambil keputusan.Nadia menatap Kevin cukup lama. Ia menghafal setiap detail: helai rambutnya yang berantakan, garis rahangnya yang tegas, hingga bekas luka kecil di alis yang dulu sering ia anggap sebagai bumbu ketampanan Kevin.Kalau aku terus berada di sini...Dadanya mengencang, rasa sesak yang hampir membuatnya sulit bernapas.Dia akan terus menjadi perisai. Dia akan hancur demi melindungiku dari badai yang aku bawa sendiri.Nadia menundu
Hujan turun malam itu tanpa aba-aba.Bukan badai yang menderu, melainkan rintik panjang yang konsisten, membuat atmosfer kampus terasa kian dingin dan sunyi. Nadia duduk di dalam mobil Kevin, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah di atas pangkuan. Wiper bergerak ritmis, menyapu kaca depan berulang-ulang, seolah sedang berusaha membersihkan sesuatu yang tak kasat mata yang terus menghalangi pandangan mereka.Kevin menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya lagi… gemetar hebat.Nadia telah memperhatikannya sejak lima menit yang lalu, dan dadanya terasa kian sesak melihat pemandangan itu.“Kevin,” ucapnya akhirnya. Pelan, namun penuh penekanan. “Berhenti.”Kevin tidak menjawab. Fokusnya seolah terkunci pada aspal basah di depan.“Nepi, Kevin!” ulang Nadia, kali ini ia memutar tubuhnya, menatap Kevin dengan tatapan menuntut.Mobil melambat secara bertahap, lalu menepi dengan kasar di bawah temaram lampu jalan yang berkedip. Mesin tetap menyala, mengeluarkan dengung halus yang kont
Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y
Malam turun tanpa suara.Tidak ada hujan kali ini. Tidak ada angin yang berembus. Kota justru terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang tidak wajar, seperti napas yang tertahan terlalu lama di bawah air. Nadia duduk di tepi ranjang kosnya yang sempit. Lampu kamar sengaja ia matikan; hanya cahaya
Hujan turun tanpa peringatan.Bukan hujan badai yang menderu, melainkan rintik yang jatuh terlalu rapat, terlalu teratur, seolah langit sedang menahan beban yang jauh lebih masif di balik awan kelabu. Nadia berdiri mematung di bawah kanopi kampus, matanya terpaku pada titik-titik air yang menghanta
Pagi tiba dengan langit yang terlalu benderang.Bukan jenis cerah yang menenangkan, melainkan binar yang terasa keliru seperti senyum lebar yang dipaksakan di tengah suasana berkabung. Di balik jendela kosnya, Nadia berdiri mematung. Tirai yang terbuka separuh menyingkap pemandangan jalanan yang m
Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.