Begitu perkataan Sandy selesai, terdengar lagi suara ketukan dari luar kantor.Sekretaris wanita yang seksi dan cantik membawa Ray masuk sambil berkata, "Pak Ardhi, ini orang yang direkomendasikan oleh Pak Hamid. Tadi Bapak menyuruhku membawanya masuk langsung.""Pak Ardhi, salam kenal. Maaf mengganggu." Begitu masuk, aku melihat Ardhi sudah memegang pil yang entah pil apa. Hatiku langsung mencelos.Aku terlambat. Dokter yang dibawa Sandy sudah lebih dulu memeriksanya. Meskipun begitu, aku tidak mungkin mundur begitu saja."Hehe, jadi kamu Ray ya? Benar-benar pria muda yang berbakat.""Nggak ganggu kok. Tunggu sebentar ya, aku minum obat dulu, setelah itu baru kita bicara lebih lanjut."Setelah berkata demikian, Ardhi masuk ke kamar pribadi di belakang kantornya. Aku berdiri di tempat, membuka mulut, tetapi juga tidak enak untuk menghentikannya.Begitu Ardhi pergi, Sandy langsung berhenti berpura-pura dan segera mengejek, "Dasar sampah, bukannya tadi aku sudah suruh kamu pergi? Tuli ya
Baca selengkapnya